Sekilas Info

OPINI

Masa Tanggap Darurat Gempa, Saatnya Ujian Kepemimpinan Kepala Daerah di Maluku

ANTARA FOTO/BARONDA Arsip Foto. Warga korban gempa Maluku berada di tenda di Negeri Oma, Pulau Haruku, Maluku, Selasa (1/10/2019).

Bupati Jayapura Mathius Awoitauw menghadapi bencana banjir bandang di wilayahnya dengan tindakan yang smart. Ketika musibah terjadi, dia berinisiatif mengumpulkan seluruh perangkat pemerintah, termasuk TNI/Polri, membentuk tim-tim penangan bencana, media center, mendirikan kamp-kamp pengungsian, dan mengatur pendistribusian bantuan korban bencana. secara terintegral

Setiap hari, tiga kali dalam sehari, pemerintah setempat mengupdate informasi apa saja terkait bencana dan penanganan yang mereka lakukan di masa tanggap darurat. Tujuannya agar membuat warga tenang dan merasa negara hadir di tengah penderitaannya serta menginformasikan secara luas dengan data yang akurat kepada media massa nasional dan lokal sehingga semua aware dengan bencana dan korban.

Bukan itu saja. Masyarakat korban setiap saat bisa mengakses media center untuk melaporkan masalah mereka dan langsung dilakukan penanganan.

Media center yang ditangani tim kominfo setempat memiliki data by name by address korban, pengungsi dan korban harta benda.

Hasilnya, bencana Jayapura jadi isu nasional. Bantuan mengalir dari berbagai daerah dan hanya dalam waktu dua minggu masa tanggap darurat bisa teratasi sehingga pemerintah daerah lanjut dengan tahapan pemulihan.

Hal yang sama juga dilakukan Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno saat bencana banjir di daerahnya. Dia langsung memegang kendali dalam masa tanggap darurat dan mengkoprdinir langsung penanganan masalah.

Semua aparat yang ada di daerah tersebut digerakkan dengan perencanaan dan eksekusi yang tepat sehingga kepanikan warga bisa segera teratasi. Dan korban serta keluarga yang ditinggalkan mendapat penangan sesegera mungkin.

Gubernur Sumatera Selatan saat itu, Alex Noerdin, juga  langsung memegang kendali ketika peristiwa Karhutla melanda daerahnya. Posko2 pemadaman api dibentuk dan dia setiap hari memberikan berbagai instruksi dari posko dimaksud. Bahkan untuk memastikan kerja dari aparat dan masyarakat, Gubernur Alex tidur di posko dan mengendalikan penanganan karhutla secara langsung.

Tahun 2004 lalu, ketika bencana Tsunami Aceh dan Sumatera Utara terjadi, Gubernur Sumatera Utara saat itu tidur di Bandara Polonia untuk memegang kendali langsung penanganan bencana yang dipusatkan di Medan. Tak ada satupun operasi pengendalian bencana yang luput dari perhatiannya.

Kerja para kepala daerah itu sangat jelas dan dirasakan langsung oleh masyarakat. Semua orang mengakui kerja mereka. Makanya tak heran kalau para kepala daerah tersebut mendapat penghargaan di level nasional atas kerja luar biasa mereka di masa tanggap darurat.

Lantas bagaimana dengan di Maluku? Berdasarkan informasi di media massa, masa tanggap darurat diperpanjang oleh setiap kabupaten yang wilayahnya dilanda bencana gempa.

Perpanjangan masa tanggap darurat ini bisa dimaklumi karena bencana yang melanda Provinsi Seribu Pulau tersebut sungguh luar biasa lantaran terjadinya ribuan kali gempa susulan. Ini merupakan sebuah situasi yang cukup dramatis.

Maluku memang sedang mengalami masa sulit. Tapi di setiap kesulitan selalu ada solusi. Karena itu, inilah saatnya para kepala daerah di Maluku menunjukkan kemampuan leadership mengatasi situasi sulit.

Gubernur Saleh Latuconsina, adalah salah satu contoh pemimpin di Maluku yang berhasil mendapatkan rasa cinta dari masyarakat.

Dia melewati pemerintahannya di masa-masa sulit saat menjabat Gubernur. Wilayahnya dilanda konflik sosial. Tapi dia selalu tampil di depan masyarakat seraya mengatasi masalah yang lumayan sulit saat itu.

Sekalipun dia mengakhiri kepemimpinannya hanya satu periode, namun masyarakat yang saat itu belum mendapatkan hak memilih secara langsung tetap mengenangnya sebagai Gubernur yang elegan di tengah masa sulit.

Karel Ralahalu yang melanjutkan kepemimpinan Saleh Latuconsina berhasil memulihkan konflik sosial Maluku karena mau bekerja keras dan rajin menyambangi masyarakatnya. Dia melayani semua orang dan menunjukkan kehadiran negara di masyarakat sehingga perlahan tapi pasti masyarakat Maluku melupakan konflik sosialnya.

Said Assagaff memulai kepemimpinan Maluku dalam situasi yang kondusif. Dia memiliki kemampuan yang mumpuni karena ikut secara langsung bersama Gubernur Karel Ralahalu saat melakukan pemulihan situaso sosial di Maluku.

Sayangnya, modal sosial yang besar tidak berhasil dimaksimalkan Said Assagaff sehingga hanya menjabat satu periode kepemimpinan,

Sekarang giliran Murad Ismail yang menjabat Gubernur. Hanya berselang lima bulan sejak dilantik, sejumlah wilayah di Maluku dilanda bencana gempa. Ujian mulai menghadang.

Mampukah Gubernur Murad menyelesaikan situasi sulit di masyarakat saat ini? Perlu dibuktikan.

Kemampuannya perlu diuji, apakah dalam masa tanggap darurat ini, penanganan kepada para korban sudah dilakukan maksimal? Tentu kita berharap sudah maksimal. Sebab dalam situasi yang tidak menentu sekarang akibat gempa dan isu hoax, kehadiran aparat negara sangat dibutuhkan.

Negara harus hadir di tengah masyarakat melalui kehadiran aparat yang terkoordinir baik dan efektif dalam penanganan masalah.

Tidak boleh ada instansi yang bergerak sendiri-sendiri, termasuk dalam penyaluran bantuan bencana kepada korban gempa. semua harus terkoordinir lewat satu pintu yakni pemerintah daerah.

Kalaupun ada inisiatif dari masyarakat secara pribadi menyalurkan bencana mereka bisa berkoordinasi lebih dulu dengan Posko atau media center penanggulangan bencana supaya bantuan bisa efektif dan tersalurkan secara merata.

Dalam situasi yang tidak kondusif sekarang ini, pemimpin daerah sudah seharusnya tampil dan memimpin operasi tanggap darurat. Jangan ada yang berkilah bekerja tanpa publikasi media. Hal itu justru menimbulkan syak wasangka di masyarakat.

Tunjukkan bahwa semua aparat pemerintahan termasuk para bupati dan walikota di wilayah korban bencana berada dalam kendali penuh untuk menyelesaikan masalah ini.

Sering-seringlah memberikan keterangan lewat media massa untuk menenangkan masyarakat. Rajin-rajinlah menginformasikan kebutuhan yang diinginkan kepada masyarakat luas agar bantuan berdatangan ke Maluku. Sebab, seusai masa tanggap darurat akan ada masa pemulihan yang butuh dana tak kalah banyak.

Baca Juga