Sekilas Info

ANAK PENGUNGSI MENINGGAL

Kematian Nesya Wattimanela, Anak Difabel Pengungsi Gempa di Negeri Waai Gugah Simpati Orang Basudara

Shariva Alaidrus Nesya Wattimanela, bocah difabel yang meninggal dunia ketika sedang mengungsi di kawasan perbukitan di Desa Waai, Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah, Senin (28/10/2019)

satumalukuID – Kematian Nesya Wattimanela, anak difabel berusia lima tahun yang mengungsi bersama orangtuanya di Negeri Waai, Pulau Ambon, Maluku Tengah, akibat Gempa, mengundang simpati Basudara Maluku Global di Sydney, Australia,

Sebelumnya, Kondisi Nesya yang lumpuh dan keluarganya yang bertahan di lokasi pengungsian dengan kondisi seadanya, sempat viral di laman media sosial Facebook beberapa waktu lalu.

Nesya meninggal pada Minggu (27/10/2019) di RSUD Haulussy Ambon. Sejak gempa melanda wilayah Maluku dia bersama keluarga mengungsi ke sekitar kawasan perbukitan di Negeri Waai, karena rumah mereka rusak akibat guncangan gempa magnitudo 6,5 pada 26 September 2019.

Harus bertahan lama di lokasi pengungsian yang seadanya, memperburuk kondisi Nesya yang mengalami kelumpuhan sejak lahir. Bocah yang dikenal riang itu meninggal dunia di RSUD dr Haulussy Ambon pada 27 Oktober 2019.

Orang tua Nesya yang sehari-harinya bekerja sebagai petani, diketahui sempat mengalami kesulitan untuk memulangkan jenazah Nesya dari rumah sakit ke lokasi pengungsian, karena tidak adanya biaya.

Hal itu lantas menggugah hati warga Maluku yang tergabung dalam perkumpulan Basudara Maluku Global di Sydney, Australia. Mereka berinisiatif memberikan santunan kepada keluarga Nesya Wattimanela.

Santunan tersebut diserahkan oleh anggota Basudara Maluku Global di Kota Ambon Rory Dompeipen saat ibadah pemakaman Nesya Wattimanela yang digelar di tenda pengungsian di Desa Waai, Kecamatan Salahutu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah, Senin (28/10/2019).

Rory Dompeipen mengatakan meskipun tidak seberapa, santunan kepada keluarga Nesya Wattimanela diharapkan bisa membantu keluarga untuk menggelar proses ibadah pemakaman gadis cilik itu.

"Santunannya tidak seberapa, tapi kami berharap ini bisa membantu keluarga Nesya, karena kami dengar kemarin karena masalah biaya, keluarganya kesulitan untuk membawa pulang jenazah ke lokasi pengungsian," ucapnya.

Ia mengatakan keluarga Nesya Wattimanela sedari awal memang menjadi perhatian Basudara Maluku Global di Sydney, karena selain menjadi korban terdampak langsung gempa tektonik, keluarga tersebut juga merupakan warga tidak mampu.

Kondisi Nesya yang lumpuh dan keluarganya yang bertahan di lokasi pengungsian dengan kondisi seadanya, sempat viral di laman media sosial Facebook beberapa waktu lalu.

Selain santunan, sebelumnya perkumpulan warga Maluku pada 3 Oktober 2019 juga mendistribusikan beberapa bantuan kepada keluarga bocah itu, berupa tenda, perlengkapan mandi, paket makanan, susu dan lainnya.

"Awalnya kami mengetahui tentang dia dari laman Facebook, Iwan Muskitta (ketua Basudara Maluku Global di Sydney) kemudian menelepon saya untuk mengunjungi Nesya dan keluarganya," ujar Rory.

Baca Juga