Sekilas Info

GEMPA AMBON

Panik, Banyak Warga Kota Ambon dan Sekitarnya Mengungsi ke Dataran Tinggi

Jimmy Ayal Warga mengungsi ke daerah perbukitan di kawasan Kudamati dan Gunung Nona, Kecamatan Nusaniwe, Kota Ambon, menyusul gempa tektonik berkekuatan magnitudo 6,8 yang terjadi pada Kamis (26/9/2019) sekitar 08.46 WIT.

satumalukuID - Gempa yang terjadi di Ambon dan wilayah kabupaten kota sekitarnya pada Kamis (26/9) pukul 08.46 WIT mengakibatkan kepanikan warga yang sedang beraktifitas baik di kantor-kantor pemerintah swasta, lembaga pendidikan, hotel-hotel dan pusat perbelanjaan serta lainnya. Info yang diterima dari BMKG kekuatan gempa berkekuatan magnitudo 6,8 SR pada 26 September 2119 tepat pukul 08.46.45 WIT berlokasi di 3.38 LS,128.43 BT (40 km Timur Laut Ambon-Maluku dengan kedalaman pusat gempa 10 Km).

Pantauan langsung di lapangan tepatnya di kawasan Trikora dan Urimesing pusat Kota Ambon, warga kota, karyawan karyawati dan para pelajar berhamburan lari keluar dari kantor-kantor seperti Kanwil PLN Maluku-Malut, sekolah SMP/SMA Kristen, hotel Amaris, swalayan Planet 2000 dan SuperMart, Bank Danamon, Artha Graha, Panin, BII, BTN, Modern Ekspres, BRI, Mandiri Syariah, Mandiri Taspen dan beberapa restoran serta pusat hiburan.

Akibatnya sepanjang kawasan Trikora hingga jalan Diponegoro kawasan Urimesing penuh dengan lautan manusia yang panik dan berteriak histeris, menangis serta bergegas menuju wilayah perbukitan di Batugajah dan Ponegoro Atas.

Kondisi yang sama terpantau pada kawasan utama yang sibuk yakni di jalan Pattimura. Warga, karyawan dan pelajar di situ juga berhamburan berlarian menuju perbukitan Batumeja, Bere Bera dan Kayu Putih.

Hampir seluruh kawasan pusat kota Ambon terjadi kepanikan. Aktifitas perkantoran, perdagangan, bisnis, perbankan dan pendidikan, otomatis spontan menurun dan sepi karena para karyawan-karyawati, pegawai, pelajar dan pembeli penjual, pergi dan berlari menuju kawasan yang lebih tinggi pada perbukitan sekitar kota Ambon lantaran merebaknya isu akan terjadi tsunami.
"Kami semua sudah bubar. Karena goyangan gempa sangat terasa di ruangan acara. Kami dan peserta acara lebih pilih keselamatan diri," ujar Yunan Tan, salah satu pejabat di Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Maluku kepada media ini saat bergegas keluar dari tempat acara di hotel Amaris kawasan Urimesing, Kamis.

Informasi lain yang dihimpun dari kawasan Poka Ambon, dimana terletak kampus Universitas Pattimura. Ketika terjadi gempa besar itu, mahasiswa yang baru mulai perkuliahan terpaksa berhamburan lari keluar ruangan dan yang kuliahnya di ruangan bertingkat harus berdesak-desakan hingga banyak yang jatuh dan lecet. Selain itu, mahasiswa yang sudah sampai di tempat parkir sepeda motor lantaran panik dan buru-buru akhir ada yang saling tabrakan sesama mereka.

"Ponakan saya yang berboncengan dengan teman nya, saat ingin meninggalkan kampus akhirnya tabrakan dan mengalami luka benturan," cerita Febby Kaihatu soal nasib yang dialami ponakannya itu.

Ruang kuliah di beberapa fakultas dan kantor pusat Unpatti dilaporkan juga mengalami kerusakan, terutama pada plafon nya yang terlepas dan beberapa dinding ruangan yang mengalami keretakan. Akibat gempa dan kepanikan yang terjadi, spontan aktifitas kota Ambon menurun serentak dansepi. Pasalnya, selain karyawan karyawati, pegawai negeri dan pelajar, memilih pulang ke rumah. Banyak warga yang tinggal di kawasan dataran dan dekat pesisir pantai memilih mengungsi ke perbukitan sekitar kota Ambon seperti Batugajah, Ponogoro, Batumeja, Kayu Putih, Karangpanjang, Manggadua, Kudamati, Gunung Nona dan lainnya

LEIHIITU

Sementara itu Warga di desa-desa pesisir di Kecamatan Leihitu (Pulau Ambon), Kabupaten Maluku Tengah, mengungsi ke dataran tinggi karena panik akan isu terjadi tsunami, sehubungan dengan terjadinya gempa bumi berkekuatan 6,8 dan 5,6 magnitudo mengguncang Pulau Ambon, Kamis.

Pantauan Antara, warga Leihitu panik saat gempa bumi berkekuatan 6,8 magnitudo mengguncang Pulau Ambon, sekitar pukul 08.46 WIT. Mereka berhamburan lari ke luar rumah untuk menyelamatkan diri.

Kuatnya goncangan gempa yang terjadi selama beberapa menit tersebut, membuat warga takut bangunan rumah mereka roboh.

Kepanikan warga semakin meningkat ketika gempa kembali mengguncang pada pukul 09.39 WIT. Gempa susulan berkekuatan 5,6 magnitudo yang terjadi di kedalaman 10 kilometer Timur Laut Ambon membuat berbagai aktivitas warga seketika terhenti.

Kegiatan belajar-mengajar di sekolah-sekolah setempat juga terpaksa dihentikan, karena para orang tua murid yang panik, menjemput pulang anak-anak mereka.

Gempa beruntun yang terjadi hanya berselang 52 menit dan terputusnya aliran listrik juga akses telekomunikasi menambah kepanikan warga, sebab tidak bisa mengakses informasi ke luar wilayah dan menghubungi sanak keluarga lainnya.

Warga panik dan ketakutan akan terjadi gempa susulan yang lebih besar dan menyebabkan tsunami. Mereka memilih untuk mengamankan diri dengan berlari mengungsi ke area yang lebih tinggi dan ke hutan di lereng-lereng bukit.

Sebagian warga yang adalah orang-orang tua juga turun ke pantai untuk mengecek pergerakan air laut dan gelombang.

Ny. Ina Laisouw (27), warga Desa Hila mengaku masih tidur saat gempa bumi berkekuatan 6,8 magnitudo mengoyang Pulau Ambon. Kuatnya goncangan gempa membuat ia panik dan ketakutan.

Ia lantas menggendong anaknya dan berlari ke luar rumah untuk menyelamatkan diri, kemudian memilih mengungsi ke area yang lebih tinggi bersama rombongan warga Desa Hila lainnya.

"Kaget dan langsung terbangun karena gempanya kuat sekali, rumah bergoncang sampai seluruh plafon juga bergetar seperti mau runtuh," katanya.

Kendati rumahnya tidak mengalami kerusakan, Ina masih enggan untuk kembali ke rumah dikarenakan masih ketakutan ada gempa susulan dan bisa menyebabkan tsunami.

"Masih takut ada gempa susulan yang lebih besar dan bisa berakibat tsunami, lebih baik ikhtiar dengan mengungsi dulu dari pada nanti ada apa-apa," ucap Ina.

Sama halnya dengan Ina Laisouw, Min Thi (28), warga Desa Kaitetu mengaku dirinya dan keluarga memilih untuk ikut mengungsi ke daerah yang lebih tinggi karena ikut panik akan terjadi tsunami.

Sebelum mengungsi, Min dan keluarga terlebih dahulu membereskan dokumen-dokumen penting untuk dibawa serta.

"Panik apalagi tadi di jam-jam pertama terjadi gempa, listrik sempat padam lama sekali, telepon ataupun internet juga tidak bisa. Sekedar ikhtiar kami mengungsi dulu," ujar Min.

Kendati situasi sudah mulai terkendali, hingga berita ini diturunkan, sebagian besar warga di Kecamatan Leihitu masih memilih berdiam di area dataran tinggi karena takut ada gempa susulan yang lebih besar dan bisa berakibat tsunami.

Kepala Seksi Data dan Informasi Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Ambon Andi Azhar Rudin saat dihubungi mengatakan gempa bumi besar yang mengguncang Pulau Ambon pagi ini tidak berpotensi tsunami.

Gempa pertama berkekuatan 6,8 magnitudo terjadi di 3.38 Lintang Selatan, 128.43 Bujur Timur atau 40 kilometer Timur Laut Ambon, pada kedalaman 10 kilometer.

Sedangkan gempa susulan sebesar 5,6 magnitudo terjadi di 3.36 Lintang Selatan, 128.36 Bujur Timur atau 18 kilometer Timur Laut Ambon, pada kedalaman 10 kilometer.

"Gempanya memang besar tapi tidak berpotensi tsunami, yang harus diantisipasi hanyalah gempa-gempa susulan," katanya.

Baca Juga

error: Content is protected !!