Sekilas Info

REMPAH-REMPAH

Ole Sio Perahu Layar Darwin – Ambon eee…

John Soplanit Sejumlah perahu layar peserta Lomba Darwin - Ambon atau SIDAYR 2019 di sekitar Pantai Amahusu, Kamis (8/8/2019).

“Aoo sepi. Sabantar lai dong su balayar ke pulau-pulau lain lalu kosong sudah,” ungkap Mel, salah satu warga Negeri Amahusu saat ditanya tentang kapal-kapal layar yang mengikuti event Spice Island Darwin - Ambon Yacht Race (SIDAYR) atau Lomba Perahu Layar Darwin - Ambon tahun 2019.

Nona Amahusu ini, tidak skeptis. Dia bicara realita. Harus diakui, SIDAYR 2019 yang di kalangan Orang Ambon dibilang perahu layar Darwin-Ambon, memang sepi peserta. Cuma 11 kapal layar.

Kalau dirata-ratakan 1 kapal layar memiliki delapan awak, berarti cuma ada 88 orang asing. Jadi pertanyaan, apakah sepadan biaya event yang dikeluarkan dengan jumlah peserta yang minimalis seperti itu? Jangankan warga Amahusu, semua warga Kota Ambon juga bisa menalarnya.

Dulu, saat awal-awal pertama event ini digelar mulai Tahun 1970-an hingga 90-an, jumlah peserta Lomba Layar Darwin – Ambon membludak. Ratusan perahu layar dari luar negeri ikut berpartisipasi, tak hanya sebatas Australia.

Saat itu, mungkin hanya Ambon saja wilayah di Indonesia satu-satunya yang menyelenggarakan event lomba antar negara tersebut. Ambon bisa dikata sebagai trend setter lomba perahu layar antarnegara di Indonesia.

Banyak warga Ambon tak pernah lupa. Saat titik finish masih di pantai Lantamal Ambon, ratusan hingga seribuan bule terlihat berseliweran. Tidak hanya di Halong dan sekitarnya, tetapi juga di Kota Ambon. Mereka berinteraksi dengan masyarakat di berbagai tempat. Ambon terasa sangat semarak dengan kehadiran Bule.

Hal yang sama juga masih terlihat saat titik finish dipindahkan ke Pantai Amahusu. Ratusan kapal layar dengan ribuan awak, masih terlihat wara wiri di Pantai Amahusu.

Sayangnya, saat itu, kita belum mengenal teknologi sosial media. Kalau saja sudah ada, bisa dipastikan betapa hebohnya ranah media sosial dengan foto-foto para wisatawan peserta lomba perahu layar Darwin – Ambon tersebut.

Bisa dibilang, sampai tahun 90-an, event Lomba Layar Darwin – Ambon masih menjadi salah satu signature Kota Ambon yang tidak hanya menarik wisatawan tetapi juga mendatangkan income kepada masyarakat.

Banyak warga Amahusu yang ketiban rejeki dari kehadiran para peserta lomba. Setidaknya, warung-warung makanan dan minuman mereka dibanjiri pembeli. Bahkan jasa loundry rumahan dadakan di Negeri Amahusu juga cukup laris manis.

Tapi itu dulu. Setelah Ambon dilanda kerusuhan sosial tahun 1999, tingkat partisipasi peserta Lomba Perahu Layar Darwin – Ambon menyusut drastis. Sejak itu hingga akhirnya di tahun 2019 ini hanya 11 peserta yang berpartisipasi.

Tak elok jika kita hanya menyalahkan penyelenggara, terkait susutnya jumlah peserta Darwin – Ambon. Banyak faktor, tentunya yang melatarbelakangi minat wisatawan berpartisipasi.

Makanya, keinginan Pemkot Ambon yang ingin mengevaluasi event dimaksud, sebagaimana diungkap Wakil Walikota Ambon Syarif Hadler merupakan langkah bijak. Kita memang harus selalu bersikap adaptif terhadap setiap perubahan.

Kita berharap Pemkot Ambon dan mitra penyelenggara lebih kreatf  lagi menawarkan sesuatu yang dirasakan manfaatnya oleh para peserta. Apalagi sejumlah daerah di Indonesia Timur, termasuk di Maluku juga sudah melakukan event senada yang juga diminati para wisatawan.

Diakui atau tidak,  lomba Perahu Layar Darwin – Ambon, sudah menyatu bahkan sudah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kota Ambon. Sama seperti Lomba Baris Indah setiap Bulan September, event itu selalu dinanti pelaksanaannya karena memang unik.

Ada joke tahun 90-an di kalangan masyarakat Kota Ambon, Ibu negeri tanah Maluku ini cuma rame saat malam tahun baru, pameran pembangunan, event Darwin – Ambon dan Lomba Baris Indah. “Abis itu lah sunyi sudah,” ungkap salah satu dosen di Universitas Pattimura saat bercanda dengan para mahasiswa waktu itu.

Tentunya joke tersebut, tidak lagi kompatibel dengan suasana saat ini. Ambon kini tumbuh sebagai kota yang dinamis. Tumbuhnya mal dan sejumlah pusat ekonomi membuat kota ini tetap ramai sepanjang hari.

Belum lagi berbagai event music yang digelar guna mensukseskan target Ambon sebagai City of Music.

Namun kita tak bisa begitu saja mengabaikan salah satu signature keramaian kota Ambon sejak masa lalu ini.  Kita tentu berharap di era sosial media sekarang ini, event Lomba Perahu Layar Darwin – Ambon semakin mendunia. Dalam bahasa keren, event tersebut harus menjadi viral di lini massa, biar dunia tahu, Kota Ambon, ibu negeri Tanah Maluku itu indah dan menarik untuk dikunjungi. (*)

Penulis: Petra Josua
Editor:Redaksi
Photographer:John Soplanit

Baca Juga