Sekilas Info

GEMPA AMBON

Hingga Rabu Pukul 23.00 WIT Gempa Beruntun Masih Guncang Ambon; Magnitudo Berkisar 2.8 Hingga 3.2

satumalukuID – Rangkain gempa masih saja dirasakan di Kota Ambon dan sekitarnya. Hingga Rabu pukul 23.00 WIT, data BMKG menunjukkan sedikitnya terjadi enam kali gempa dengan magnitude berkisar antara 2.8 hingga 3.2.

Gempa Rabu pagi dimulai pukul 10.35.40 WIT pada 3.59 LS dan 128.28 BT dengan magnitude 3.2. Pusat gempa berada di darat 16 kilometer Timur Laut Ambon dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa kedua terjadi siang hari pukul 14.11.55 WIT dengan magnitude 3.1 di 3.59 LS 128.29 BT. Pusat gempa berada di darat 17 kilometer Timur Laut Ambon pada kedalaman 10 kilometer.

Menyusul gempa ketiga pada sore hari pukul 16.56.08 WIT di posisi 3.56 LS 128.23 BT. Pusat gempa di darat 16 kilometer utara Ambon dengan kedalaman 10 kilometer.

Gempa keempat terjadi pada malam hari pukul 20.07.31 WIT magnitude 2.8 di arah 3.56 LS 128,5 BT. Pusat gempa berada di darat 17 kilometer timur laut Ambon.

Gempa kali kelima yang dirasakan juga pada malam hari pukul 20.33.10 WIB di arah 3.57 LS 128.25 BT dengan pusat gempa di darat 16 kilometer timur laut Ambon dan kedalaman 10 kilometer.

Terakhir, gempa dirasakan terjadi malam hari pada pukul 23.00.47 WIT  lokasi 3.56 LS-128.25 BT (17 km Timurlaut Ambon, 27 km Baratdaya Kairatu-SBB. Adapun kedalaman gempa 10 km.

Sementara itu, Pusat Penelitian Laut Dalam (P2LD) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) menyatakan pasca gempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019, magnitudo gempa susulan bervariasi disebabkan oleh pergesekan bidang patahan mencari posisi kesetimbangan.

"Magnitudonya naik-turun sejak gempa pertama 6,5 pada 26 September 2019, tapi magnitudo gempa susulan lebih kecil dari gempa pertama. Gempa semalam magnitudo 5,1 masih runutan aftershock-nya," kata peneliti bidang Geofisika P2LD LIPI Rian Amukti di Ambon, Rabu (13/11/2019).

Berdasarkan data Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), sejak gempa tektonik magnitudo 6,5 pada 26 September 2019 telah terjadi llebih darii 2.140 gempa susulan.

Magnitudo gempa susulan atau aftershock bervariasi, mulai dari 5,6 pada 26 September 2019, kemudian turun menjadi 4,00 dan terus turun, tapi kemudian naik lagi dengan magnitudo 5,2 pada 10 Oktober 2019.

Gempa tektonik susulan dengan magnitudo yang terbilang besar, yakni 5,1 kembali terjadi pada 12 November 2019, sekitar 19.10 WIT, kemudian disusul empat gempa dengan magnitudo yang lebih kecil.

Menurut Rian, naik-turunnya magnitudo gempa susulan merupakan efek dari pergesekan bidang patahan yang menjadi sumber gempa saat mencari posisi setimbang.

Kekuatan energi yang dilepaskan oleh gempa susulan tidak akan melebihi gempa pertama magnitudo 6,5. Semakin banyak gempa susulan, kata dia, maka bidang patahan akan semakin stabil.

"Ketika magnitudonya turun bidang patahannya sedang mengumpulkan energi, setelah itu naik sedikit lalu turun lagi, hingga nanti posisinya stabil, tapi saat stabil itu dia mengumpulkan energi baru untuk dirilis," ujarnya.

Ia mengatakan, saat ini teknologi yang digunakan untuk mendeteksi gempa hanya seismometer, yang hanya bisa merekam adanya gempa ketika peristiwa tersebut sudah terjadi.

Karena itu, sama halnya dengan gempa pertama, kapan gempa susulan akan terjadi dan seberapa banyak jumlahnya, tidak bisa diprediksi lebih awal.

"Kalau yang sekarang sudah hampir kelihatan polanya, kemudian bentuk bidang rupturenya utara-selatan. Kalau kita lihat peta BMKG, distribusi gempanya sedikit ke arah utara-selatan, lebar memang bidang rupturenya," ucap Rian.

Dikatakannya lagi, gempa magnitudo 5,1 yang terjadi pada 12 November 2019 meskipun sangat terasa karena terjadi pada kedalaman 10 kilometer, masih termasuk aman, karena guncangannya tidak lebih dari tiga detik.

Kendati demikian, masyarakat diminta untuk waspada, sebab dapat berdampak pada konstruksi bangunan, terutama yang sudah pernah retak sebelumnya.

"Meskipun gempanya tidak lama tapi magnitudonya besar bisa berpengaruh pada bangunan, apalagi bangunannya sudah retak kemarin, itu akan menambah retak, jadi masyarakat sebaiknya waspada tapi tidak boleh panik," imbuh Rian.

Baca Juga