Sekilas Info

IKAN MATI TERDAMPAR

Dugaan Sementara Ikan Mati di Pantai Hukurila, Rutong, dan Leahari karena Getaran Ledakan Dalam Laut

Warga Hukurila yang merupakan anggota Tagana mencoba melihat ikan-ikan mati yang terdampar di Pantai Hukurila Ambon.

satumalukuID - Warga sejumlah negeri di Kota Ambon seperti Rutong, Leahari dan Hukurila saat ini tengah dihebohkan dengan hamparan ikan dan biota laut yang mati terdampar di pantai. Bau amis pun menyengat dan membuat heran warga karena tidak biasanya ditemukan fenomena seperti itu.

"Tidak hanya ikan, siput-siput kecil pun jadi mati (warna biru) tanpa sebab. Ikan ikan yang mati itu ada yg telah di konsumsi oleh warga tanpa tahu resiko kesehatan," cerita tiga anggota Tagana di Hukurila yakni Jusuf Elthon Porwayla,  Pieter B Porwaila, dan Nicholas J de Fretes yang diposting di sosial media.

Merespon temuan tersebut, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) kota Ambon bersama Balai Karantina Ikan Ambon dan UPTD telah melakukan analisa.

"Tim telah turun langsung ke lokasi untuk mengambil sampel ikan dan air untuk dilakukan analisa oleh balai karantina ikan," kata Kepala DKP Ambon, Steven Patty di Ambon, Minggu (15/9/2019).

Ia mengatakan, dugaan sementara penyebab ribuan ikan mati di pantai Rutong, Leahari dan Hukurila sejak  Sabtu (14/9/2019) disebabkan getaran ledakan yang sangat kuat dari dalam laut sehingga ikan mati.

Jenis ikan yang ditemukan mati adalah ikan yang hidup di kedalaman 100 meter yakni ikan karang, yang ditemukan dalam kondisi tulang retak, mata ikan copot karena getaran yang kuat.

"Dugaan sementara karena ledakan getaran yang kuat, sehingga ikan-ikan mati dengan kondisi tulang retak, dan mata copot. Analisa sementara dilakukan balai karantina hasilnya akan disampaikan beberapa waktu kedepan," katanya.

Masyarakat sekitar pantai tersebut, kata Steven, mengonsumsi ikan dan tidak mengalami keracunan akibat ikan yang mati.

Dia mengatakan tekstur ikan yang ditemukan mati selama dua hari, masih segar dan daging ikan masih bisa dikonsumsi serta tidak mengandung racun,

"Masyarakat yang kami temui menyatakan mereka mengonsumsi ikan tetapi tidak keracunan, sehingga kami masih terus melakukan analisa kematian ikan ini," ujarnya.

Disinggung terkait kematian ikan karena ledakan alga atau fitoplankton (blooming algae), pihaknya masih menganalisis setiap 200 meter di pantai Hutumuri dan hingga Hukurilla.

Petugas juga direncanakan akan melakukan penyelaman untuk melihat kondisi bawah laut terutama terumbu karang. "Penyebab sementara bukan karena ledakan alga, tetapi karena daya ledak yang kuat dari laut," katanya.

Ia menambahkan, masyarakat jangan mengambil kesimpulan yang sembarangan akibat kematian ribuan ikan di pantai.

Baca Juga