Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTOAN

Mengenang Kejadian Kelabu 8 Oktober 1950 saat Aer Turun Nae di Galala, Hative Kecil dan Hutumuri

8 Oktober 1950 "Aer Turun Nai" atau Tsunami Menerjang Galala, Hative Kecil, dan Hutumuri, Korban Jiwa Kurang Karena Warga Sudah Mengungsi Akibat Pemberontakan RMS

HARI ini, 8 Oktober 1950 atau 69 tahun lalu "Aer Turun Nae" atau sekarang lebih dikenal dengan istilah tsunami menerjang beberapa negeri atau desa di Pulau Ambon yakni Galala, Hative Kecil, Hutumuri serta dampaknya juga melanda kawasan Poka dan Rumah Tiga.

Kejadian itu membuat sampai kini tanggal 8 Oktober selalu diperingati di ketiga negeri tersebut sebagai kejadian kelabu.

Apalagi saat ini Pulau Ambon dan sekitarnya serta wilayah Seram Bagian Barat dan Maluku Tengah sedang dilanda "tana goyang" atau gempa bumi besar sejak Kamis 26 September 2019 yang membuat jatuhnya puluhan korban jiwa, harta benda dan rusaknya fasilitas pendidikan dan pemerintah serta sampai saat ini 8 Oktober 2019 gempa susulan masih terus menggoyang hingga telah mencapai 1200 an kali sesuai data BMKG.

Akibat daripada ingatan kejadian tahun 1950 itu dan gempa yang terus beruntun, membuat warga Ambon dan sekitarnya dilanda kekhawatiran dan berkembangnya akan ada isu tsunami sehingga ribuan orang masih tetap mengungsikan diri ke dataran tinggi atau perbukitan di sekitar pemukimannya.

Ada yang menarik dalam kejadian tsunami 1950 tersebut. Yakni nihilnya korban jiwa atau kurang ada korban manusia di negeri Galala, Hative Kecil dan Hutumuri.

Mengapa? Ternyata sesuai pengakuan beberapa saksi mata yang disampaikan pada chanel you tube dan kepada media ini, penyebab minimnya korban jiwa adalah karena sebelum kejadian tsunami tersebut masyarakat memang sudah mengungsi ke perbukitan dan hutan di belakang kampung mereka lantaran ada aksi pemberantasan pemberontakan RMS oleh pihak TNI yang menyebabkan warga ketakutan jadi korban baku tembak.

"Katong sudah mengungsi sebelum tana goyang kuat guncang dan kemudian tiga gelombang besar datang susul menyusul menyapu dataran negeri Hutumuri. Katong naik di gunung belakang kampung karena takut baku tembak TNI dan RMS," ungkap opa Johanis LIlipory dan opa Izaak Pessy, dua warga Hutumuri yang menjadi saksi mata seperti diceritakan di channel Youtube tentang tsunami 1950 itu dengan dialek Ambon.

Baik Lilipory, Pessy maupun saksi mata lainnya yaitu Markus Kailuhu, menceritakan, tiga goyangan gempa kuat disusul dengan bunyi gemuruh besar yang dikira bunyi pesawat TNI datang untuk menyerang kelompok RMS, ternyata adalah munculnya tiga gelombang besar yang datang susul menyusul menerjang dataran Hutumuri mengakibatkan hancur berantakan rumah-rumah bahkan ada rumah yang naik di atas pohon besar.

"Setelah air surut. Kita semua datang ke kampung dan melihat rumah rumah sudah hancur. Serta ikan ikan besar dan kecil naik ke darat," ujar opa Kailuhu.

Selain warga sudah mengungsi ke bukit sebelum gempa dan tsunami. Hal lainnya yang menyebabkan korban jiwa nihil karena saat tiga gempa besar dan tsunami datang, warga sudah selesai ibadah Minggu di gereja yang letaknya di dekat pantai.

Kisah dan cerita yang sama juga dialami oleh beberapa saksi mata yang masih hidup di Negeri Galala dan Hative Kecil yang disampaikan juga pada chanel youtube.

Seperti dituturkan oleh William Joseph, Zakarias Joris, Wilhwlmina PIeter dan Enos Noya, Nico Muriany dan lainnya.

Mereka katakan peristiwa "Aer turung nai" atau tsunami itu untungnya terjadi pada siang hari MInggu 8 Oktober 1950 sekitar pukul 11.00 WIT sampai 12.00 WIT sehingga jemaat sudah selesai ibadah minggu di gereja, sehingga korban jiwa tidak ada. Termasuk warga Galala dan Hative Kecil juga sudah mengungsi ke perbukitan hutan lantaran adanya pemberantasan gerakan RMS oleh TNI sehingga warga memilih hindari akibat kontak senjata.

Menurut mereka, saat itu, seusai ibadah minggu di gereja ketika hendak makan siang, saat itu terdengar gemuruh sangat besar seperti beberapa peswat terbang rendah di atas kampung. Ternyata itu adalah bunyi ombak besar sekali yang datang setelah gempa besar terjadi.

"Kami kira beberapa pesawat terbang rendah sampai bunyi gemuruh. Ternyata itu bunyi gelombang besar yang tingginya sama dengan pohon besar di depan lokasi RS Otto Kuyk dulu (sekarang lokasi mall MCM). Ada dua kapal besar yang masuk ke kampung diantanya kapal Albatros dan gelombang menghantam jembatan Galala," kisah Enos Noya.

Nico Muriany juga mengungkapkan, ketika dirinya lari mengungsi ke atas bukti di belakang negeri yang sekarang lokasi SMP Negeri 3 Ambon, dia melihat gelombang besar pertama naik ke kampungnya kemudian surut lagi dan beberapa saat muncul lah gelombang raksasa menyapu daratan. Ia sempat melihat ke kawasan Poka Rumah Tiga yang sudah rata juga dengan air laut yang naik ke darat.

Lain lagi cerita Fransina Bremeer. Ia yang waktu itu berumur 11 tahun saat gempa dan tsunami, dibawa lari oleh orang tuanya ke bukit dan dilarang turun ke kampung. Namun saat air surut, ia bersama orang tuanya turun melihat situasi kampung yang sudah hancur.

"Nah, waktu itu heboh karena ada satu orang tua bernama Mama Dana itu selamat tapi tersangkut di atas pohon mangga yang tinggi sekali. Kemudian bapa Theis Joseph yang sedang berada di laut dengan perahu nya juga selamat meski terombang ambing," cerita Bremeer.

Kini kisah pilu dan sedih itu, selalu diperingati dalam bentuk ibadah peringatan di masing-masing negeri sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Kuasa.

TSUNAMI TERTUA DAHSYAT

Dalam sejarah, 17 Februari 1674, gempa bumi mengguncang Ambon dan sekitarnya, disusul tsunami dari Laut Banda. Ia menjadi gempa dan tsunami tertua di Indonesia yang tercatat dengan detail oleh seorang naturalis, Georg Everhard Rumphius (1627-1702), pada 1765. Selama hampir 50 tahun Rumphius tinggal di Ambon, di mana dia menikmati pekerjaannya sekaligus tragedi karena bencana alam itu.

“Tanggal 17 Februari 1674, Sabtu malam, sekitar 07:30, di bawah bulan yang indah dan cuaca tenang, seluruh provinsi kami –yaitu Leytimor, Hitu, Nusatelo, Seram, Buro, Manipa, Amblau, Kelang, Bonoa, Honimoa, Nusalaut, Oma dan tempat-tempat lain yang berdekatan, meskipun terutama dua yang pertama disebutkan– menjadi sasaran guncangan mengerikan yang diyakini kebanyakan orang bahwa Hari Penghakiman telah datang,” tulis Rumphius dalam Amboina.

Hari itu, suasananya tengah meriah karena orang mengikuti perayaan Tahun Baru Tionghoa. Gempa mengakibatkan 75 bangunan milik orang Tionghoa, ambruk.

Korban jiwa mencapai 79 orang, termasuk istri dan anak perempuan Rumphius, janda sekretaris Johannes Bastinck, serta empat orang Eropa. Sedangkan 35 orang luka serius di lengan, kaki, dan kepala.

Gempa kemudian disusul oleh tsunami dahsyat di Laut Banda. Ini adalah megatsunami yang sampai sekarang belum ada tandingannya di Indonesia karena tinggi gelombang mencapai 80 meter.

“Tsunami ini menyapu hampir seluruh pulau dan menyebabkan lebih dari 2.000 orang meninggal,” kata Edward A. Bryant, peneliti dari Universitas Wollongong, Australia, dikutip Gatra, 5 Juli 2006.

"Semua orang berlari ke tempat lebih tinggi untuk menyelamatkan diri, di mana mereka bertemu dengan Gubernur. Dia memimpin doa di bawah langit yang cerah sambil mendengarkan bunyi ledakan seperti meriam di kejauhan, terutama terdengar dari utara dan barat laut,” tulis Rumphius.

Rumphius mencatat korban akibat tsunami mencapai 2.243, termasuk 31 orang Eropa. Dalam bencana alam ini ada keajaiban. Tiga hari pasca gempa seorang bayi Tionghoa berumur sebulan ditemukan masih hidup di bawah reruntuhan. Dia dipelukan ibunya yang mati. (novi pinontoan/berbagai sumber)

Penulis:

Baca Juga