Sekilas Info

Jamu Delegasi Diplomat Afganistan, Walikota Cerita Ambon yang Dulu Kelam Sekarang Jadi Kota Harapan

Sejumlah diplomat Afganistan berfoto bersama anak-anak Kota Ambon yang tergabung dalam Amboina Ukulele Kids Community yang ikut perform dalam jamuan makan malam di Rumah Dinas Walikota Ambon, Minggu (21/7).

satumalukuID – Walikota Ambon Richard Louhenapessy dan Wakil Walikota Syarif Hadler, Minggu (21/7) menjamu delegasi Diplomat Afganistan di rumah dinas walikota. Dalam kesempatan tersebut, walikota menceritakan berbagai hal tentang Kota Ambon.

Saat memberi sambutan, Walikota Richard menjelaskan, pihaknya bersama masyarakat Ambon menyambut delegasi diplomat Afganistan dengan penuh sukacita. Dia juga mengapresiasi kepercayaan pemerinta pusat yang memilih Kota Ambon sebagai kota bagi delegasi Afganistan untuk belajar tentang kerukunan hidup masyarakat dan upaya bangkit dari konflik social.

Mengawali sambutannya, walikota menyebut, Ambon ini hanyalah sebuah kota kecil di Indonesia. Namun, nama Ambon sangat masyhur. Karena sejak ratusan tahun lalu kota ini sangat diminati orang Eropa sebagai pusat rempah-rempah. “Usia kota Ambon ini sudah cukup tua,” katanya.

Dia lalu berkisah, 20 tahun lalu kota ini mengalami konflik sosial yang luar biasa. Situasi ini berdampak buruk, tidak hanya bagi masyarakat Ambon, tapi juga Indonesia. Saat itu, ribuan orang meninggal tanpa alasan jelas.

Tetapi, lanjut Richard, 20 tahun kemudian Ambon mendapat penghargaan sebagai kota dengan tingkat kerukunan antar umat beragama terbaik di Indonesia.

"20 tahun lalu ini kota neraka untuk Indonesia. Hampir tidak ada satupun orang yang berminat mengunjungi ambon. Tetapi sekarang begitu hebatnya kultur budaya Pela Gandong, menjadikan Ambon sebagai kota yang menjanjikan,” ujarnya.

Selain adanya kultur adat, musik menjadi salah satu alat perekat harmoni kehidupan masyarakat. Musik mempersatukan orang Ambon tanpa melihat latarbelakang suku dan agama. Musik telah menjadi sarana perdamaian.

“Anak-anak di ambon dilatih sejak kecil untuk saling menghormati satu dengan yang lain lewat musik. Hubungan ini diharapkan jadi contoh bagi Indonesia dan dunia,” timpalnya.

Satu hal lagi yang dikemukakan walikota, ada tentang pribadi orang Ambon. Dengan kulit sawo matang yang cenderung “gelap”, orang Ambon memiliki nilai keramahtamahan yang luar biasa. “Itu menjadi kekuatan dari masyarakat ambon dalam membangun kota serta didukung juga dengan keharmonisan unsur pimpinan di kota ini,” terang Richard.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan, Kementerian Luar Negeri RI, Yayan G.H, Mulyana, mengatakan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan masyarakat Kota Ambon yang telah menerima delegasi Afganistan.

Delegasi Afganistan ini adalah calon-calon pemimpin di pemerintahan yang ingin belajar bagaimana menyelesaikan konflik dan membangun harmoni masyarakat yang damai. Apalagi sudah 40 tahun negara Afganistan dilanda konflik.

Kunjungan ke Ambon juga merupakan komitmen presiden Jokowi yang beberapa waktu lalu berkunjung ke Afganistan dimana Indonesia dinilai bisa menjadi teladan untuk menciptakan perdamaian di Afganistan karena tidak memiliki kepentingan apapun.

Menurut dia, selama tiga hari terakhir pejabat Afganistan telah bertemu dengan pemimpin, stakeholder dan masyarakat dan berdialog  untuk mempelajari bagaimana masyarakat ambon menunjung tinggi nilai-nilai kearifan lokal.

“Bagi Afganistan apa yang telah dilakukan untuk ambon adalah hal penting yang bisa dipelajari oleh delegasi Afganistan,” timpalnya. (m-5)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!