Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTOAN

Dicky Soplanit, Usai Dirut Bank Kini Dirut Pengelola Liga Sepakbola Profesional Indonesia   

Dicky Soplanit (Foto: Jakarta.Tribunnews.com)

NAMA Dicky Soplanit SE selama ini populer di dunia perbankan di Ambon dan Maluku umumnya. Pasalnya, Dick begitu panggilan akrabnya, adalah bankir senior yang mencapai puncak kariernya sebagai Direktur Utama Bank Maluku dan Maluku Utara.

Alumni Fakultas Ekonomi Unpatti Ambon dan Unhas Makassar ini, berkarier di bank tersebut sejak masih bernama Bank Pembangunan Daerah Maluku (BPDM) dan ketika berubah menjadi Bank Maluku dan Maluku Utara ia menjabat Direktur Utama sampai pensiun pada 1 Februari 2014.

Usai menjalani pensiun dari bank itu. Dick beralih konsentrasi pada hobi lama nya. Yaitu menjadi pembina sepakbola. Soal olahraga merakyat ini, ia memang sejak dulu sudah dikenal sebagai pembina dan pemilik klub sepakbola amatir terkenal di Ambon, yakni  Maluku Putra yang bermarkas di kawasan Latta dan Halong.

Selain pembina dan pemilik klub Maluku Putra, Dick Soplanit juga pernah menjadi manajer dan Ketua Harian dari tim kebanggaan Kota Ambon  di jaman 1990 an yaitu PSA Ambon saat masih berada di Divisi I PSSI atau Liga Indonesia.  Ia menjabat Ketua Harian PSA Ambon sejak ketua umumnya dijabat Walikota Johanes Sudiyono hingga Markus Jacob Papilaja.

Kiprahnya di dunia sepakbola tak sampai disitu saja. Sambil menjalankan tugasnya sebagai petinggi Bank Maluku dan Maluku Utara, sejak meninggalnya almarhum John Mailoa sekitar tahun 2009, Dick Soplanit diminta untuk mengambil alih Ketua Asprov PSSI Maluku. Jabatan itu ia emban sampai tahun 2017.

Saat menjabat Ketua Asprov PSSI Maluku, ia mengikuti Kongres PSSI yang saat itu terpilih Letjen TNI Pur Eddy Rahmayadi sebagai ketua umum namun kemudian mengundurkan diri lantaran terpilih menjadi Gubernur Sumatera Utara. Di kongres itu, Dick Soplanit yang mewakili Asprov Maluku terpilih sebagai salah satu anggota Executive Committe (Exco) PSSI untuk masa jabatan lima tahun.

Dari situlah nama Dick Soplanit berkibar dan diakui kepemimpinan dan pengalamannya membina organisasi sepakbola. Ia kemudian melejit sebagai sosok berpengaruh di PSSI namun tidak suka digembar-gemborkan sesuai dengan figurnya yang low profile.

Pasalnya, ketika  PSSI dilanda berbagai masalah mulai dari undur dirinya ketua umum Eddy Rahmayadi, kemudian Pelaksana Tugas Ketum Joko Driyono terkena kasus pengaturan skor dan dijadikan tersangka sehingga berhenti bertugas, lantas disusul undur diri juga dari Direktur Utama PT Liga  Indonesia Baru (LIB), Berlington Siahaan. Maka figur Dick Soplanit pun menjadi pilihan utama karena pengalamannya di dunia sepakbola maupun perbankan sehingga terpilih menjadi Direktur PT LIB yang merupakan operator sepakbola liga profesional di Indonesia.

"Beta diangkat sebagai Direktur Utama  PT LIB berdasarkan Keputusan RUPS PT LIB tanggal 28 Februari 2019 dengan masa tugas sampai 28 Februari 2024. Jadi tidak ada istilah Plt, itu hanya salah persepsi dari media karena keadaan transisi waku itu dengan mundurnya pak Eddy Rahmayadi sebagai Ketum PSSI diikuti mundurnya Dirut PT LIB saudara Berlington Siahaan," ungkap Dick Soplanit kepada Suara Maluku dan Satu Maluku melalui wawancara di pesan WhatsApp nya, Senin (23/9/2019).

Ia menjelaskan, PT LIB adalah perseroan yang dibentuk oleh PSSI dan 18 Klub Liga 1 yang bertindak sebagai operator sepakbola profesional di Indonesia diantaranya  klub Liga 1, Liga 2 dan Liga 1 U 20/Pro Academy.

Lebih lanjut dikatakan, dari tiga orang direktur (Dirut dan dua direktur) di PT LIB saat ini tinggal dirinya yang memimpin dan mengelolanya. "Sekarang beta sendiri saja yang komando he he he," ujarnya, bercanda.

Menurutnya, Exco baru terpilih nanti tanggal  2 November 2019, apakah forum tetap pertahankan dirinya kemudian menambah dua anggota direksi lagi ataukah mau ganti, tergantung Exco baru punya keputusan sebagai pemegang saham.

"Namun sesuai keputusan RUPS PT LIB,  beta diangkat untuk masa kerja lima tahun," tutur Dick Soplanit.

Meski telah sukses di organisasi sepakbola nasional. Tetapi, ada rasa prihatin dalam dirinya. Apa itu?  "Prihatin. Karena kita di Maluku hanya dikenal sebagai daerah penghasil pemain-pemain liga dan tim nasional. Tapi, kita tak punya klub di Liga 1 maupun Liga 2 Indonesia. Itulah keinginan kita semua yang belum tercapai," bebernya.

Ia lantas menyampaikan beberapa faktor utama yang membuat tidak ada klub asal Maluku di Liga 1 dan 2 Indonesia. "Faktor finansial atau keuangan, manajemen organisasi sepakbola,  serta sarana prasarana lapangan sepakbola yang masih minim dan butuh sosok yang benar-benar mencintai sepakbola namun punya dukungan finansial," ungkap Dick.

Ditambahkan, kalau soal pemain potensial dan bertalenta, Ambon Maluku adalah penghasil pemain-pemain berbakat untuk klub-klub Liga 1 dan 2 bahkan juga buat timnas. "Kita harus akui, anak-anak Tulehu sudah terkenal kemampuan main bola nya sejak usia dini. Makanya PSSI menetapkan mereka sebagai Kampung Sepakbola," jelasnya.

Dick Soplanit menyatakan, klub dari Kota Ambon  sebenarnya punya potensi besar untuk bisa menembus kompetisi  profesional di Liga 1 atau 2. Sayangnya, belum ada investor atau manajemen yang membangun tim sepakbola secara profesional plus ditopang dana yang cukup.

"Beta bayangkan Kota Ambon punya klub Liga 1 atau 2. Wah, pasti ramai dan euforia sepakbola bangkit, ekonomi juga bergerak. Apalagi stadion Mandala Remaja di Karpan itu tinggal dibenahi dan direnovasi rumput, kamar ganti dan lampu penerangan lapangan. Dulu kompetisi amatir lokal saja semarak. Sayang memang potensi dan bakat kita belum tersalur untuk harumkan nama daerah di kancah sepakbola nasional,"  kenang Dick Soplanit, seraya menyesalkan ditutupnya rumput Lapangan Merdeka dengan  paving blok.

Penulis: Novi Pinontoan, Pimred Suara Maluku

Penulis:

Baca Juga