Sekilas Info

MITIGASI BENCANA

Sejumlah Pakar Bahas Pemahaman Bencana Gempa Bumi dalam Program Wake Up Call di Ambon

Program "wake up call" menghadirkan sembilan pakar kebencanaan yang dilaksanakan di sport Hall Karang Panjang Ambon, Selasa (3/12/2019).

satumalukuID - Sejumlah pakar hadir membahas secara ilmiah bencana gempa bumi dalam program Wake Up Call untuk meningkatkan pemahaman kebencanaan bagi warga Kota Ambon, Selasa (3/12/2019).

Pada sesi pertama, tampil Ferad Puturuhu (Universitas Pattimura), Daryono (BMKG) dan Sri Hidayati (PVMBG) yang membahas tentang kondisi aktual gempa Ambon.

Di sesi kedua menghadirkan pembicara Ivibbe M Radjawane (ITB), Eng Hamzah (ITB) dan Wilham Louhenapessy (Calvin Institute dan Technology) yang membahas potensi gempa bumi dan tsunami Ambon.

Dan sesi ketiga menghadirkan Tommi Heriyanto (BNPB), Harkunti Rahayu (ITB) dan J Sopaheluwakan (UI).

Acara yang berlangsung  di Sport Hall Karang Panjang Ambon ini diikuti pejabat eselon II, III dan IV di lingkup Pemkot Ambon, Pemprov Maluku, eselon II dan III, para raja, lurah kades, RT/RW, kepala sekolah TK, SD, SMP dan SMA, kemudian yang mewakili semua kampus di Ambon.

Selain itu juga para tokoh agama, TNI-Polri, anggota DPRD dan pimpinan parpol, serta instansi vertikal, organisasi masyarakat, selain itu juga menghadirkan perwakilan pengungsi.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy menyatakan program wake up call mengatakan program yang digagas dalam bentuk sosialisasi dan edukasi kebencanaan bertujuan agar warga kota bisa memahami bencana alam terutama gempa dan tsunami, katanya di Ambon.

Ia mengatakan, gempa yang terjadi di Maluku, khususnya Kota Ambon memberikan dampak traumatis, dimana masyarakat khawatir, ditambah lagi beredarnya berita hoaks. "Agar masyarakat mendapatkan informasi yang tepat, Pemkot mengambil inisiatif melakukan sosialisasi dan edukasi kebencanaan di Maluku terutama di Ambon," katanya.

Richard menjelaskan pengetahuan terhadap bencana harus menjadi referensi, sehingga ke depan kegiatan ini akan dilakukan setahun tiga kali, agar warga Kota Ambon mempunyai wawasan tentang bencana.

"Kegiatan ini akan dilaksanakan tiga kali dalam satu tahun sebagai bentuk sosialisasi pengetahuan kepada masyarakat," katanya.

Penulis:

Baca Juga