Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTOAN

Jacky Manuputty “Provokator Damai’ yang Kini Jadi Sekum PGI‎, Setelah 20 Tahun Pendeta GPM Eksis Lagi

NAMANYA selama ini lebih dikenal sebagai aktivis sosial kemasyarakatan lintas agama dan perdamaian.‎ Dia sudah sering tampil di berbagai forum nasional maupun internasional serta dalog di beberapa program televisi swasta nasional.

Bersama jaringan aktifisnya, mereka pun mempopulerkan program penanganan konflik untuk perdamaian yang disebut aksi "provokator damai". Gerakan tersebut untuk melawan para provokator yang suka "bermain" guna mengeruhkan suasana.

Dialah Pendeta (Pdt) Jacklevyn Frits Manuputty STh MA. Laki laki kelahiran  Haruku Maluku Tengah  20 Juli 1965 ini akrab disapa Pendeta Jacky‎. ‎Ia menamatkan pendidikan theologia nya di STT Jakarta dan Sekolah Tinggi Filsafat Driyakarya Jakarta.

Pendeta Jacky kemudian mengabdi sebagai pelayan Tuhan di lingkungan Sinode Gereja Protestan Maluku (GPM) pada tahun 1997 hingga menduduki jabatan Direktur Badan Penelitian dan Pengembangan. (Balitbang) GPM sampai tahun 2017.

Bahkan pada tahun 2007-2011, ia sempat melayani di luar negeri sebagai pendeta pada Gereja Kristen Protestan Indonesia, New York City, USA, sambil melanjutkan pendidikan di Hartford Seminary, CT.

Dengan seabrek aktifitas dan berorganisasi baik secara lokal, nasional maupun internasional, pendeta Jacky dikenal luas berbagai kalangan di luar lingkungan Sinode GPM, terutama di komunitas aktifis LSM lintas agama dan perdamaian.

‎ Apalagi belakangan ia mendapat kepercayaan dari pemerintah pusat pada tahun 2017 yakni diangkat sebagai Asisten Utusan Khusus Presiden Untuk Dialog dan Kerjasama Antaragama dan Antarperadaban yang secara khusus membidangi hubungan antaragama.

Namun demikian. Tepatnya di kota Waingapu, Nusa Tenggara Timur. Siapa sangka si "provokator damai" ini pun tidak menduga jalan karier dalam profesinya sebagai pendeta mencapai puncak di Sidang Raya (SR) Persekutuan Gereja-Gereja‎ di Indonesia (PGI) XVII yang dilaksanakan pada 8-13 November 2019.

Pasalnya, secara aklamasi pendeta Jacky Manuputty dari Sinode GPM terpilih sebagai Sekretaris Umum (Sekum) PGI periode 2019-2024. Tanpa ada pengajuan mencalonkan diri untuk bersaing dengan calon-calon  lainnya.

Ia dipilih sebagai Sekum PGI mendamping Ketua Umum (Ketum) terpilih yakni Pdt Gomar Gultom dari Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) untuk masa lima tahun ke depan.

"Dibilang seng sangka, memang iya begitu. Karena beta tidak punya keinginan untuk bersaing di posisi Sekum. Namun mengejutkan ketika terima informasi dari panitia nominasi bahwa beta ditetapkan secara aklamasi. Ini suatu kebanggaan dan kehormatan buat beta secara pribadi maupun GPM secara kelembagaan," ungkap pendeta Jacky yang dihubungi via telepon seluler dengan dialek Ambon, Sabtu (16/11).

Suami dari Louise Maspaitella ini, menyatakan, kepemimpinan di struktur PGI ini bersifat kolegial, kebersamaan. Karena itu, ibarat PGI adalah bahtera, maka peralihan kepengurusan tersebut bisa dianalogikan hanyalah pergantian kru kapal saja dalam mengarungi lautan pelayanan umat

"Analoginya begini. Ibarat Bahtera dalam mengarungi lautan. Maka proses kepengurusan baru ini, hanya pergantian kapten kapal dan kru nya. Tukar ganti tugas saja istilahnya. Sebab, bahtera yang dimaksud tetap mengarungi lautan yang sama. Yaitu pelayanan kepada umat Kristiani di Indonesia yang menjadi medan pergumulan kita bersama dalam proses berbangsa dan bernegara untuk keberagaman Indonesia," jelas pendeta

Jacky yang meraih gelar S2 nya di Hartford Seminary, Hartford Connecticut USA dalam konsentrasi studi program Hubungan Islam dan Kristen (Muslim-Christian Relationship).

Peraih beberapa penghargaan kerja-kerja perdamaian dan kemanusiaan serta lintas agama ini, mengakui keterpilihannya juga mengembalikan eksisten GPM dalam percaturan gerejawi di tingkat nasional. Pasalnya, sudah puluhan tahun GPM atau putra Maluku tidak menduduki posisi puncak di struktur PGI.

"Secara pribadi beta bersyukur dan dalam konteks kelembagaan gerejawi, rasa syukur ini bercampur kebanggaan karena pengakuan akan eksistensi tokoh GPM kembali lagi setelah puluhan tahun tidak menduduki posisi penting di kepengurusan PGI," tutur pendeta Jacky.

Memang harus diakui. Dalam struktur kepemimpinan Dewan Gereja Indonesia (DGI) yang kemudian terjadi kesepakatan keesaan gerejawi saat Sidang Raya DGI tahun 1984 di Kota Ambon sehingga lahirlah PGI, maka kehadiran tokoh-tokoh GPM di struktur PGI sangat diperhitungkan untuk menduduki posisi penting di struktur kepengurusan. Misalnya saja ada yang menjabat sebagai Sekretaris Umum dan Wakil Ketua Umum di bidangnya masing-masing.

Namun belakangan sekitar 20 tahun lebih, kursi Sekretaris Umum PGI sudah jarang ditempati putra Maluku atau pun oleh orang dari GPM.‎ "Terakhir itu untuk jabatan Sekum PGI dari unsur GPM adalah pak Joseph Pattiasina sekitar duapuluh tahun lebih lalu," ujar pendeta Jacky.

Untuk diketahui. Putra. Maluku yang pernah menjabat ketua umum DGI yang kemudian berubah menjadi PGI hanyalah Prof Dr Latuihamallo. Kemudian pada posisi Sekum pernah diduduki oleh Pdt Marantika dan Pdt J. Pattiasina. Selanjutnya untuk posisi Wakil Ketua Umum ada Pdt Rajawane dan Pdt Ny Etha Hendriks.

Akhirnya selamat berkarya dan melayani umat Kristiani di Indonesia jua buat sang "provokator damai", pendeta Jacky Manuputty. Tuhan Yesus memberkati selalu tugas dan pengabdianmu untuk beraktifitas di ladang dan lautan pelayanan baru. (novi pinontoan)

Penulis:

Baca Juga