Sekilas Info

TAHAP PEMULIHAN

BPBD Bersama Tim Terkait Sosialisasi Informasi soal Gempa kepada Masyarakat Terdampak di Negeri Liang

ANTARA/Jimmy Ayal Kepala Pelaksana BPBD Maluku Farida Salampessy (berdiri tengah) memberikan sosialisasi kegempaan kepada warga Dusun Bumbun, Desa Liang, Kecamatan Salahutu, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (22/12/2019).

satumalukuID - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Maluku bersama sejumlah instansi teknis terkait melanjutkan sosialisasi kegempaan dan psikososial kepada para pengungsi di Negeri Liang, Kecamatan Salahutu, Pulau Ambon, Kabupaten Maluku Tengah, Minggu (22/12/2019).

Sosialisasi tersebut juga menghadirkan sejumlah peneliti, di antaranya Kepala Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) LIPI Ambon Nugroho Dwi Hananto dan peneliti dari Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, BMKG, serta tokoh agama.

Kepala Pelaksana BPBD Maluku, Farida Salampessy, menjelaskan pihaknya menghadirkan sejumlah pakar dan peneliti berkompeten tentang gempa dari instansi teknis terkait guna memberikan informasi serta pengetahuan kepada warga Negeri Liang yang hingga saat ini masih mengungsi di kawasan ketinggian.

"Kehadiran kami untuk memberikan informasi yang benar tentang kondisi pascagempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019, agar warga dapat mengetahui dengan pasti apa yang terjadi saat ini," katanya.

Dia menandaskan penanganan pascagempa Maluku saat ini telah memasuki tahap pemulihan, terutama dampak psikososial menuju fase rehabilitasi dan rekonstruksi.

Farida mengaku menyadari saat ini warga Liang belum berani kembali ke desanya karena masih trauma dan takut, di samping sesekali masih merasakan guncangan gempa kendati kekuatannya semakin melemah.

"Saya menyadari warga Liang masih takut dan trauma, mengingat tingkat kerusakan bangunan rumah tergolong sangat parah, karena geografis desa berada paling dekat dengan pusat gempa," ujarnya.

Kendati demikian, dia mengingatkan warga untuk mulai berpikir kembali ke rumah masing-masing, terutama yang konstruksinya tahan gempa.

Selain karena rentan berbagai masalah sosial, katanya, tinggal di lokasi pengungsian yang serba terbatas juga dapat menimbulkan masalah sosial baru, terutama terhadap anak-anak.

"Kami tidak memaksakan saudara-saudara untuk segera kembali ke rumah, namun intensitas gempa saat ini semakin mengecil sehingga sebaiknya mulai berpikir untuk kembali," katanya.

Penulis: Jimmy Ayal
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!