Sekilas Info

TAHAP PEMULIHAN

BPBD Pertegas Lagi Stimulan Rumah Rusak Berat Akibat Gempa 50 Juta Rupiah, Sedang 25, Ringan 10

ANTARA/Jimmy Ayal Puluhan Pengungsi mengikuti sosialisasi kegempaan dan psikososial di Dusun Bumbun, Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (22/12/2019).

satumalukuID - Kepala Pelaksana BPBD Maluku, Farida Salampessy, kembali menegaskan besar stimulan untuk korban gempa di Maluku dan Dana Tunggu Hunian (DTH) serta Cash For Work (CFW) atau anggaran pembersihan rumah rusak akibat gempa.

Saat melakukan sosialisasi pada para pengungsi gempa di Negeri Liang, Pulau Ambon, Minggu (22/12/2019), dia menjelaskan saat ini pemerintah pusat telah menyalurkan dana stimulan untuk perbaikan rumah yang rusak berat, sedang, maupun ringan melalui pemerintah daerah terdampak,

"Jadi ini bukan ganti rugi rumah yang roboh tetapi hanya stimulan agar warga dapat membangun atau memperbaiki kembali rumahnya yang rusak," tegasnya.

Setiap rumah rusak berat akan mendapatkan stimulan Rp50 juta, rusak sedang Rp25 juta, dan rusak ringan Rp10 juta, sedangkan penyalurannya secara bertahap.

DTH untuk korban gempa dengan kondisi rumah atau hunian rusak berat Rp500 ribu per bulan, diberikan selama enam bulan agar mereka keluar dari  pengungsian, serta mengontrak rumah untuk ditinggali sementara selagi rumah mereka direnovasi.

Dana CFW Rp50.000 diberikan kepada masyarakat yang bekerja membantu menyingkirkan puing-puing pascagempa selama lima hari.

Namun, Farida mengingatkan para pengungsi serta pemerintah desa untuk segera menyiapkan data diri berupa kartu keluarga dan Kartu Tanda Penduduk (KTP) sebagai syarat utama penyelesaian administrasi para penerima bantuan.

"Kalau belum selesai segera berkoordinasi dengan kepala desa masing-masing sehingga dipercepat, agar rehabilitasi dan renovasi rumah dapat segera dimulai," katanya.

Ia juga mengingatkan warga Liang untuk tidak mudah percaya isu-isu yang beredar dan berkembang tentang akan terjadi gempa dan tsunami besar.

"Jangan percaya isu atau katanya-katanya. Itu berita bohong dan tidak bertanggungjawab untuk membuat kepanikan di masyarakat," demikian Farida Salampessy.

Penulis: Jimmy Ayal
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!