Sekilas Info

PENGUNGSI DAMPAK GEMPA

Trauma, Pengungsi Dampak Gempa di Provinsi Maluku Masih Takut Pulang ke Rumah

Ilustrasi anak-anak korban gempa di lokasi pengungsian

satumalukuID - Para pengungsi dampak guncangan gempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019, masih takut untuk kembali ke rumah mereka karena khawatir dengan gempa-gempa susulan yang terus terjadi hingga hari ini.

"Kemarin teman-teman berdiskusi dengan pengungsi, mereka bilang belum bisa memastikan kapan akan pulang ke rumah karena gempa susulan masih terjadi," kata Sekretaris PMI Maluku Herry Latuheru di Ambon, Kamis (14/11/2019).

Berdasarkan data dari Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), pascagempa tektonik magnitudo 6,5 pada 26 September 2019, gempa susulan yang terjadi sudah lebih dari 2.000 kali.

Kendati sebagian besar gempa susulan berskala kecil dan berada di bawah magnitudo 6,5, tercatat ada beberapa gempa susulan dengan magnitudo cukup besar, seperti gempa magnitudo 5,2 pada 10 Oktober 2019 dan gempa magnitudo 5,1 pada 12 November 2019.

Hal inilah yang dikhawatirkan oleh pengungsi, adanya gempa susulan dengan magnitudo cukup besar yang bisa tiba-tiba saja terjadi.

Herry mengatakan saat berdiskusi dengan pengungsi di sejumlah lokasi pengungsian, mereka berkeinginan untuk pulang ke rumah masing-masing, tapi masih khawatir dengan gempa-gempa susulan yang terus terjadi hingga hari ini.

Dengan kondisi potensi gempa susulan yang belum diketahui kapan akan berakhir, para pengungsi memutuskan untuk tetap bertahan di lokasi pengungsian hingga waktu yang tidak ditentukan.

"Mereka bilang bisa saja pulang tapi tidak tahu kapan gempa ini selesai, mereka pulang ke rumah untuk benahi rumah dengan kondisi yang sekarang ini pun, mereka takut bisa menjadi korban juga," ujar Herry.

Dikatakannya lagi, sebagian pengungsi yang sebelumnya sudah pulang ke rumah, kini kembali lagi lokasi pengungsian setelah gempa magnitudo 5,1 mengguncang pada Selasa (12/11/2019) malam, sekitar pukul 19.10.42 WIT.

"Pemerintah daerah mau mereka cepat pulang, mereka juga mau karena siapa juga yang mau berlama-lama hidup di pengungsian, tapi masyarakat tidak bisa memastikan kapan mereka akan pulang," ujar Herry.

TRAUMA 

Terpisah, dilaporkan, warga desa-desa pesisir di Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah masih enggan tidur malam di rumah, karena khawatir adanya gempa susulan seperti yang terjadi pada Selasa (12/11/2019) malam.

Sebagian besar warga di Leihitu lebih memilih tidur di kawasan dataran tinggi saat malam hari, dikarenakan masih khawatir dengan gempa-gempa susulan yang bisa tiba-tiba saja terjadi.

Ny Nina Hatuina (40), warga Desa Seith misalnya. Ia mengaku masih khawatir dengan gempa susulan yang masih terus terjadi hingga kini.

"Siangnya kami di rumah, tapi kalau malam hari kami mengungsi ke atas, supaya bisa tidur dengan tenang, walaupun hanya dengan tenda," katanya.

Ia mengatakan pascagempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019 hingga kini masih banyak warga di desanya yang mengungsi ke area perbukitan di belakang kampung.

Kendati demikian, beberapa hari sesudah gempa susulan magnitudo 5,2 pada 10 Oktober 2019, Nina dan keluarga sudah memutuskan untuk tidak mengungsi lagi.

Pasca gempa magnitudo 5,1 mengguncang pada 12 November 2019 sekitar pukul 19.10.42 WIT, mereka memutuskan untuk kembali mengungsi saat malam hari.

"Kami masih khawatir karena gempa susulan belum berakhir dan bisa tiba-tiba saja terjadi. Rasanya tidak tenang, Selasa malam kemarin ada gempa, magrib tadi juga ada gempa beberapa kali," ucap Nina.

Lain halnya dengan Nina. Ny Ema Pailokol (33), warga Desa Hila mengaku anaknya yang berusia tiga tahun masih trauma dengan guncangan gempa, sehingga selalu menangis setiap kali diminta untuk tidur malam di rumah.

Saat gempa magnitudo 5,1 terjadi, Ema yang saat itu sedang berada di rumah salah seorang kerabat, serentak kaget karena anaknya menangis kencang sebab panik guncangan gempa.

Hingga saat ini, Ema dan keluarga menghabiskan malam mereka di kawasan dataran tinggi Parangsana.

"Tadi kan ada gempa juga. Anak saya masih trauma, saya bilang malam ini kita tidur di rumah saja, dia langsung menangis tidak mau, katanya nanti ada angin bergoyang, dia menyebut gempa seperti itu," ujar Ema.

Penulis: Shariva Alaidrus
Editor:Redaksi

Baca Juga