Sekilas Info

Catatan dari Meet Up Gerakan Bersama Untuk Maluku Cerdas di Den Haag; Heka Leka, Penggerak Perubahan

Meet Up yang berlangsung satu hari di KBRI Den Haag ini juga mendatangkan nara sumber yang datang jauh dari Ambon. Elonamayo Laturiuw, Kepala SMA Kristen Ambon menceritakan pengalamannya sebagai guru hingga menjadi kepala sekolah yang harus bisa selalu memberikan motivasi kepada anak didiknya agar mau terus belajar meskipun ditengah keterbatasan yang mereka alami.

satumalukuID - Selasa, 2 Juli 2019 boleh dibilang menjadi sebuah titik sejarah baru bagi masyarakat keturunan Maluku yang ada di Belanda.

Kenapa? karena di hari itu, lebih dari 50-an warga keturunan Maluku di Belanda, duduk bersama dalam sebuah forum diskusi yang dihelat oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag, bertajuk Moluccas Educations Meet Up. Adapun tema acara ini adalah Gerakan Bersama Untuk Maluku Cerdas.

Mereka yang berkumpul ini datang dari berbagai latar belakang, baik sebagai pribadi maupun mewakili organisasi, tapi dengan satu tujuan, ingin mendengar cerita tentang kondisi riil dunia pendidikan di Maluku. Juga sekaligus berbagi ide dan saran untuk bagaimana bisa memajukan anak-anak Maluku di bidang pendidikan dari perspektif mereka sebagai orang-orang yang sudah lama hidup di negara maju.

Kegiatan yang ide awalnya dicetus oleh Yayasan Heka Leka di Ambon ini, kemudian disambut positif oleh KBRI Den Haag dalam hal ini Duta Besar RI untuk Belanda, I Gusti Agung Wesaka Puja.

“Saya sangat kagum dengan apa yang dikerjakan oleh sekelompok anak-anak muda di Ambon ini, dan saya berpikir kalau apa yang mereka kerjakan ini harus kita dukung sepenuhnya,” kata Dubes yang akrab disapa Pak Puja ini.

Apalagi, menurutnya, peningkatan mutu di bidang pendidikan adalah salah satu prioritas dari Pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini yang salah satu implementasinya dengan menerbitkan Kartu Indonesia Pintar (KIP).

Pemberian KIP bagi para pelajar ini bertujuan agar mereka bisa memperoleh pendidikan yang layak, tanpa perlu lagi memikirkan biaya-biaya yang mahal. Namun, tak bisa juga dipungkiri kalau KIP memang belum menjangkau sampai kepada anak-anak yang berada jauh di pelosok-pelosok daerah, seperti Maluku yang dihadapkan dengan kondisi geografisnya yang sangat kompleks karena terdiri dari pulau-pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Untungnya, ada lembaga seperti Heka Leka yang mau turut berjuang membantu anak-anak di daerah memperoleh apa yang seharusnya menjadi hak mereka, yakni pendidikan.

Dalam kesempatan yang sama, Mary Tupan-Wenno salah seorang nara sumber yang merupakan Executive Director ECHO. Center for Diversity Policy
Vice Chair GAPS, Global Access to Postsecondary Initiative menceritakan pengalamannya selama 20 tahun lebih bekerja dan berkontribusi dalam meningkatkan keberhasilan anak-anak muda di bidang pendidikan serta berjuang untuk masyarakat yang lebih inklusif.

Menurutnya, apa yang dikerjakan oleh ECHO bertujuan untuk memperkenalkan anak-anak pada kesempatan pendidikan yang lebih tinggi, mengembangkan ketrampilan akademik mereka termasuk memberdayakan identitas kulturalnya.

Untuk mencapai tujuan itu, kata Mary, anak-anak harus punya harapan yang tinggi kemudian ditunjang oleh para pengajar dengan kompetensi yang memadai, dan tidak kalah penting adalah dukungan orang tua.

Lebih jauh dijelaskan pula bahwa, ECHO merancang berbagai program agar anak-anak bisa menggapai kesuksesan yang mereka impikan. Diantarnya membuat ECHO Junior Academy, program Pra Akademik, membuat program mentor bagi siswa yang hampir lulus, hingga memberikan ECHO Awards yang diharapkan bisa menjadi pemicu bagi anak-anak agar terus belajar. Sasarannya, anak-anak Sekolah Dasar, anak-anak dengan latar belakang migran, mahasiswa tahun pertama serta profesional muda.

Menurut Mary, dalam mengimplementasikan visi dan misi, harus ada optimisme, idealis serta realistis. Dan untuk konteks Maluku, apa yang sudah dikerjakan oleh Heka Leka juga adalah sebuah gerakan yang sangat baik untuk menuju kepada perubahan. Karenanya, kata Mary, Heka Leka adalah motor penggerak menuju kepada sebuah perubahan untuk pendidikan Maluku yang lebih baik.

Meet Up yang berlangsung satu hari di KBRI Den Haag ini juga mendatangkan nara sumber yang datang jauh dari Ambon. Elonamayo Laturiuw, Kepala SMA Kristen Ambon menceritakan pengalamannya sebagai guru hingga menjadi kepala sekolah yang harus bisa selalu memberikan motivasi kepada anak didiknya agar mau terus belajar meskipun ditengah keterbatasan yang mereka alami.

Tidak hanya untuk anak didik, ia pun ditugaskan pemerintah untuk ikut membantu para guru di daerah dalam hal pengembangan kurikulum sekolah.

Khusus untuk anak didik, menurutnya persoalan yang dihadapi sangat kompleks, mulai dari anak broken home akibat hubungan orang tua yang tidak baik, masalah ekonomi sehingga anak harus ikut bekerja dan sekolah pun jadi terbengkalai hingga masalah lingkungan yang terkait dengan minuman keras hingga seks bebas.

Sedangkan yang terkait dengan masalah guru, katanya, kualitas para guru di Maluku masih perlu ditingkatkan lagi. Terlebih, para guru yang ada di daerah yang jauh dari pusat pemerintahan. Masalah lainnya adalah, guru-guru yang sudah merasa nyaman dengan keadaan yang ada sehingga tidak mau lagi untuk lebih mengembangkan diri dan kemampuan mereka, sehingga tidak bisa menjadi contoh yang baik bagi para siswa.

“Peran orang tua pun sangat penting dalam membina serta memberikan pendidikan yang layak bagi anak,” tandasnya.

Untuk mengatasi berbagai persoalan di bidang pendidikan ini, lanjut Laturiuw, maka pemerintah harus memainkan peran yang sangat penting, mulai dari mengatasi masalah kondisi geografis daerah yang sulit dijangkau, menyediakan anggaran, sarana-pra sarana hingga masalah kekurangan guru.

Namun, ia tak memungkiri kalau untuk semua hal tersebut, pemerintah tidak bisa bekerja sendiri dan memerlukan dukungan berbagai pihak termasuk lembaga seperti Heka Leka.

Khusus untuk sekolah yang dipimpinnya, lanjutnya, beberapa program sudah diterapkan seperti menerapkan open management dengan menggandeng Heka Leka, membuka kotak saran serta membuat program peningkatan kapasitas guru.

Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Ambon, Fahmi Salatalohy memaparkan tentang kondisi pendidikan di Kota Ambon dibawah kepemimpinan Walikota Richard Louhenapessy. Pengembangan pendidikan bagi anak usia dini menjadi salah satu sasaran dengan melakukan program peningkatan layanan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

Pemerintah Kota Ambon menurutnya, juga meningkatkan jaminan kepastian masyarakat untuk memperoleh layanan pendidikan dasar yang bermutu dan setara, melalui kebijakan peningkatan daya tampung SD dan SMP, peningkatan kapasitas kualitas pendidik dan tenaga kependidikan, peningkatan pembinaan minat, bakat dan kreatifitas siswa serta peningkatan dan pemerataan akses, mutu dan tata kelola pendidikan dasar.

Menutup sesi pemaparan, Stanley Ferdinandus dan Mega Pattiasina dari Heka Leka membagi cerita tentang pengalaman, suka duka sampai jatuh bangun mereka selama lebih dari tujuh tahun, berjuang untuk mencapai mimpi “Maluku Cerdas”.

Memulai kerja dari nol, belum mengenal banyak orang dan lembaga, sampai saat ini nama Heka Leka menjadi besar dan dikenal dimana-mana menjadikan mereka lebih getol lagi bekerja membantu anak-anak Maluku mendapatkan akses pendidikan.

Bagi Heka Leka, kepercayaan yang mereka peroleh sekarang, menjadikan tanggungjawab mereka lebih besar lagi dan mereka harus bekerja lebih keras lagi.

Sampai saat ini, dalam menjalankan visi dan misi Untuk Maluku Cerdas, Heka Leka sudah menjangkau lebih dari 15.897 siswa dan 3.737 guru dari 779 sekolah yang tersebar pada 192 desa dan lebih dari 50 pulau.

Mereka juga sudah berhasil mendistribusikan sebanyak 21.696 buku dan membentuk 87 komunitas serta memberikan 20 beasiswa Maluku Cerdas termasuk mendirikan sebuah PAUD di Paperu, Saparua Kabupaten Maluku Tengah.

Dan saat ini, dengan dukungan yang datang dari masyarkat Maluku di Belanda, makin meningkatkan rasa optimis Heka Leka, bahwa mimpi Maluku Cerdas pasti akan menjadi kenyataan. Salam Maluku Cerdas!!! (Febby Kaihatu)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!