Sekilas Info

KESEHATAN

Tenaga Medis Puskesmas Bula Mogok Kerja, Protes Tunjangan Perbaikan Penghasilan 300 Ribu Rupiah

ANTARA/ Dokumen Warga melintas di depan Puskesmas Bula, kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) yang tutup puluhan tenaga medis yang melakukan aksi mogok kerja menuntut kenaikkan Tunjangan Perbaikan Penghasilan (TPP) yang hanya dibayar sebesar Rp300 ribu per bulan.

satumalukuID – Aksi mogok kerja dilakukan tenaga medis yang bertugas di Puskesmas Perawatan Bula Kabupaten Seram Bagian Timur, Maluku, Santu (7/12/2019). Aksi dilakukan sebagai bentuk protes atas tunjangan perbaikan penghasilan (TPP) yang lebih kecil dibanding yang didapat pegawai pada Dinas Kesehatan setempat.

Para tenaga medis tersebut menggembok pagar puskesmas dan kemudian menempelkan berbagai poster bertuliskan tuntutan di pintu masuk dan pagar puskesmas.

"Aksi mogok ini dilakukan karena kami merasa adanya diskriminasi pembagian TPP antara petugas Puskesmas dan pegawai struktural di Dinas Kesehatan SBT," ujar koordinator aksi, Zainal Rumakefing.

Para tenaga medis berkeberatan diberikan TPP hanya sebesar Rp300 ribu per orang, sedangkan pegawai pada Dinas Kesehatan SBT memperoleh Rp1 juta hingga Rp3 juta sesuai dengan golongan.

Menurut Zainal, seharusnya tenaga medis pada Puskesmas diperhatikan kesejahteraannya, karena merupakan garda terdepan bagi peningkatan pelayanan kesehatan masyarakat di kabupaten tersebut.

Aksi mogok kerja dilakukan tanpa batas waktu hingga ada kejelasan dari Dinas kesehatan maupun Pemkab SBT menyangkut pembagian TPP tersebut.

"Aksi mogok kerja ini tidak hanya dilakukan di Puskesmas Bula, tetapi oleh seluruh petugas medis yang bertugas di 15 Puskesmas yang ada di SBT," katanya

Dalam aksi mogok tersebut, para medis juga menyampaikan empat tuntutan mereka yakni menolak keputusan tim TPP kabupaten SBT, menuntut adanya kesamaan hak dan kewajiban seperti yang diperoleh ASN di lingkup Pemkab SBT dikarenakan beban dan resiko kerja yang tinggi.

Para medis menyatakan tidak akan memberikan pelayanan rawat jalan kepada warga terhitung 7 Desember 2019, dikarenakan pertemuan mereka berdama Kepala Bappeda serta kepala Keuangan dan Aset Daerah, Pemkab SBT sejak setahun lalu, tidak dipenuhi.

Mereka juga menyatakan kekecewaaan terhadap penjelasan yang disampaikan Kepala Bagian Hukum, Pemkab SBT bahwa TPP tidak akan direvisi, dinilai sebagai ejekkan melecehkan profesi para tenaga medis.

Mereka juga berharap pemkab SBT segera memperhatikan aspirasi serta tuntutan penyesuaian hak dan kewajiban terhadap tenaga medis dan ASN lainnya, sehingga tidak berdampak mengganggu aktivitas pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Pewarta : Jimmy Ayal

Penulis: Jimmy Ayal
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!