Sekilas Info

GEMPA BERUNTUN

Pulau Ambon, Haruku, dan Kairatu Diguncang Enam Kali Gempa, Warga Takut Pulang dan Balik Mengungsi

ANTARA/Shariva Alaidrus Lokasi terdampak guncangan gempa tektonik Magnitudo 6,5 pada 26 September 2019, di Dusun Waihula, Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah.

satumalukuID - Pulau Ambon, Pulau Haruku, Kabupaten Maluku Tengah serta Kairatu, Pulau Seram,Kabupaten Seram Bagian Barat, Maluku sejak Kamis, (14/11) dinihari hingga pukul 18:59 WIT telah digucang gempa tektonik sebanyak enam kali.

"Gempa susulan ini terus berlangsung dan sesuai data yang dirilis pihak BMKG sudah terjadi enam kali hingga malam ini," kata Novi Salmon, salah satu warga di Ambon, Kamis malam.

Gempa bumi tektonik ini memiliki kekuatan bervariasi, baik yang terjadi di darat Pulau Ambon maupun di laut namun merupakan jenis gempa dangkal karena kedalamannya hanya di kisaran 10 kilo meter.

Kemudian pukul 13:58:25 WIT terjadi gempa susulan bermagnitudo 2,8 dan dirasakan II MMI di daerah Passo, Kecamatan Baguala (Kota Ambon) dan sekitarnya karena pusat gempanya di darat 18 Km timur laut Ambon pada posisi 3,55 LS 128,26 BT.

Lebih dari lima jam kemudian terjadi lagi gempa susulan magnitudo 4,3 pada pukul 18:15:21 WIT yang dirasakan warga Passo dan Tulehu sebesar III MMI, lalu berlanjut pada pukul 18:26:25 terjadi gempa susulan magnitudo 3.3.

Untuk gempa magnitudo 4,3 ini berada pada lokasi 3,58 Lintang Selatan - 128.34 Bujur Timur dengan kedalaman 10 Km yang berjarak 22 Km timur laut Ambon dan 26 Km selatan Kairatu (SBB) pada kedalaman 10 Km.

Hanya dalam hitungan menit, terjadi lagi gempa bumi tektonik susulan magnitudo 2,9 pada pukul 18:26:53 WIT dan berlanjut pada pukul 18:59:20 WIT menyusul gempa magnitudo 3,6 yang guncangannya dirasakan warga Ambon, Tulehu, dan Haruku sebesar II MMI.

Adanya Gempa tektonik beruntun menyebabkan warga baik di kota Ambon maupun Pulau Ambon kembali mengungsi.

Gempa tektonik beruntun mengguncang yang diawali magnitudo 5,1 pada Selasa malam, pukul 19.10 WIT sehingga ketika terjadi gempa meski dengan magnitudo lebih kecil, warga masih teap trauma.

Kamis malam,  warga mengungsi dengan berjalan kaki, memanfaatkan sepeda motor maupun mobil, baik pribadi maupun angkot ke lokasi ketinggian. Pengungsi bergegas ke tenda-tenda yang telah dibangun sebelumnya pascagempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019.

Ada juga yang mengungsi ke rumah sanak keluarga mereka ke lokasi ketinggian seperti Karang Panjang, Kudamati , Kayu Putih, Halong, Lateri , Benteng Karang dan Taeno.

Apalagi gempa tektonik beruntun mengguncang yang diawali magnitudo 5,1 pada Selasa malam, pukul 19.10 WIT sehingga warga masih trauma.

Kondisi ini pun dipengaruhi sejumlah gempa susulan pada Rabu(14/11) sehingga warga Kota maupun Pulau Ambon lebih memilih mengungsi karena khawatir dinding rumah retak karena guncangan hingga saat ini telah lebih dari 2.100 kali.

"Beta dan keluarga biasanya mengungsi ke rumah keluarga saat menjelang malam hingga pagi hari di Karang Panjang kecamatan Sirimau Kota Ambon," ujar warga Mardika Frans.

Sedangkan, warga desa Passo, kecamatan Baguala, Steven mengatakan dirinya dan keluarga terpaksa mengungsi di tenda karena dinding rumah retak - retak, sehingga khawatir roboh.

Baca Juga