Iklan

Sekilas Info

KAMPUNG AMBON

Riwayat Kampung Ambon, Jejak Orang Maluku di Belantara Jakarta

Salah satu sudut pemukiman di Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta, yang diabadikan beberapa waktu lalu,

Cerita tentang Kampung Ambon, Cengkareng, Jakarta Barat, menarik ditelisik kembali menyusul tindakan polisi yang tengah membongkar sindikat jaringan internasional penyuplai narkoba.

Kampung Ambon, sejatinya bernama Kompleks Permata, Kelurahan Kedaung Kaliangke, Kecamatan Cengkareng, Jakarta Barat. Nama Kampung Ambon lebih disebabkan oleh sebutan warga Jakarta lantaran para penghuni perumahan tersebut adalah orang-orang Maluku.

Warga Maluku ini merupakan keturunan para mantan tentara Koninklijke Nederlands Indisch Leger (KNIL) atau Batalion X bentukan Belanda saat Perang Djawa (1825-1830). Lokasi markas Batalion X ini dulu berada di lokasi Hotel Borobudur.

Saat masa penjajahan Jepang, 1942 -1945, para mantan tentara KNIL beserta keluarganya dipindahkan ke sejumlah sekolah bangunan Belanda yang ditutup oleh Jepang.

Saat itu Sekolah Dokter Djawa di STOVIA sudah pindah ke Jalan Salemba. Pada 1942 Gedung Utama STOVIA sudah berubah menjadi Algemeene Middelbare School (AMS)-kini jadi museum.

Sementara itu, dua gedung lain dipakai Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO)-kini SMAN PSKD 1. Satu gedung lagi digunakan Darde School-kini SDN 03 Senen. Gedung-gedung ini berdiri sejajar di Jalan Kwini, Senin, Jakarta Pusat.

Beberapa tahun berselang, media mengungkap, semua kisah ini masih diingat betul seorang Kepala Keamanan Sekolah PSKD 1, Jakarta Pusat, Raymond Raymondus Saru (69), ayahnya Prajurit KNIL asal Timor.

Menurutnya, pasukan eks Batalion X dipindah ke enam lokasi berbeda. Prajurit Maluku pindah ke gedung AMS, Darde School, dan MULO. Sementara itu, prajurit Timor pindah ke sebuah bangunan berstatus Eigendom Verponding, sejajar dengan STOVIA dan MULO. Lalu, prajurit eks KNIL Manado pindah ke Jalan Kramat VII.

Adapula prajurit yang pindah ke Berland dan Polonia Kamp. Letak Polonia Kamp sekarang berada di samping Gereja Vincentius, Jakarta Timur.

Tiga dekade kemudian, tepatnya pada Maret 1973, Gubernur Ali Sadikin memindahkan keluarga pasukan eks KNIL Maluku ke Kedaung Kaliangke (Kampung Ambon). Saat itu Pemprov DKI memindahkan 196 kepala keluarga atau sekitar 1.000 jiwa. Pemindahan itu terjadi mulai 25 Maret 1973. Lokasi perumahan yang mereka tinggal masih berbentuk rawa-rawa.

Ada sebagian warga yang memilih pulang ke Ambon atau memilih pergi dari tempat itu karena rumahnya terbuat dari kayu dan tripleks, seperti bedeng-bedeng, berjejer rapi dan belum dialiri listrik.

Masa awal kepindahan warga Ambon di Kompleks Permata, kejahatan yang muncul adalah pemalakan. Kondisi ini terus berlangsung hingga tahun 1990-an.

Perjudian sabung ayam juga sempat tenar pada periode 1990 ke atas. Dahulu polisi sering kali menggerebek judi sabung ayam. Belakangan, narkoba muncul, walaupun sesungguhnya tidak semua warga Kampung Ambon terlibat dalam bisnis narkoba. (*)

Baca Juga