Sekilas Info

MUSIK PASIFIK

Konferensi Musik Pasifik 2019 Jadi Embrio Pengembangan Musik di Kawasan Rumpun Melanesia

Walikota Ambon saat membuka Konferensi Musik Pasifik, Kamis (28/11/2019) di Ambon.

satumalukuID - Konferensi Musik Pasifik (KMP) 2019 menjadi embrio menuju pengembangan musik di kawasan rumpun Melanesia.

"Penyelenggaraan KMP ini paling tidak menjadi embrio persiapan kita menuju pengembangan musik di wilayah rumpun Melanesia," kata Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy saat pembukaanKMP 2019 di Ambon, Kamis (28/11/2019).

Ia mengharapkan penyelenggaraan KMP tahun ini menjadi pintu masuk membicarakan musik kawasan rumpun Melanesia.

"Maluku, Papua, dan NTT merupakan satu rumpun Melanesia, karena itu melalui kegiatan ini kita mau memperkuat musik kawasan Pasifik menjadi pengakuan dunia yang dimulai dari Ambon," katanya.

Potensi musik Pasifik, kata Richard, harus dimulai dari Kota Ambon sehingga kontribusi dan rekomendasi yang dihasilkan dari kegiatan itu menjadi embrio bagi pengembangan musik pada masa mendatang.

"Saya berharap seluruh peserta yang hadir dapat memberikan ide dan masukan bagi pengembangan musik Pasifik ke depan," ujarnya

Dia mengakui penetapan Ambon sebagai "Kota Musik Dunia" oleh Badan PBB untuk Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan (UNESCO) memberikan tantangan baru bagi pemerintah daerah, pemangku kepentingan, para pegiat komunitas musik, bahkan masyarakat untuk mengemban berbagai tanggung jawab baru.

Ia menyebut tanggung jawab dan pekerjaan semakin berat sejak penetapan UNESCO bagi Ambon sebagai kota kreatif dunia berbasis musik ke-31, kota musik kelima di Asia dan pertama di Asia Tenggara.

"Hal ini sekaligus juga membuktikan Ambon sebagai kota musik punya merek dan dipercayakan menjadi tuan rumah penyelenggaraan berbagai kegiatan tingkat nasional," ujarnya.

Peserta yang telibat dalam KMP terdiri atas komunitas musik, OPD terkait, praktisi musik, sanggar seni, guru musik di Kota Ambon .

Narasumber KMP 2019, yakni Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy, Eduardo Soares Fransisco dari Timor Leste, Gregorius Budi Subandar Direktur PPS Universitas Sanata Dharma Yogyakarta, Johan dari PPS ISI Yogyakarta, Elson Umbu Riada dari Nusa Tenggara Timur, Markus Rumbino dari Papua, Carlos Elias Horhorouw (Tahuri Hutumuri) dan Direktur AMO Ronny Loppies.

Baca Juga