Sekilas Info

AMBON CITY OF MUSIC

Terinspirasi Branding Ambon Kota Musik Dunia, Enda Ungu Mimpi Ciptakan Manado Kota Seribu Musisi

Enda Ungu, salah satu musisi yang digadang-gadang maju dalam pemilihan kepala daerah di Kota Manado pada Pilkada 2020 mendatang.

satumalukuID – Kabar terpilihnya Kota Ambon sebagai Kota Kreatif Berbasis Musik oleh UNESCO atau Ambon Kota Musik Dunia, ternyata sudah merebak di masyarakat Indonesia.

Di Manado, Sulawesi Utara, kabar itu sempat menjadi bahasan salah satu musisi papan atas Indonesia Enda Ungu yang sedang digadang-gadang maju sebagai Walikota pada pemilihan kepala daerah tahun 2020 mendatang.

Enda Ungu adalah sahabat karib Pasha Ungu, wakil walikota Palu yang sedang mempersiapkan diri maju menjadi Calon Gubernur Sulawesi Tengah. Keduanya pernah sama-sama hidup susah ketika pertamakali merantau di Jakarta dan berhasil meraih kesuksesan lewat group band Ungu.

Dalam percakapan di channel youtube Bos Chendol yang diposting 8 Oktober 2019 lalu, Enda yang memiliki nama lahir Franco Wellyiat Medjaya Kusumah mengaku dirinya sangat mencintai Kota Manado, karena lahir hingga kuliah di Manado. Bahkan dia berencana untuk menghabiskan masa pensiun di kota kelahirannya itu. Makanya, kalau ada dukungan kuat dari masyarakat, dia memang berniat maju sebagai kepala daerah di Manado.

“Terserah walikota atau wakil walikota. Tapi sekarang mimpinya jadi walikota dulu. Nanti kalo ternyata jadi calon wakil walikota tidak masalah,” ujarnya.

Yang menarik, saat dia mulai menyinggung visi misinya. Dia lantas menyebut  Manado harus punya branding yang bisa menjual. Kalau saat ini, pemerintah kota Manado mem-branding kotanya sebagai smart city dan pariwisata. Itu bagus. Tapi tidak spesifik karena kota-kota lain di Indonesia juga mem-branding hal yang sama.

Lantas Enda membandingkan dengan Kota Ambon yang sudah berhasil mem-branding kotanya sebagai Kota Musik Dunia. “Itu bagus. Kalau perlu kita harus buat branding Manado Kota 1000 Musisi, walau sebenarnya jumlah musisi di Manado lebih dari seribu orang,” ungkapnya.

Menurut Enda, budaya musik sudah lama menyatu dalam diri warga Kota Manado. Dia mencontohkan, sejak anak-anak, mereka sudah terbiasa menyanyi saat ikut sekolah minggu. Kemudian, warga muslim Manado selalu memainkan rebana menyanyi keliling kampung saat Ramadan.

“Jadi kalo bilang musik, kita orang Manado ini luar biasa. Bahkan sudah mengerti nada musik sejak lahir,” timpalnya.

Mimpi Enda, dengan branding Manado Kota Seribu Musisi, akan banyak konser-konser musik dilaksanakan di Manado sehingga menggairahkan industri ekonomi kreatif.

“Sekarang ini saja sudah ada anak-anak Manado yang produksi lagu di Manado dan berhasil menembus musik nasional. Itu artinya kita semua punya bakat dan kemampuan tidak kalah dengan musisi di Jakarta,” ungkapnya.

Enda juga menegaskan dengan era informasi dan teknologi yang canggih sekarang ini, para pelaku industri kreatif tak perlu lagi merantau ke Jakarta seperti yang dia dan Pasha Ungu lakukan dulu. Cukup berkreasi di kota tempat tinggal sekarang menghasilkan musik yang menarik, kemudian menggunakan berbagai fasilitas sosial media yang ada, maka akan bisa menghasilkan uang dan menembus sampai ke label-label musik mayor di Jakarta.

Dia lantas membandingkan bagaimana industri musik Korea yang tumbuh saat ini menyaingi industri music Amerika. Artis-artis Korea tak perlu merantau ke Amerika atau Eropa dulu, tapi dengan memproduksi music dari negeri mereka, miliaran orang di bumi bisa menyaksikan karya mereka.

“Itulah yang harus kita lakukan nanti dimana industri musik daerah tumbuh di-support pemerintah untuk kemudian menghasilkan musisi yang mendunia,” timpalnya lagi.

Penulis: Petra Josua
Editor:Redaksi

Baca Juga