Sekilas Info

Harapan Orang Maluku Ada di Kabinet Jokowi-Ma’ruf Amin, Lalu Siapa Itu Ferry Latuhihin?

Ferry Latuhihin (ketiga dari kiri) saat menjadi narasumber di acara diskusi di Jakarta.

PASANGAN Joko Widodo (Jokowi) dan KH Maruf Amin secara resmi telah ditetapkan jadi pemenang pilpres 2019 oleh KPU pasca keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) sebagai presiden dan wakil presiden RI periode 2019-2024.

Kedua pasangan yang sudah sah ini, nantinya akan dilantik pada bulan Oktober 2019. Tentunya kepemimpinan keduanya akan dibantu dan didukung oleh para menteri dan pimpinan lembaga negara dalam kabinet selama lima tahun ke depan masa jabatan mereka.

Nah, terkait dengan komposisi kabinet sesuai konstitusi kita merupakan hak prerogatif presiden. Kepala negara lah yang akan menentukan dan memilih  tokoh atau publik figur siapa yang akan membantunya di kabinet lima tahun mendatang.

Namun demikian, kini mulai hangat beredar dan viral di media sosial soal struktur dan nama-nama yang akan menjabat menteri dan kepala lembaga negara setingkat menteri.

Banyak versi komposisi kabinet yang beredar luas dan diantaranya juga diterima oleh penulis. Yang mengejutkan, diantaranya terdapat satu nama yang dari asal usulnya dipastikan berasal atau berdarah Ambon Maluku.

Munculnya nama tokoh tersebut, mengagetkan penulis karena selama ini di Ambon dan Maluku umumnya sosoknya kurang populer. Diduga pula namanya tidak ada dalam beberapa tokoh putra daerah yang diusulkan Gubernur Maluku Irjen Pol Pur Murad Ismail dan Ketua DPRD Provinsi Maluku Edwin Huwae SH kepada Presiden Jokowi belum lama ini.

Terlepas dari benar atau tidak serta apakah nanti terwujud atau hanya wacana saja, namun jabatan apa dan siapakah figur asal Maluku yang terdapat dalam komposisi kabinet yang beredar tersebut?

Dari struktur kabinet yang beredar di medsos itu, terdapat nama Ferry Latuhihin yang menempati posisi pada lembaga pemerintah non kementerian yakni sebagai Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal.

Lalu siapakah sosok Ferry Latuhihin itu? Bila dilihat dari fam atau marga nya, maka nama keluarga itu berasal dari Negeri Latuhalat kecamatan Nusaniwe Kota Ambon. Sayangnya data diri pribadi yang bersangkutan sulit ditelusuri secara digital maupun di berbagai referensi.

Namun berbanding terbalik bila menelusuri kiprah profesi dan latar belakang akademik Ferry Latuhihin. Pasalnya, dia sangat dikenal luas dan punya seabreg aktifitas keahlian sebagai seorang pengamat ekonomi dan pasar modal di level nasional.

Dari jejak digital yang penulis telusuri, sosok Ferry Latuhihin terkenal di berbagai seminar atau workshop level nasional dan internasional tentang ekonomi dan pasar modal sebagai pembicara atau nara sumber dan juga analis yang diekspos sejumlah media massa atau jurnal.

Kiprahnya itu berkaitan dengan latar belakang akademik yang ditempuhnya. Dari data pendidikannya, Ferry Latuhihin ternyata menjalani studi pendidikan tinggi nya mulai dari sarjana, magister hingga doktor bidang ekonomi di luar negeri yaitu ketiga strata itu diraihnya dari Universitas Erasmus Rotterdam Belanda.

Dari latar belakang pendidikannya itu. Maka tidak mengagetkan bila sosok Ferry Latuhihin punya banyak pengalaman dalam berbagai posisi atau jabatan penting di dunia perbankan atau lembaga ekonomi dan keuangan di sejumlah kota baik di Indonesia maupun luar negeri.

Diantaranya pernah sebagai Chief Finansial Market Analyst Danareksa Research Institute Jakarta, Senior Market Analyst Lehman Brothers New York Amerika Serikat, Chief Economics Bank Internasional Indonesia Jakarta, Direktur Bisnis Research dan Development Center Surabaya serta juga sebagai kolomnis ekonomi dan pasar modal di media Kompas, Bisnis Indonesia dan Investor Daily. Serta saat ini masih menjadi Managing Director Breco Advisory Jakarta dan sejumlah jabatan lainnya.

Dari sekilas catatan aktifitas dan kiprah Ferry Latuhihin tersebut, pantaslah kalau namanya tertera dalam komposisi kabinet yang beredar di media sosial dalam posisi sebagai Kepala Badan Kordinasi Penanaman Modal. Soal apakah nanti viral itu terwujud atau tidak, itu soal hak prerogatif presiden.

Pasalnya, harapan untuk putra putri asal Maluku duduk lagi di kabinet sangat dirindukan masyarakat. Karena sudah lama tidak ada yang dipercayakan menjadi menteri, wakil menteri atau kepala lembaga non kementerian. Terakhir hanyalah Prof Dr Alex Retraubun yang menjabat Wakil Menteri Perindustrian dan almarhum Jenderal TNI Pur George Toisuta yang  jabat Kepala Staf TNI AD di era pemerintah SBY.

Padahal dalam sejarah pemerintahan di Indonesia sejak pasca kemerdekaan, orde lama dan orde baru, kita tahu putra-putra Maluku mendapatkan posisi jabatan-jabatan penting di kabinet bahkan ada yang menjadi Penjabat Presiden RI beberapa kali saat Presiden Soekarno ke luar negeri yakni dr Johanes Leimena sebagai Menteri Kesehatan dan Wakil Perdana Menteri, disusul Prof Dr Gerald Siwabessy seorang  radiologi dan ahli nuklir juga menjadi Menteri Kesehatan, Abdul Gafur sebagai Menteri Pemuda dan Olahraga serta berbagai jabatan penting lainnya termasuk di jajaran TNI AD AU dan AL.

Asa untuk adanya putra asal Maluku di kabinet kini bergaung kembali. Harapan itu bukanlah hayalan belaka. Namun sosok atau figur-figur daerah seribu pulau ini banyak yang memenuhi syarat masuk kabinet. Mereka ada di berbagai profesi baik sebagai akademisi, birokrat, teknokrat, profesional, politisi maupun di TNI Polri.

Para tokoh itu bisa disebut diantaranya yakni selain Ferry Latuhihin Phd (profesional), Prof Dr Eddy Omar Syarif Hieriej (Guru Besar FH UGM), Prof Dr Thomas Pentury (mantan Rektor Unpatti/Dirjen Bimas Kristen Kemenag RI), Dr Ir William Sabandar (teknokrat/Direktur Utama MRT Jakarta), Prof Dr Josep Luhukay (profesional/Guru Besar Ilmu Komputer UI), Dr Ir Victor Nikijuluw (mantan Dirjen di Kementerian Kelautan dan Perikanan serta mantan Rektor Ukrida Jakarta), Letjen TNI Pur Nono Sampono (Wakil Ketua DPD RI/TNI), Mercy Barends (politisi/anggota DPR RI), Irjen Pol Pur Murad Ismail (Gubernur Maluku/Polri), Prof Dr Paul Tahalele (Guru Besar FK Unair), Prof Dr Alex Retraubun (mantan Wamen Perindustrian/Guru Besar Faperik Unpatti) dan seabrek figur lainnya termasuk para jenderal asal Maluku di TNI Polri.

Akhirnya, keinginan, asa dan harapan masyarakat Maluku tersebut, tentunya semua dikembalikan pada kebutuhan pemerintahan dan hak prerogatif sesuai UUD yang dimiliki presiden.

Apakah nanti dilirik dan diambil figur yang mencerminkan keterwakilan wilayah Indonesia sesuai dengan kemampuan sosok tersebut? Ataukah lagi-lagi Maluku menjadi "korban" tarik menarik kepentingan partai politik, golongan dan kelompok?

Walahualam. Kita lihat saja nanti. (novi pinontoan)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!