Sekilas Info

KREDIT PERBANKAN

Kredit untuk Kebutuhan Rumah Tangga, Handphone dan Furniture Dominasi Kredit Perbankan di Maluku

satumalukuID – Kredit konsumtif mendominasi dan menjadi motor penggerak kinerja industri perbankan di Maluku. Kredit konsumtif adalah kredit yang tujuannya digunakan untuk kegiatan konsumsi misalnya kredit pembelian mobil, sekolah, peralatan rumah tangga, pembelian handphone dan juga furniture.

"Tercatat triwulan III  2019 portfolio kredit konsumtif, sektor rumah tangga mencapai 65, 82 persen. Sedangkan sektor perdagangan besar dan eceran, sektor konstruksi mengikuti di posisi selanjutnya dengan pangsa pasar masing-masing sebesar 19,86 persen dan 3,92 persen dari total kredit, kata Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) provinsi Maluku Bambang Hermanto, Kamis (21/11/2019).

Ia mengatakan, sepanjang triwulan III 2019 perbankan di provinsi Maluku menunjukkan kinerja keuangan yang positif.

Perbankan berhasil mencatatkan pertumbuhan kredit secara year on year (yoy) sebesar Rp1,62 triliun atau naik 13,40 persen, dari Rp12, 11 triliun menjadi Rp13,73 triliun.

Pertumbuhan tersebut katanya, sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan kredit triwulan UU 2019 yang tercatat 13,45 persen (yoy), tetapi lebih itnggi dari realisasi kredit nasional yang tumbuh sebesar 7,93 persen (yoy).

Bambang mengakui, beberapa sektor ekonomi produktif mengalami percepatan pertumbuhan kredit dibanding triwulan sebelumnya yakni sektor real estate, usaha persewaan dan jasa perusahaan, dari sebesar Rp42,96 miliar atau 67,04 persen (yoy).

Pada posisi triwulan II 2019 menjadi sebesar Rp60,99 miliar atau 85,52 persen (yoy).

Pada triwulan III 2019, sektor pertanian, perburuan dan kehutanan dari sebesar Rp26, 04 miliar atau 17,67 persen (yoy), menjadi sebesar Rp34,59 miliar atau 22,97 persen (yoy).

Dan sektor perikanan dari sebesar Rp29,42 miliar atau 35,75 persen (yoy) menjadi sebesar Rp34,15 miliar atau 39, 58 persen (yoy).

Ditambahkannya, berdasarkan data triwulan II 2019, perbankan mampu menjaga kualitas kredit bermasalah pada level yang rendah, tercermin dari rasio kualitas kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL) perbankan sebesar 1,36 persen, sama dengan bulan sebelumnya.

Kondisi tersebut terhitung masih jauh dibawah NPL nasional yang tercatat sebesar 2,74 persen, dan NPL indikatif nasional yang maksimal sebesar 5 persen.

Baca Juga

error: Content is protected !!