Sekilas Info

HEBOH ATLIT WEMPI DAN YANES PELAMONIA

Raih Emas di Kejurnas Atletik 2019, Pulang ke Ambon Dapat Apa?

Jossy Linansera: Kolase foto: Atlit Maluku Wempi dan Yanes Pelamonia yang meraih emas pada ajang Kejurnas Atletik 2019, saat di kamar di bawah stadion Mandala Remaja Karang Panjang, Ambon.

LINI media sosial facebook sedang heboh. Pemerhati olahraga di Maluku, termasuk kalangan media tengah menyatakan keprihatinan. Gara-garanya, dua atlit Maluku yang baru saja meraih medali emas di ajang Kejurnas Atletik di Stadion Pakansari, Bogor, 1 – 7 Agustus lalu diinapkan di kolong stadion Mandala Remaja, Karang Panjang, Ambon.

Kedua atlit dimaksud adalah Wempi Pelamonia dan Yanes Pelamonia, dua atlit asal Saparua, Maluku Tengah.

Wempi adalah peraih medali emas untuk nomor lari 800 meter putra senior. Sedangkan Yanes Pelamonia peraih dua medali yakni  emas di nomor lari 1.500 meter U-20 dan perunggu di nomor 800 meter putra U-20.

Kehebohan bermula saat jurnalis Tribun-Maluku.com Jossy Linansera menulis liputannya yang mengisahkan nasib Wempi dan Yanes setelah balik ke Kota Ambon. Tulisan tersebut kemudian viral karena di-share di facebook.

Ceritanya, kedua atlit yang sudah mengangkat nama Maluku di ajang atletik nasional itu, selama dua hari tinggal di kolong stadion Mandala Remaja. Keduanya, diinapkan di lokasi tersebut atas inisiatif pengurus PASI Maluku seraya menunggu realisasi janji untuk dipertemukan dengan Gubernur Maluku Murad Ismail.

Wempi dan Yanes berasal dari Saparua, Maluku Tengah. Jadi keduanya tak punya rumah di Kota Ambon.

Setelah dua hari menginap di kolong Stadion Mandala Remaja, keduanya memutuskan pulang ke Haria, Saparua. “Dong dua su pulang ke Haria tanpa sempat lagi bertemu dengan Gubernur Maluku,” ungkap Jossy Linansera saat dihubungi satumalukuID, Minggu malam (10/8/2019).

Jossy mengaku mendapat banyak reaksi setelah mengungkap kisah kedua “pahlawan atletik” Maluku ini. Ada yang mengecam hasil liputannya, terutama dari kalangan pengurus PASI Maluku, tapi banyak yang justru memberi support.

Penulis sendiri sempat menyaksikan bagaimana atlit-atlit Maluku itu saat berjuang mempertaruhkan nama Maluku di Stadion Pakansari, Minggu (3/8/2019) lalu. Bahkan saat itu, penulis mendengar langsung cerita miris tentang bagaimana minimnya perhatian pihak-pihak yang berkepentingan dengan para atlit dimaksud saat mereka hendak berangkat ke ajang Kejurnas Atletik 2019.

Tapi melihat semangat para atlit membela Maluku, penulis tak mau konsentrasi mereka terganggu oleh pemberitaan media. Toh, keesokan malamnya, Ketua PASI Maluku Richard Louhenapessy dan sekretaris PASI Maluku Chris Timisela sudah menyempatkan waktu mengunjungi para atlit Maluku itu dan memberikan semangat.

Tak diketahui apa yang terjadi dari hasil kunjungan Richard Louhenapessy ke para atlit Maluku yang bertarung di ajang Kejurnas Atletik 2019. Tapi membaca laporan Jossy Linansera yang menulis para atlit hanya mengantongi Uang Saku yang minimalis, tentu membuat kita miris.

Uang saku minimalis? Lantas apa memang tak ada lagi hotel di Kota Ambon yang bisa digunakan sebagai tempat tinggal sementara kedua atlit lari itu? Apa keduanya tak layak diinapkan di Hotel setelah mencetak prestasi di level nasional?

Pertanyaan-pertanyaan di atas banyak dikemukakan masyarakat menanggapi berita Jossy Linansera. Rasanya lucu, kalau di era yang sudah terang benderang seperti sekarang, masih saja ada atlit yang perjuangannya tidak dihargai.

Flashback, teringat bagaimana penghargaan Presiden Joko Widodo kepada para atlit Indonesia yang meraih medali di ajang Asian Games 2018. Presiden melakukan terobosan yang tidak pernah dilakukan pemerintahan sebelumnya yaitu, memberikan penghargaan sebelum event Asian Games ditutup.

Filosofi yang digunakan Jokowi, dia tidak mau para atlit harus menunggu bonus berbulan-bulan lamanya. Istilahnya sebelum keringat para atlit kering di badan, mereka sudah harus menerima bonus.

Dan luar biasanya, jumlah bonus yang dikucurkan kepada mereka jumlahnya sangat besar, setidaknya bisa menjadi modal jika suatu saat pensiun dari dunia olahraga. Dan luar biasanya lagi, tak hanya atlit, tetapi juga pelatih mendapatkan bonus yang juga tak kalah menggiurkan.

Idealnya, langkah Jokowi ini dilanjutkan oleh para pemimpin di daerah. Tapi, faktanya, masih terjadi kejadian seperti di masa lalu. Apresiasi atas prestasi para atlit Maluku masih saja menjadi tanda tanya.

Kembali kepada kisah Wempi Pelamonia dan Yanes Pelamonia. Kita tentu berharap, ada apresiasi yang besar kepada kedua atlit ini. Mereka sudah membanggakan dan menjaga pride orang Maluku di ajang atletik nasional.

Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku yang belum lama menjabat harus berani melakukan terobosan seperti Jokowi. Dalam kapasitas sebagai kepala daerah, banyak sumber daya yang bisa dimaksimalkan jika Gubernur dan Wakil Gubernur mau memberikan bonus kepada atlit-atlit Maluku berprestasi.

Bukan hanya Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku. Ketua Pengprov PASI Maluku juga bisa melakukan hal yang sama karena saat ini menjabat sebagai Walikota Ambon.

Kita tentu berharap atlit-atlit Maluku berprestasi bisa terus menginspirasi generasi Muda di negeri raja-raja. Jangan ada lagi kekecewaan karena merasa tidak dimanusiakan setelah berkorban membela Maluku.

Fakta banyaknya anak-anak Maluku berprestasi yang akhirnya pindah ke daerah lain karena lebih dihargai, harus diminimalisasi.

Maluku sudah memasuki era baru kepemimpinan. Lalu sapa lai yang mau lia anak-anak Maluku kalo bukan pemerintahnya sendiri?.

Orang tatua dolo dolo bilang, “Dunia nih su tarang. Jang hidup sama dalam glap”.

Penulis: NEVADA HETHARIA
Editor:Redaksi

Baca Juga