Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTOAN

Satu Bulan Gempa Maluku: Getaran Capai 1.870 Kali, 210 Dirasakan Warga, Koordinasi dan Informasi Minim

HARI ini, Sabtu 26 Oktober 2019. Pas satu bulan lalu (26 September 2109) "tana goyang" alias gempa bumi melanda Kota Ambon dan sekitarnya, Pulau Haruku Maluku Tengah dan Seram Bagian Barat. Yang menyebabkan jatuhnya puluhan korban jiwa, ratusan luka luka, harta benda dan terjadi pengungsian besar-besaran akibat traumatik warga.

Sejak gempa awal itu, ada fenomena alam yang luar biasa. Bahkan bisa saja masuk rekor MURI atau Guinnes Book of The Record. Bagaimana tidak. Hanya dalam sebulan sejak gempa awal 6,5. SR itu, sampai kini sudah tercatat oleh Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) pada Sabtu hari ini, aftershock atau gempa susulan sdh mencapai ‎1.870 kali dan dari jumlah  itu 210 diantaranya dirasakan goyangnya oleh masyarakat.

Jumlah itu dalam sebulan jauh lebih banyak dari gempa besar yang pernah melanda Aceh, Palu dan Lombok. Catatan BMKG lainnya yaitu nyaris setiap hari sejak sebulan lalu itu ada goyangan gempa di Pulau Ambon dan sekitarnya mulai dari magnitudo 1,5 SR hingga 5,6 SR.

Dari evaluasi satu bulan ini, Maaf, terasa sekali kurang maksimalnya peran Pemkot Ambon, Seram Bagian Barat, Maluku Tengah dan Pemprov Maluku dalam soal informasi tentang kegempaan dan mitigasi bencana. Terlihat kelemahan kordinasi menjadi faktor utama. Masyarakat lebih banyak "lari" ke info di website BMKG, media massa dan media sosial.

Padahal fungsi pemerintah daerah mestinya secara rutin harus punya "corong" untuk selalu menyampaikan apa dan mengapa bagaimana gempa itu dan akibatnya melalui kordinasi kontinyu dengan BMkG, LIPI, BNPB dan lainnya. Bukan hanya soal penanganan pengungsi dan distribusi bantuan. Karena hal ini juga sudah dibantu kepedulian perorangan dan berbagai badan serta lembaga.

Jangan hanya tunggu kalau muncul berita bohong atau hoax di medsos barulah klarifikasi dan proses hukum. Lalu fungsi dasar mengayomi, melindungi dan menjaga ketertiban serta pelayanan umum kepada masyarakat bagaimana? Paling tidak punya crisis centre atau posko pusat yang selalu menginfokan dan memberi keterangan kepada masyarakat. Itu bisa menjadi sarana informasi resmi buat masyarakat tenang dan tidak slalu khawatir dengan berbagai rumor atau isu yang bergentayangan.

Misalnya saja. Bisa berikan info dgn tepat, akurat dan cermat kepada masyarakat khususnya di arah timur Pulau Ambon dari Passo, Suli, Tulehu, Tengah Tengah, Waai dan Liang, serta Kairatu dan Pulau Haruku, mengapa kawasan-kawasan tersebut sering diguncang kuat hampir setiap hari, meskipun di pusat Ambon  kota kurang terasa. Apa mengapa dimana dan bagaimana sebabnya? Ini tidak dilakukan. Padahal data dan informasi BMKG sudah jelas, nyaris ribuan kali getaran itu pusatnya di arah timur laut Kota Ambon.

Bahkan media massa sudah beritakan tentang mengapa kawasan Passo, Suli, Tengah Tengah, Tulehu, Waai dan Liang paling sering diguncang dan sangat terasa. Ini harus diinformasikan secara terbuka ke masyarakat dengan berkordinasi pada penelitian LIPI, Pusat Gempa Nasional, BMKG dan para ahli geologi.‎ Sebab, ternyata di dataran arah timur laut Pulau Ambon seperti pernah diekspos,  ditemukannya pergerakan sesar atau lempengan baru yang juga baru aktif di wilayah tersebut dan belum terdata di pusat gempa nasional. Hal hal inilah yang harus diinformasikan secara luas ke masyarakat, sekaligus untuk hindari berita bohong atau hoax, ataukah benar atau tidak temuan itu? Supaya jangan ada informasi "liar" yang beredar lagi.

Itu baru soal jumlah gempa yang sudah capai ribuan kali. Belum lagi tentang banyak muncul fenomena alam yang membuat masyarakat khawatir dan percaya info dari mulut ke mulut dengan pengertiannya sendiri sendiri. Warga dibiarkan terima  informasi  yang bias. Ya karena tak ada "corong" pemerintah daerah yang secara rutin terus meng update dan menghendel berbagai hal di lapangan dan masyarakat. Padahal disitulah ada fungsi kepala daerah yang lebih luas, bukan sekedar menjalankan rutinitas birokrasi pemerintahan. Atau juru bicara dan Humas pemerintah daerah hanya lebih banyak mengupload dan menginformasikan kegiatan kepala daerahnya. Padahal situasi dan kondisi sangat jelas, dalam masa tanggap darurat...!

Ada hal lain yang mungkin tidak dicermati atau dianggap sepele. Yaitu jumlah ribuan kali getaran bumi itu, mayoritasnya berasal dari kedalaman pusat gempa yang hanya berjarak 10 Kilometer. Itu pun terjadi di daratan. Artinya ini gempa dangkal. Yang bila magnitudo nya  besar, maka daya rusaknya akan besar pula.  Ini seuatu yang awam bagi masyarakat. Namun dampaknya sangat dahsyat. Sayangnya, tidak adanya penjelasan detail soal kedalaman gempa ribuan kali ini dan akibatnya nanti.

Intinya simpel saja. Fungsi koordinasi kurang dimaksimalkan. Informasi diremehkan. Padahal mereka lupa. Kini adalah era informasi dan komunikasi. Jadi, tidaklah berlebihan. Apabila di awal gempa besar, Pangdam Pattimura sempat mengeluhkan kurangnya kordinasi dalam penanganan bencana. Padahal ia mengaku TNI Polri punya kemampuan dan sarana dalam menghadapi situasi bencana alam dan tanggap darurat.

Kini satu bulan telah berjalan pasca gempa 6,5. SR itu dan diikuti ribuan kali gempa susulan. Semua kita tentunya berharap Ambon Maluku aman. Untu itu, pemerintah daerah khususnya Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku serta kita sebagai warga, mari saling introspeksi diri. Sebagaimana syair nya Ebiet G. Ade, mungkin Tuhan mulai bosan dengan tingkah laku kita ataukah alam mulai enggan bersahabat dengan kita? Coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang.

Semoga "badai cepat berlalu". Dan akhirnya kita hanya bisa berseru padaNya. Kiranya Tuhan Allah jaga dan lindungi Ambon, jaga dan lindungi Maluku. (novi pinontoan)‎

Penulis:

Baca Juga