Sekilas Info

Ternyata, Sopi dan Tahuri Sudah Jadi Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Sejak 2016

Acara bertemakan "Jurnalis dan Pelestarian Nilai Budaya Lokal" diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku menghadirkan Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud RI, Dr Najamudin Ramly serta Kepala BPNB Maluku, Rusli Manorek dan Pemimpin Redaksi Suara Maluku, Novi Pinontoan di Neo Kafe Ambon, Jumat (26/7) malam.

satumalukuID - Ironis. Itulah kata yang tepat untuk keberadaan minuman keras tradisional Ambon Maluku, yaitu sopi. Karena di saat terjadi polemik di kalangan masyarakat dan pengambil kebijakan termasuk aparat keamanan yang terus sweping dan memusnahkan sopi, ternyata sopi dari aspek tradisi budaya sudah menjadi warisan yang perlu dilestarikan di Indonesia.

Pasalnya, sopi sebagai minuman tradisional serta alat musik tradisional berbahan "kuli bia" atau kerang besar yaitu "tahuri" ternyata telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia asal Maluku sejak tahun 2016.

Hal ini terungkap dalam acara bincang-bincang bertemakan "Jurnalis dan Pelestarian Nilai Budaya Lokal" yang diselenggarakan oleh Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Maluku dengan menghadirkan Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud RI, Dr Najamudin Ramly serta Kepala BPNB Maluku, Rusli Manorek dan Pemimpin Redaksi Suara Maluku, Novi Pinontoan sebagai perwakilan media massa dan turut dihadiri para jurnalis di Neo Kafe Ambon, Jumat (26/7) malam.

"Minuman tradisional Sopi dan alat musik Tahuri asal Maluku, itu sudah menjadi warisan budaya. Karena Sopi dan Tahuri sudah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia sejak tahun 2016. Dan itu ada sertiffikatnya ditandatangani oleh menteri. Jadi harus dijaga dan dilestarikan. Tidak boleh dipunahkan. Karena itu sudah jadi warisan budaya," ungkap Kepala BPNB Maluku Rusli Manorek.

Menurutnya, sebelum sesuatu ditetapkan sebagai warisan budaya baik itu warisan budaya tak benda maupun warisan budaya benda, semuanya sudah dilakukan penelitian dan kajian secara mendalam oleh para ahli sosial budaya dan sejarah.

"Sebelum ditetapkan. Sudah dilakukan kajian mendalam oleh para ahl di pusat. Kami sebagai balai teknis hanya menyiapkan data-data dan pengamatan di masyarakat sesuai tradisi budaya setempat, barulah disampaikan ke pusat. Di pusat lah baru dikaji mendalam dari berbagai aspek dan bila memenuhi syarat lalu ditetapkan. Jadi Sopi dan Tahuri dari Maluku sudah ada sertiffikatnya sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia Sejak 2016. Itu diteken menteri dan diserahkan langsung kepada para kepala daerah. Jadi harus dijaga dan dilestarikan," jelas Rusli Manorek.

Ditanya soal sweping dan pemusnahan minuman Sopi oleh aparat keamanan di Ambon dan kabupaten lainnya di Maluku, Rusli Manorek mengatakan, itu urusan dan kewenangan pengambil kebijakan dan aparat keamanan yang melihat dari penyalahgunaan minuman tradisional tersebut terhadap gangguan kamtibmas. Namun pihaknya melihat dari aspek tradisi budaya lokal yang tidak boleh dihilangkan.

"Soal apakah Sopi adalah penyebab gangguan konflik dan mengganggu kamtibmas. Itu soal lain. Soal penyalahgunaan itu bukan kewenangan kami. BPNB hanya fokus pada aspek tradisi budaya yang memang sudah turun menurun di tengah masyarakat. Misalnya soal upacara atau prosesi adat, sudah sejak dulu kala kan Sopi dihadirkan dalam proses tersebut. Itulah fokus yang kami kaji," tuturnya.

Ia menambahkan, ada banyak warisan budaya yang perlu dilestarikan di Ambon dan Maluku umumnya. Karena itu, pihaknya sudah memprogramkan beberapa penelitian dan agenda kegiatan misalnya saja soal budaya makanan (kuliner), permainan rakyat atau olahraga tradisional misalnya "perahu manggurebe" dan lainnya.

Sementara itu, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud RI, Dr Najamudin Ramly, dalam kesempatan itu menyampaikan berbagai hal yang kurang dipahami oleh masyarakat maupun pengambil kebijakan di daerah, termasuk belum dipahaminya Undang-Undang tentang Cagar Budaya.‎

Sehingga ia meminta kalangan pers juga harus membantu sosialisasi terhadap berbagai warisan budaya maupun peninggalan yang perlu dijaga dan dilestarikan.

Najamudin menjelaskan, tentang warisan budaya itu ada dua jenis. Yaitu warisan budaya tak benda dan warisan budaya benda. ‎Untuk Indonesia saja dua jenis warisan tersebut jumlahnya  ribuan. Karena itu, Indonesia disebut sebagai bangsa yang kaya akan nilai budaya, belum termasuk bahasa daerahnya.

Menurutnya, selain ribuan warisan budaya yang ada di Indonesia, maka sembilan warisan budaya tak benda yang sudah dinyatakan sebagai warisan budaya dunia asal Indonesia yaitu batik, keris, wayang, tari samrad Aceh, noken Papua, tarian Bali, dan musik angklung bambu.

"Serta yang kita sedang upayakan untuk diusulkan lagi adalah pencak silat tradisional dan gamelan Jawa," ungkapnya.

Lebih lanjut Najamudin mengatakan, ada lima warisan budaya benda Indonesia yang sudah diakui badan PBB yaitu Unesco ‎masuk sebagai warisan budaya dunia yakni candi Borobudur, Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran, Sistem Pengairan Subak di Bali dan Sistem Pertambangan Batubara di Sawah Lunto.

Selain itu, katanya, ‎pihaknya juga sedang menyiapkan usulan untuk diakui oleh Unesco yaitu Taman Komodo,  Badak‎ dan hutan hujan tropis di Sumatera.

Untuk di Maluku pun Najamudin menyinggungnya. "Peninggalan kota tua Banda Neira juga masuk dalam jenis cagar budaya.  Harus dijaga dan dilestarikan. Sayangnya pak Des Alwi sudah tiada. Jadi pelestariannya turut ditangani dua kementerian yaitu Kemendikbud dan Kementerian Lingkungan Hidup," tuturnya.

Selain itu, Najamudin menambahkan, dirinya berharap akan ada pengakuan untuk karakteristik budaya bermusik dan menyanyi orang Ambon yang saat ini sedang diupayakan menjadi kota musik dunia atau City of Music oleh Unesco melalui Badan Ekonomi dan Kreatif (Bekraf).

"Tentang budaya musik dan nyanyi yang sudah menjadi tipikal orang Ambon, saya berharap bisa diakui sebagai salah satu kota musik dunia atau City of Music. Soal ini menjadi kewenangan Bekraf. Namun saya berharap bisa terwujud," harapnya.

Najamudin mengakui, pengalamannya mengantar orkestra musik dari Spanyol ke kota Ambon tahun 2018 lalu, sungguh mendapat respon sangat positif dari para pemusik negara itu.

"Responnya sangat positif ketika tampil dan elaborasi bersama musisi lokal di Ambon. Mereka sangat respek. Bahkan mereka bilang rasanya mau berlama lama dulu di Ambon. Itulah makna diplomasi budaya melalui musik," ungkapnya. (SM-05)

Penulis: SM-05
Editor:Redaksi

Baca Juga

error: Content is protected !!