Sekilas Info

BI MALUKU

Banyak Temuan Uang Lusuh dan Sobek, Perbankan di Maluku Diimbau Buka Kantor Kas di Wilayah Tertinggal

ANTARA Foto/Jimmy Ayal Warga desa Kaiely, Kecamatan Teluk Kaiely, kabupaten Pulau Buru memperlihatkan uang cetakan terbaru yang ditukarkan melalui tim ekspedisi kas keliling daerah 3T, Sabtu (14/9). Kantor Perwakilan Bank Indonesia provinsi Maluku bekerjasama dengan Lantamal IX Ambon, mengelar ekspedisi kas keliling daerah 3T dengan menjangkau lima lokasi di tiga kabupaten di Maluku, 13-19 September 2019.

satumalukuID - Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Maluku mengimbau perbankan setempat membuka kantor kas di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) untuk memudahkan masyarakat bertransaksi, terutama penyediaan uang rupiah yang baru dan layak edar.

"Kami mengimbau bank-bank di Maluku untuk mulai ekspansi di daerah 3T. Paling tidak mereka juga bisa melayani penukaran dan penarikan uang lusuh yang beredar di masyarakat," kata Ketua Tim Ekspedisi Kas Keliling Daerah 3T Kantor Perwakilan BI Maluku, Ali Hasan di Ambon, Kamis (19/9/2019).

Ali Hasan memimpin tim ekspedisi kas keliling mengunjungi lima kecamatan di tiga kabupaten di Maluku sejak 13-19 September 2019

Ia mengaku masih banyak uang lusuh, bolong dan sobek yang beredar di masyarakat, khususnya di daerah 3T.

"Kedatangan tim ekspedisi kas keliling disambut gembira oleh masyarakat. Mereka terlihat antusias untuk datang menukarkan uang lusuh kepada petugas. Ini mengindikasikan masih banyak uang tidak layak edar berada di tangan masyarakat," katanya.

Padahal menurut Ali, uang rupiah merupakan satu-satunya alat pembayaran yang sah dan berlaku wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), namun alat transaksi jual beli itu mudah rusak disebabkan ketidaktahuan masyarakat untuk memperlakukannya.

"Karena itu kami memanfaatkan kesempatan ekspedisi kas keliling ini untuk menyosialisasikan tentang ciri-ciri keaslian uang rupiah serta cara memperlakukan uang dengan baik dan benar kepada masyarakat agar sehingga tidak muda rusak," tandasnya.

Dia mengakui perlu waktu lebih banyak untuk sosialisasi secara berulang di masyarakat agar memahami cara memperlakukan uang rupiah dengan layak, karena berkaitan dengan tingkat pendidikan masyarakat di daerah 3T tidak sama dengan masyarakat yang berada di perkotaan atau yang dekat dengan ibukota provinsi.

"BI tidak bisa melakukan tugas ini sendirian. Karena itu perlu keterlibatan semua kalangan perbankan untuk menyosialisasikan hal ini kepada masyarakat, termasuk melakukan layanan kas keliling hingga di wilayah 3T, sehingga uang layak edar tersedia dalam jumlah cukup di tengah masyarakat," katanya.

Ali juga menandaskan ekspedisi kas keliling juga dimanfaatkan pihaknya untuk melakukan edukasi kepada masyarakat di daerah 3T, terkait informasi dan peredaran uang palsu, mengingat saat ini di sejumlah wilayah yang dikunjungi memasuki masa panen cengkih.

Ekspedisi kas keliling daerah 3T yang dilakukan Kantor Perwakilan BI provinsi Maluku, 13-19 September tidak sekedar menyosialisasikan ciri-ciri keaslian uang rupiah, layanan penukaran uang serta dirangkai dengan pengobatan gratis dan penyaluran bantuan program sosial BI.

Ekspedisi yang dilakukan bekerjasama dengan Pangkalau Utama TNI Angkatan Laut (Lantamal) Ambon tersebut dengan mengunjungi lima lokasi di tiga kabupaten di Maluku yakni Desa Kaiely, kecamatan Teluk Kaiely, Pulau Buru, Desa Ulima, Kecamatan Pulau Ambalau, Kecamatan Leksula dan desa Biloro, Kecamatan Kapala Madan, kabupaten Buru Selatan serta desa Buano Utara, Kecamatan Waisala, kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Penulis: Jimmy Ayal
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!