Sekilas Info

Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas

ISTILAH generasi millennial sedang akrab terdengar dimana-maana pada belahan bumi ini, bukan merupakan suatu rahasia umum lagi dimana istilah ini sangat dekat dengan generasi muda atau generasi yang dilahirkan pada tahun 1980 – 1990, atau pada awal tahun 2000.

Istilah millennial berasal dari millenials seperti yang disampaikan oleh dua pakar sejarah dan penulis Amerika yaitu William Strauss dan Neil Howe dalam beberapa bukunya Millenial Generation atau generasi Y.

Sesuai laporan Ericsson yang mewawancarai 4000 responden yang tersebar pada 24 negara di dunia ditemukan 10 Tren Consumer Lab untuk memprediksi beragam keinginan konsumen. Dari 10 tren tersebut beberapa diantaranya adalah adanya perhatian khusus terhadap perilaku generasi millennial.

Dalam laporan Ericsson tersebut beberapa diantaranya adalah adanya perhatian khusus terhadap perilaku millennial berupa produk teknologi yang mengikuti gaya hidup masyarakat atau generasi millennial.

Dikatakan bahwa pergeseran perilaku yang mengalami perubahan beriringan dengan teknologi . Produk teknologi baru akan muncul sebagai akomodasi teknologi, ujar Presiden Director Ericsson Indonesia Thomas Jul.

Berbarengan kemajuan IPTEK, kejahatan narkotikapun mengalami perkembangan pesat dengan memanfaatkan teknologi komunikasi untuk memperkenalkan berbgai produk narkotika yang dapat merusak tatanan kehidupan para millennial dan juga masyarakat secara keseluruhan.

Narkoba menjadi ancaman serius dan mengerikan bagi bagi generasi muda baik dilingkungan rumah tangga, lingkungan bermain, dan lingkungan masyarakat. Penyebaran dan peredaran gelap narkoba telah merambah keseluruh lapisan masyarakat, termasuk dunia pendidikan dimana telah menjangkau strata pendidikan mulai SD sampai Perguruan Tinggi.

Dengan demikian sangat memgancam tatanan kehidupan generasi muda di seluruh Negara. Untuk Indonesia sesuai hasil penelitian membuktikan tidak ada suatu daerah atau provinsi/kabupaten/­kota yang bebas dari peredaran gelap narkoba, semuanya telah tercemar.

Seseorang mengkonsumsi narkoba sejak usia muda dapat menentukan arah kerusakan masa depannya. Dengan demikian generasi muda perlu menghindari penyalahgunaan narkoba dalam kehidupan pribadi maupun keluarga.

Generasi muda adalah tulang punggung suatu Negara, akan tetapi bila generasi muda dari suatu Negara banyak menyalahgunakan atau menjadi korban penyalahgunaan narkoba maka akan terjadi hilangnya suatu genersi terbaik (Lost generation) dari bangsa tersebut.

Untuk menciptakan generasi masa depan yang berkualitas butuh kerja keras dari berbagai pihak seperti keluarga, lingkungan masyarakat dan pemerintah.

Dari penelitian yang telah dilakukan resiko seorang anak menjadi pecandu narkoba sangat berhubungan dengan dua factor antara lain, factor resiko seperti perilaku bermasalah (mudah depresi, kurang kontrol orang tua, perilaku yang tidak terkendali, mempunyai teman yang lebih tua/pemakai narkoba dll) yang ada dalam diri dan lingkungan anak dengan demikian perlu mendapat penguatan untuk merobah pola pikr seperti ini melalui panduan dengan factor protetifnya ya seperti (perhatian/monitor orang tua, perilaku terkendali dll). Kedua factor ini memiliki peran penting dalam mencegah terjadinya penyalahgunaan narkoba (Raising Drug-Free Children).

Bila seorang anggota keluarga terkena narkoba, berbagai persoalan kompleks yang akan muncul dalam kehidupan keluarga yang dimulai dengan masalah psikologis, misalnya gangguan dalam keharmonisan keluarga, munculnya rasa malu dalam diri ayah, ibu dan saudara-saudaranya kepada tetangga dan masyarakat.

Masalah psikologi ini kemudian meningkat menjadi masalah ekinomi dimana terkurasnya seluruh kekayaan keluarga dipergunakan untuk membeli narkoba serta untuk biaya pengobatan penderita narkoba dan butuh waktu yang lama dalam proses pengobatan dan rehabilitasi yang belum tentu ada kemungkinan sembuh.

Dari masalah ekonomi dapat meningkat menjadi munculnya kekerasan dalam keluarga seperti perkelahian, pemaksaan kehendak, penganiayaan, bahkan pembunuhan sesama anggota keluarga, kejahatan tersebut kemudian menyebar ke tetangga dan ke masyarakat luas. Dimulai dari masalah narkoba, muncul persoalan yang lebih besar seperti pemaksaan kehendak, krimininalitas, protitusi, korupsi, kolusi, dan kejahatan lainnya.

Bila kerusakan tatanan kehidupan meluas ke seluruh pelosok negeri maka pembangunan akan terhambat, kemiskinan meluas, kekacauan merata dimana-mana.

Untuk memecahkan permasalahan ini faktor pembinaan keluarga dianggap dominan serta peran dunia pendidikan sangat penting untuk memberikan pikiran positif untuk mendudkung pendidikan karakter sejak usia dini kepada generasi bangsa Indonesia agar ke depan dapat menjadi generasi unggul serta kompetitif serta tegar dan kuat.

Pada abad ke 21 Indonesia akan menghadapi periode yang sangat penting dalam sejarah bangsa ini yakni satu abad Indonesia merdeka pada tahun 2045 mendatang, diperkirakan Indonesia akan menjadi salah satu Negara raksasa dunia seperti dijelaskan oleh Indonesia Educational statistics, yang diterbitkan oleh Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2012.

Sesuai komposisi demografi Indonesia saat ini adalah sebanyak 101.828.000 orang dengan rentang usia 0-23 tahun kini sedang mengikuti pendidikan pada berbagai jenjang mulai dari PAUD/SD/MI/SMP/MTS/­SMA/SMK/MA serta perguruan tinggi negeri maupun swasta.

Pada tahun 2045 nanti mereka akan 33 s/d 55 tahun dan merekalah yang akan menempati seluruh jajaran profesi di bangsa dan Negara Indonesia ini, seperti pengusaha, politikus, birokrat, serta pekerja professional dalam bidang jasa layanan maupun perdagangan dan industri.

Untuk memperingati Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) tahun 2019 di Indonesia dengan Tema Nasional yaitu  “Milenial Sehat Tanpa Narkoba Menuju Indonesia Emas “ memberikan suatu catatan penting untuk direnungkan sekaligus dilaksanakan kepada seluruh elemen bangsa dalam menciptakan generasi millennial yang produktif serta unggul dan siap untuk kompetitif, koperatif memasuki kompetisi global yang semakin menantang memerlukan kerja keras, kerja cerdas tidak menyalahgunakan narkoba serta memiliki integritas terhadap kemajuan bangsa dan Negara Indonesia tercinta.

(Penulis: Drs  A. Timisela MSi/Staf di BNN Provinsi Maluku)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!