Sekilas Info

MITIGASI BENCANA

Warga Kecamatan Pulau-Pulau Aru Dilatih Metode Pembelajaran Kreatif tentang Evakuasi Mandiri

Anak-anak dan warga Desa Durjela dan Wangel, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru memperagakan gerakan mitigasi praktis saat mengikuti simulasi gempa dan tsunami, Minggu (17/11/2019).

satumalukuID - Direktorat Kesiapsiagaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengajarkan metode baru pembelajaran evakuasi mandiri untuk warga Desa Durjela dan Wangel, Kecamatan Pulau-Pulau Aru, Kabupaten Kepulauan Aru.

"Metode pembelajaran evakuasi mandiri dilakukan sambil bernyanyi dan memperagakan beberapa gerakan mitigasi praktis, seperti menutup kepala dan leher belakang, merunduk dan melindungi diri dengan kursi sembari bersiap untuk segera keluar dari ruangan," kata Kasubdit Peringatan Dini Direktorat Kesiapsiagaan BNPB Abdul Muhari dikonfirmasi di Ambon, Senin (18/11/2019).

Abdul Muhari yang berada di Dobo, Ibu Kota kabupaten Kepulauan Aru, sejak Sabtu (16/11) itu, mengatakan metode pembelajaran sosialisasi evakuasi mandiri dengan lagu yang dibawakan dengan suasana riang, bisa membangkitkan perasaan senang dan gembira, sehingga materi yang diberikan dapat dengan mudah dipahami dan diingat masyarakat.

Hal itu, katanya, juga akan mencegah ketakutan atau kecemasan berlebihan yang berujung pada kepanikan ketika bencana terjadi.

Pelajaran yang dilanjutkan dengan simulasi  pada Minggu (17/11) itu, diikuti 109 warga Desa Durjela dan 124 warga Desa Wangel, serta dihadiri Bupati Kepulauan Aru Johan Gonga.

Dia menjelaskan metode tersebut telah diterapkan di Jepang, di mana kegiatan evakuasi mandiri terbukti efektif untuk menghindari kepanikan yang mengakibatkan kekacauan ketika terjadi gempa dan tsunami.

"Cara ini menjadi lebih mudah efektif dipahami sehingga memudahkan seluruh komponen masyarakat mengevakuasi diri secara mandiri dengan aman dan terkendali," katanya.

Selain melakukan evakuasi mandiri dengan metode yang menyenangkan, warga juga mengikuti penilaian kondisi psikologis masyarakat dalam evakuasi dengan konsep "Stamp Rally Exercise".

Dalam metode itu, warga diminta memberi respons terhadap pertanyaan yang dilampirkan dalam selembar kertas ketika akan, sedang, dan setelah evakuasi mandiri jika terjadi bencana.

"Warga diwajibkan menjawab pertanyaan yang disediakan. Tidak mutlak jawabannya benar atau salah, tetapi tergantung pemahaman mereka," ujarnya.

Jawaban masing-masing warga kemudian diberi stempel oleh tim penilai sesuai hasil jawaban mereka. Terdapat tiga warna stempel, yakni merah, hijau, dan biru yang menunjukkan indikator untuk menentukan pola pendampingan yang dibutuhkan masyarakat.

Apabila banyak warga yang mendapatkan stempel warna merah, katanya, maka yang bersangkutan dinilai sudah memiliki kapasitas dan inisiatif yang tinggi untuk melakukan evakuasi mandiri, tanpa tergantung dari pemerintah atau masyarakat sekitarnya. Stempel merah merupakan indikator "Self Help" yang mana warga tersebut sudah bisa menolong dirinya sendiri.

Tipe kedua, yakni yang mendapatkan stempel hijau atau termasuk dalam kategori "Mutual Help". Warga yang masuk kategori itu karena lebih banyak mengikuti mayoritas atau akan bergerak sesuai kecenderungan yang dilakukan masyarakat terbanyak, meski sebenarnya yang bersangkutan sudah tahu harus ke mana dan harus berbuat apa saat terjadi bencana.

Untuk mereka yang menerima stempel biru termasuk kategori "Official Help". Warga yang termasuk kategori itu ialah mereka yang benar-benar pasif meski sudah ada arahan atau informasi dari pihak berwenang dan akurat ditambah suara mayoritas yang sudah cukup untuk meyakinkan.

"Warga yang termasuk tipe ini yang masih membutuhkan bantuan khusus dari pemerintah maupun aparat lainnya saat terjadi bencana gempa dan tsunami," katanya.

Dari tiga jenis stempel tersebut, kata dia, maka dapat ditarik kesimpulan tentang bagaimana intervensi pemerintah dalam meningkatkan kesiapsiagaan sesuai dengan kriteria dan tipe masyarakatnya.

Pihaknya juga mengajarkan metode lain, yakni mengajak masyarakat mengenali wilayahnya melalui gambar peta mandiri.

"Pada fase ini masyarakat bebas memilih jalur rute evakuasi yang dinilai lebih aman, mudah, dan cepat mencapai titik kumpul sesuai pengetahuan mereka tentang wilayah mereka sendiri," ujarnya.

Warga diberikan kebebasan secara kelompok untuk menentukan jalur dan kemudian memaparkan dan mencoba secara langsung jalur tersebut dengan didampingi tim penilai untuk melihat sisi teknis hingga jangka waktunya.

"Dengan metode ini maka warga bisa melihat dan memahami dengan sendirinya langkah apa yang harus diambil ketika terjadi bencana," katanya.

Dia berharap, berbagai metode pembelajaran tersebut dapat membangun ketahanan serta meningkatkan kesiapsiagaan warga dalam menghadapi bencana.

Penulis: Jimmy Ayal
Editor:Redaksi

Baca Juga