Sekilas Info

Inovasi Lapangan Merdeka Perlu tapi Harusnya Ramah Lingkunan dan Pertimbangkan Kebutuhan Ruang Terbuka Hijau

Pengerjaan di Lapangan Merdeka Ambon yang akan berubah fungsi sebagai lapangan upacara dan lahan parkir. (Foto: FB)

satumalukuID - Proyek rehabilitas Lapangan Merdeka Ambon yang menggusur rumput dan diganti paving blok    kembali mendapati perhatian dari mantan staf Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Maluku yang kini telah berkarier di pemerintah pusat, Dr Roberto Akyuwen STP SE MSi‎.

Kepada suara maluku  Selasa  (23/7) melalui Whatsapp nya, Robert yang mengikuti perkembangan viral Lapangan Merdeka di media sosial, mengatakan, rehabilitasi dan inovasi memang penting. Namun tentunya melihat situasi dan kondisi lahan hijau di kota Ambon sangat minim, maka harus dipertimbangkan inovasi itu mestinya pembangunan berwawasan ramah lingkungan.

Pasalnya, lanjut doktor alumni UGM ini, sepantasnya Pemerintah Kota Ambon dan Provinsi Maluku memfasilitasi ruang terbuka hijau untuk aktivitas masyarakat  termasuk olehraga dan lingkungan hidup, bukan justru sebaliknya.

"Ada perspektif yang keliru. Sebab, kalau patokan menutup lapangan rumput untuk kepentingan upacara atau acara dan even saja. Lalu bagaimana dengan fungsi pemerintah untuk memfasilitasi ruang publik dan ruang terbuka hijau untuk kebutuhan warganya," ujar Robert yang kini berkarier di Otoritas Jasa Keuangan (OJK) RI namun sebelumnya sempat bekerja di Kementerian Keuangan RI dan Kemenko Perekonomian RI ini.

Menurutnya, tren global kota-kota milenial adalah menyediakan fasilitas lapangan terbuka hijau bagi masyarakat kota, yang semakin memerlukannya untuk rekreasi dan berolahraga karena tekanan hidup yang kian berat.

"Bagaimana mungkin warga akan beraktifitas dan berolahraga di atas lapangan paving blok? Ini keliru dan kurang mempertimbangkan kebutuhan masyarakat. Padahal pembangunan itu harus perhitungkan fungsi dan manfaatnya untuk rakyat, bukan sebaliknya untuk kepentingan pemerintah saja," jelasnya.

Menurutnya, kalau ingin Lapangan Merdeka multifungsi untuk kepentingan pemerintah dan masyarakat, ya harus ada win win solution. Sehingga hak-hak masyarakat kota Ambon tidak hilang secara spontan, tentunya juga DPRD Kota Ambon dan DPRD Maluku jangan hanya diam namun harus aktif melakukan pengawasan terhadap kebijakan yang keliru.

Ia lantas memberikan solusi dengan contoh. "Kalau Lapangan Merdeka mau dimultifungsikan boleh saja. Solusinya, jangan pakai paving blok yang hanya untuk antisipasi genangan air atau becek saat hujan. Namun bisa juga rdigunakan rumput sintetis seperti Lapangan C Senayan Jakarta,  jadi bisa fungsi ganda. Dipakai untuk  upacara dan aktivitas olahraga," ungkap Robert yang juga adalah putra dari mantan Sekda dan Wakil Gubernur Maluku, Drs Selvianus Akyuwen ini.

Ia menambahkan, memang Kota Ambon perlu banyak dibenahi. Namun tentunya pembenahan juga harus memperhitungkan kondisi keterbatasan lahan terbuka hijau.

Dengan ditutupnya lapangan rumput dengan paving blok, Pemkot Ambon dan Pemprov Maluku juga harus pikir lapangan lain untuk aktivitas warga, bukan saja soal main bola, tapi atletik, softball dan olahraga dasar lainnya bagi kebutuhan anak-anak sekolah.

"Pertanyaannya, dimana sekarang anak-anak muda dan warga berolahraga di lapangan terbuka hijau yang gratis? Tidak ada kan? Sedangkan di stadion Mandala Remaja Karpan itu untuk pembinaan olahraga prestasi dan even resmi. Kalau pun dipakai harus sewa dan bayar. Lalu apakah kita matikan potensi-potensi anak muda begitu saja? ” bebernya.

Dia menambahkan, belum lagi soal lingkungan hidup dan estetika kota, termasuk aspek historisnya dan lokasi kebersamaan komunitas olahraga dari berbagai latar belakang membaur sehingga teripta perdamaian alamiah .

“Tidak mungkin sebagai ibukota provinsi, Ambon tidak memiliki satu pun lapangan berumput hijau di pusat kota?" timpal Robert.

Sementara itu, salah satu warga Maluku di kota Makassar, Jori Sahanaya, juga menyampaikan kekagetannya atas komentar Kadis PU Maluku Ismael Usemahu, yang mencontohkan pengalihan fungsi Lapangan Merdeka seperti juga Lapangan Karebosi Makassar.

"Beliau keliru mencontohkan proyek paving blok lapangan Merdeka Ambon dengan Karebosi Makassar. Sebab Pemkot Makassar dan Pemprov Sulsel, memang merenovasi Lapangan Karebosi menjadi kawasan moderen yang ada pertokoannya. Namun lahan hijau seperti lapangan rumput untuk warga beraktifitas dan berolahraga tetap ada. Jadi warga Makassar bisa bermain bola, softball dan track untuk jogging dan atletik pun masih ada," ungkap Jori Sahanaya melalui WA nya kepada media ini, Selasa (23/7).

Sementara itu, setelah dikiritk dan disesalkan warga Ambon dan para netizen di media sosial, Gubernur Maluku Irjen Pol Pur Murad Ismael angkat bicara.

Menurutnya, lapangan Merdeka bukan lapangan sepakbola. ‎Sehingga perlu ditata dan difungsikan dengan baik.

"Kita pasang paving blok dikritik. Ini karena belum jadi. Nanti kalau sudah jadi, masyarakat bisa gunakan duduk-duduk dan bermain, karena kita akan bikin sudut-sudutnya dengan warna warni yang bisa dijadikan ikon untuk Maluku, khususnya Kota Ambon," ungkap Murad.

Ditambahkan, pihaknya sudah berkordinasi dengan Walikota Ambon sejak lama, soal kondisi Lapangan Merdeka yang sering becek. Nah, Walikota Ambon bilang itu aset Pemprov. Makanya Pemprov melakukan penataan dan pasang paving blok.

Namun sayangnya, Gubernur Murad Ismael lupa beliau juga adalah mantan pemain bola semasa muda di Lapangan Merdeka dan  tidak menyinggung soal lahan terbuka hijau yang sangat minim di Kota Ambon.

Dan kemana warga kota bermain bola, berolahraga gratis, sekolah-sekolah melakukan praktek pelajaran olahraga serta para atlet muda berlatih atletik sebagai salah satu cabang andalan Maluku di berbagai even nasional seperti di arena PON. (SM-05)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!