Sekilas Info

CATATAN NOVI PINONTOAN; JEJAK PRESTASI SPRINTER PUTRI MALUKU

Alvin Tehupeiory Kokohkan Tradisi Gelar Pelari Putri Tercepat Indonesia selalu Anak Maluku

Kompas & Antara Kolase foto Carolina Rieuwpasa dan Alvin Tehupeiory

SPRINTER atau pelari cepat untuk nomor-nomor lari jarak pendek 100, 200, 400 hingga 800 meter putri di Indonesia, entah kebetulan atau sudah menjadi tradisi, selalu menjadi milik nona-nona berdarah Ambon Maluku dalam berbagai even regional, nasional bahkan internasional.

Pasalnya, sejak tahun 1960 an nomor-nomor tersebut dari masa ke masa sering dijuarai para pelari putri berdarah Ambon Maluku mulai dari Kejurnas, PON, SEA Games, Kejuaraan Asia, hingga lolos ke ajang bergengsi impian semua atlet yaitu Olimpiade.

Nah terkini, kesuksesan sprinter putri asal Maluku, Alvin Tehupeiory, yang berhasil memecahkan rekor nasional lari jarak pendek 200 meter senior yang sebelumnya dipegang oleh mantan sprinter Maluku lainnya Irene Truitje Joseph yang telah bertahan selama 20 tahun. Membuat memori penulis kembali mengenang tradisi juara tersebut.

Untuk diketahui, rekor yang dipecahkan Alvin itu terjadi dalam Kejurnas atletik hari keempat di Stadion Pakansari, Kabupaten Bogor, Minggu (4/8), Alvin mencatatkan waktu tercepat dalam nomor lari 200 meter senior yakni 23,76 detik.

Catatan waktu Alvin ini, memecahkan Rekornas milik Irene yakni 23,86 detik pada tahun 1999. Saat itu, Irene Joseph membuat catatan waktu tersebut sekaligus meraih medali emas di arena atletik SEA Games 1999 di Brunei Darusalam.

Alvin sebetulnya memiliki spesialisasi di nomor 400 meter gawang. Namun dalam Kejurnas ia diinstruksikan pelatihnya Marla Sopacua untuk turun di nomor 100 dan 200 meter. Hasilnya, di kedua nomor bergengsi itu juga ia mampu merebut medali emas.

Alvin mengatakan Kejurnas ini dalam rangka persiapan SEA Games di Manila, Filipina 2019. Alvin juga menyebut saat ini akan fokus di nomor 100 dan 200 meter untuk bisa mendapatkan tiket Olimpiade Tokyo 2020.

“Saya sekarang fokus di sprint meski spesialisasi di 400 gawang. Di sini untuk persiapan olimpiade,” kata Alvin.

Pelatih atletik Maluku, Marla Sopacua mengatakan, nomor 400 meter gawang putri merupakan nomor spesialis Alvin. Namun di event kejurnas kali ini, dia fokus di nomor 100 meter dan 200 meter.

Alvin merupakan atlit Pelatnas Indonesia. Selama ini dia dikenal sebagai spesialis lari gawang putri nomor 400 meter. Namun, pelatih melihat Alvin memiliki bakat luar biasa untuk nomor 100 dan 200 meter. Makanya, pada ajang Kejurnas kali ini, dia diturunkan di kedua nomor tersebut. Hasilnya luar biasa.

Keberhasilan pelari putri asal Negeri Hutumuri Pulau Ambon ini. Makin mengukuhkan tradisi nomor jarak pendek paling bergengsi di cabang atletik khususnya di Indonesia adalah "warisan turunan" yang menjadi milik atlet-atlet putri berdarah Ambon Maluku.

Jejak tradisi itu tercatat dalam lembaran sejarah emas atletik Indonesia. Talenta-talenta "ratu tercepat" atletik silih berganti bagaikan estafet muncul di jaman nya masing-masing dan karunia itu diraih puteri-putri berdarah Ambon Maluku.

Era itu sudah di mulai sejak tahun tahun 1960 an oleh pelari Welly Tomasoa saat PON III dan pesta olahraga GANEFO di jaman Presiden Soekarno.

Sesudah masa tersebut. Lahirlah sprinter putri Indonesia yang dinilai hebat prestasinya di era tahun 1970 an. Meskipun si atletnya bukan membawa panji Maluku di even PON karena membela DKI, namun dia asli berdarah Ambon yaitu Carolina Riewpassa.

Prestasi spektakuler Carolina Riewpassa di nomor 100 dan 200 meter, hingga saat ini belum berhasil disamai pelari Indonesia lainnya. Pasalnya, Carolina dua kali sukses lolos mengikuti ajang atletik di arena Olimpiade . Yaitu di Olimpiade 1972 di Munchen Jerman dan Olimpiade 1976 di Montreal Kanada.

Kejayaan Carolina Riewpassa berakhir karena dimakan usia. Namun muncul lagi nona Ambon lainnya yang menggantikan posisi seniornya itu di awal tahun 1980 an. Siapakah itu? Dia lah Emma Tahapary. Prestasi sprinter putri berdarah Maluku namun membela DKI ini, tak kalah bersinar dengan seniornya itu.

Karena selain prestasinya di even SEA Games dan Asia, Emma juga merasakan arena atletik bergengsi yaitu di Olimpiade 1984 di Los Angeles. Bahkan dia mampu lolos hingga ke semifinal bersama sprinter elit dunia lainnya.

Tradisi warisan itu tidak berhenti. Sebab, saat masa kejayaan Emma Tahapary berakhir. Tongkat estafet sprinter putri untuk nomor 100 dan 200 meter di akhir 1980 an dan masuk awal 1990 an, memunculkan "ratu" lari cepat baru Indonesia.

Kali ini datang dari Surabaya Jawa Timur. Lagi-lagi sprinter itu adalah nona berdarah Ambon Maluku yakni Henny Maspaitella. Dia merajai lintasan lari jarak pendek nasional, bahkan prestasinya hingga ke Asia Tenggara. Henny malah sempat merasakan latihan di markasnya para pelari dunia di Amerika Serikat.

Namun masa keemasan Henny Maspaitella di sekitar tahun 1996, di luar dugaan "dihentikan" dengan kehadiran sprinter muda yang lagi-lagi adalah nona Ambon Maluku yang berasal dari Kairatu Seram Bagian Barat, dialah Irene Truitje Joseph.

Penulis punya kenangan melihat Irene Joseph dengan perkasanya seperti rudal melejit mengalahkan Henny Maspaitella yang punya nama besar di final nomor lari 100 dan 200 meter putri PON 1996 di Jakarta.

Momen paling manisnya, setelah melewati garis finis Henny Maspaitella yang waktu itu mewakili Jatim, mendatangi Irene Joseph sambil berjabat tangan dan memeluknya. Suasana  yang sangat indah antara senior dan penggantinya.

Di arena atletik PON 1996 di stadion madya Senayan Jakarta itulah. Sejarah baru atletik Indonesia tercipta dan catatan emas itu dibikin oleh sprinter putra dan putri kontingen Maluku.

Pasalnya, saat itu lahirlah "raja" dan "ratu" atletik atau muncullah dua manusia tercepat Indonesia yang berhasil "dikawinkan" oleh satu provinsi yaitu kontingen Maluku atas nama Agustinus Ngamel dan Irene Joseph yang mampu menjadi idola baru atletik nasional saat itu dengan merebut dua nomor bergengsi 100 dan 200 meter putra putri.

Luar biasanya, kalau Irene Joseph sukses kalahkan Henny Maspaitella, maka Agustinus Ngamel diluardugaan menggagalkan harapan manusia tercepat Indonesia saat itu yang sempat ikut Olimpiade juga yakni Mardi Lestari dari Sumut.

Sayangnya,meski sempat berprestasi di arena SEA Games, namun kiprah Irene dan Agustinus Ngamel tidak bertahan lama. Lantaran keduanya sering dilanda cedera. Padahal usia keduanya masih belum terlalu tua, sehingga harus mengakhiri aksi mereka di lintasan lari.

Pasca masa keemasan Irene Joseph. Terjadi era "paceklik" sprinter putri berdarah Maluku. Hal itu berlangsung cukup lama. Meskipun di saat itu juga sempat ada nama Erna Toisuta. Namun tidak bertahan lama dan menghilang namanya dari arena atletik nasional.

Warisan tradisi sprinter putri sepertinya sudah menjadi "gen" nya anak Maluku. Lantaran di era tahun 2000 an, kembali muncul lagi pelari putri jarak pendek nasional dari Ambon yakni Viera Hetharie. Dia sukses menembus jajaran elit sprinter Indonesia, dengan menjuarai arena Kejurnas hingga dua kali PON dan menyumbangkan medali emas untuk kontingen Maluku.

Namun disayangkan faktor non teknis lah dan akhirnya menikah membuat Viera Hetharie  kurang konsisten bertahan lama di arena adu lari cepat, meskipun sempat menjadi juara nasional dan merasakan ketatnya persaingan di arena internasional.

Hanya saja. Viera Hetharie masih bisa berbangga, karena penggantinya terkini Alvin Tehupeiory yang saat ini menobatkan dirinya sebagai pelari putri tercepat Indonesia adalah rekan satu tim Viera di nomor estafet putri 4 x 100 dan 4 x 400 meter yang sudah bersama sering menyumbangkan medali untuk Maluku.

Sebenarnya tradisi juara pelari putri asal Maluku di arena nasional dan internasional selain nama-nama legenda yang sudah disebut itu. Masih ada atlet lainnya yang punya prestasi hebat, sayangnya mereka kalah pamor sebagai sprinter dan ada juga yang jawara nya di nomor jarak menengah seperti Merry Rikumahuwa, Merry Manuhutu,  Helena Musila, Martha Lekransy, Carlarena Gomies serta lainnya.

Namun demikian. Ada hal yang perlu disarankan dan dibenahi serius oleh Pengda PASI Maluku. Karena selama ini, Maluku hanya berharap pada nomor lari di cabang atletik. Padahal ada nomor lempar, tolak, loncat, lontar dan lompat.

Di sinilah lumbung emasnya suatu daerah atau negara di cabang atletik yang perebutkan puluhan bahkan ratusan medali. Apalagi ironisnya. Lapangan Merdeka yang lapangan rumputnya sudah di pasang paving blok, maka jelaslah sarana latihan dan pengembangan pembinaan atletik pasti terkendali. Sayang memang.

Akhirnya, apresiasi dan kehormatan layak kita berikan untuk Alvin Tehupeiory yang sukses menjadi manusia tercepat Indonesia di trek atletik. Juga sudah mempertahankan tradisi warisan sprinter putri terbaik selalu asal Maluku. Kejarlah impianmu merasakan lintasan atletik Olimpiade.

Danke banya ade nona Alvin Tehupeiory, katong bangga..!

Penulis:

Baca Juga