Sekilas Info

PENTAHBISAN GEREJA

Sinode GPM Apresiasi Semua Pendukung Pembangunan Gereja Imanuel Ngefuit Kei Besar

Siprianus Yanyaan Ketua MPH GPM Pdt. A.J.S. Werinussa dan Bupati Malra M. Thaher Hanubun saat pentahbisan Gereja Imanuel Jemaat Ngefuit Klasis GPM Kei Besar, Minggu (15/12/2019).

satumalukuID – Warga Gereja Protestan Maluku (GPM) Jemaat Ngefuit Klasis GPM Kei Besar saat ini telah memiliki Gedung gereja representatif yang telah direncanakan sejak tahun 2002 lalu.

Atas terwujudnya Gedung Gereja Imanuel yang baru saja ditahbiskan, Minggu (15/12/2019), Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM Pdt A.J.S. Werinussa mengapresiasi semua pihak yang telah mendukung pembangunan hingga ditahbiskannya gereja tersebut,

"Terima kasih kepada jemaat Ngefuit yang bisa membangun satu gedung gereja bagi kepentingan pelayanan GPM di sini. Terima kasih juga kepada Pemda Malra atas bantuannya sehingga meringankan beban pembangunan gedung gereja ini," kata Werinussa, saat pentahbisan Gereja Imanuel Ngefuit, Minggu.

Ia menyatakan gedung gereja adalah hal yang istimewa bagi jemaat GPM, dan karena itu mereka mau melakukan apa saja untuk pembangunan gereja.

"Kami merasa bahwa jemaat ini cukup tabah dan sabar sehingga menunggu14 tahun baru gedung gereja ini diresmikan dan ditahbiskan," katanya..

Ditegaskan Werinussa, jemaat sudah selesai merampungkan gereja secara fisik, tapi belum selesai membuktikan Imanuel (Tuhan beserta kita) atau dalam bahasa Kei "Duad In Hob".

"Namun, paling tidak gedung gereja baru ini melancarkan tanggung jawab kita sebagai orang-orang beriman dengan hati yang tenang, damai, saling menolong dan saling mendukung seperti diwariskan oleh pendahulu kita," katanya.

Menurut Werinussa, pemberian nama gereja punya harapan tersendiri, dan Imanuel atau "Duad in hob" adalah Tuhan beserta kita (umat).

Ketua Panitia Pembangunan Gereja Imanuel Jan Rahanra menyampaikan, pembangunan gedung gereja baru Ngefuit dilatarbelakangi kondisi gedung gereja lama yakni gereja Yordan jemaat GPM Ngefuit yang bangunannya rusak berat, selain letaknya di tempat yang tinggi sehingga mengganggu lansia (orang tua) untuk beribadah.

Atas dasar tersebut maka jemaat GPM Ngefuit pada sidang jemaat tahun 2002 menetapkan program pembangunan gereja baru, dan selanjutnya dibentuk panitia.

Proses pembangunan gereja baru ini dimulai dengan penetapan lokasi yakni di dataran rendah di Ohoi Ngefuit yang berdekatan dengan laut, maka dimulai dengan penggusuran dan penimbunan serta pendirian talud.

Rancangan bangunan gereja ini berukuran lebar 9 meter, panjang 24 meter, dengan kapasitas ruang ibadah menampung kurang lebih 150 orang. Selain ruang ibadah ada ruang rapat majelis jemaat, ruang ganti, kantor jemaat, serta menara lonceng.

Pembangunan gedung gereja baru ini sendiri mendapat donasi dari berbagai pihak yang berjumlah Rp 904 juta, ditambah bantuan material lokal seperti kerikil, batu, pasir dan besi.

Baca Juga

error: Content is protected !!