Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTOAN

Tradisi Jelang Natal di Ambon, Sinterklaas dan Zwartepiet Keliling Kota dan Pemukiman

FOTO: Novi {intontoan Grup Sinterklaas kelompok anak muda All Stars 69 yang bermarkas di jalan Diponegoro kawasan Urimesing Ambon.

MEMASUKI bulan Desember di Kota Ambon dan sekitarnya pasti semarak dengan suasana dan nuansa natal dimana-mana. Situasi ini sudah menjadi tradisi bagi umat Kristiani setempat.

Kesemarakan itu bukan saja di gereja gereja yang penuh dengan ornamen atau aksesori natal. Namun juga di kampung-kampung dan pemukiman warga yang dipenuhi taman-taman Natal dan "pohon trang" bahkan juga di pinggir jalan atau atas trotoar.

Namun demikian ada satu tradisi lain yang ditunggu banyak anak-anak. Yaitu kedatangan sinterklaas atau santa claus serta zwartepiet atau Piet Hitam dan kawan-kawan.

Tradisi Sinterklaas ini sesuai harinya jatuh pada 5 Desember secara internasional. Namun di kota Ambon dan sekitarnya, kegiatan ini sudah mulai dilaksanakan sejak 1 Desember. Bahkan, kelompok anak muda All Stars 69 yang juga melaksanakan even Sinterklaas sudah diminta untuk mendatangi anak-anak dan ibu-ibu senam di salah satu sanggar sejak 30 November 2019.

Pantauan media ini. Sinterklaas dan kawan-kawannya yang dengan kendaraan roda empat maupun roda dua, bukan saja berkeliling pusat kota dan pemukiman didalam kota, namun juga mendatangi anak-anak di perbukitan dan kampung di luar kota seperti Latuhalat, Amahusu, Benteng, Tawiri, Passo dan lainnya.

Tak sampai disitu saja. Malah Sinterklaas kelompok anak muda All Stars 69 yang bermarkas di jalan Diponegoro kawasan Urimesing pun mendatangi salah satu anak di lokasi pengungsian Negeri Waai kecamatan Salahutu, Maluku Tengah, yang terletak di kaki Gunung Salahutu negeri tersebut.

"Kami dengan sukacita tetap berjalan menjangkau salah satu anak pengungsi itu. Kami disambut anak-anak dengan gembira selama perjalanan. Yah sekaligus hiburan buat mereka," ungkap Ny Elsye Ralahalo PItoy didampingi suaminya Veron Pitoy, Minggu (8/12).

Pantauan media ini terutama di kawasan pusat kota Ambon. Rombongan grup-grup Sinterkaas bukan saja dilakukan oleh AMGPM jemaat, namun juga oleh perkumpulan-perkumpulan anak muda kreatif maupun lembaga sosial lainnya, bahkan komunitas ojek online Gojek pun ada bkin kegiatan ini.

Rombongan Sinterklaas dan kawan-kawan seperti Piet Hitam, badut, joker, peri dan pendukungnya selalu disambut teriakan sukacita oleh anak-anak. Namun tak sedikit pula yang menangis dan berlari ketakutan. Ada pula yang saling berebutan permen atau kacang yang dibagikan Sinterklas dan kawan-kawannya.

Namun demikian. Di tengah suasana tradisi dengan keceriaan maupun tangisan anak-anak tersebut. Ada terjadi pergeseran merayakan hari Sinterklaas di Kota Ambon dan sekitarnya.

Pasalnya, kalau dulu tradisinya itu anak-anak meletakkan rumput dan air didalam suatu wadah atau sepatu dengan secarik kertas permintaan sang anak di bawah kolong tempat tidur, nanti pagi harinya saat bangun anak-anak melihat rumput dan air tidak ada lagi, sudah diganti dengan kado atau pemberian bingkisan oleh Sinterklas sesuai permintaan si anak di dalam suratnya.

"Kawan e, Sinterklas rame di Ambon kah? Maar su seng ada taru rumput dan air lalu tulis surat voor Sinterklas di bawah tempat tidur ya?," tanya Karel Sahulata, warga Ambon yang kini menetap di Jakarta via pesan WhatsApp‎ kepada media ini.

Pergeseran tradisi ini. Memang tak bisa dihindari karena perkembangan jaman, perubahan sosial budaya, ilmu pengetahuan dan juga era nya media sosial dan transparansi. Apapun perubahannya. Tetapi tradisi yang baik harus dilestarikan bagi pertumbuhan dan perkembangan anak-anak. Sedangkan kebiasaan buruk harus dihilangkan.

Selamat ber-Sinterklaas ria. Dan selamat memasuki Adventus kedua bagi umat Kristiani di Kota Ambon dan sekitarnya serta dimana saja. Tuhan memberkati kita. (novi pinontoan)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!