Sekilas Info

Pemprov Maluku Masih Tunggu Rekomendasi Badan Geologi soal Bencana Longsor di Kampus IAIN Ambon

Tim Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dibantu sejumlah relawan meneliti lokasi pergerakan tanah yang di kawasan kampus Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon, Negeri Batumerah, Ambon, Maluku, Sabtu (15/6/2019).(ANTARA/Izaac Mulyawan)

satumalukuID - Rekomendasi yang didasarkan atas hasil survei Tim dari Badan Geologi, Cq Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) di Bandung, terhadap bencana tanah bergerak (longsor) di Kompleks Insititut Agama Islam Negeri (IAIN) Ambon di Negeri Batumerah masih belum dirilis.

Kadis ESDM Maluku, Martha Nanlohy, di Ambon mengatakan, tim dari Badan Geologi Cq Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi(PVMBG) telah mengambil foto lokasi, sampel tanah dan dokumen geologi lainnya pada 14 Juni 2019.

"Jadi tim memiliki tenggat waktu dua pekan setelah melakukan kajian untuk memutuskan rekomendasi soal longsor di kompleks IAIN Ambon sehingga berbagai pihak terkait bencana alam tersebut, terutama rektorat maupun civitas akademika setempat diminta bersabar," ujarnya Kamis (27/6).

Martha mengatakan, rekomendasi tim Badan Geologi akan memutuskan apakah aktivitas perkuliahan masih bisa berlanjut di kompleks IAIN, kawasan Batumerah atau tidak.

"Bila rekomendasi ternyata kampus IAIN tidak layak lagi di Batumerah, maka harus dicari lokasi baru yang terjamin keamanan maupun keselamatan beraktivitas," katanya.

Dia mengemukakan, kondisi keretakan sejumlah gedung saat ini mempengaruhi aktivitas perkuliahan sehingga telah dijalin koordinasi dengan Organisasi Perangkat Daerah (OPD) di jajaran Pemprov Maluku, Polda Maluku, Kodam XVI/Pattimura dan berbagai pihak berkompotemn lainnya untuk melakukan penanganan tanggap darurat.

Menurut dia, tim dari Badan Geologi Bandung, berdasarkan surat melakukan kajian sesuai permintaan yang didukung laporan sementara tim geologi Dinas ESDM Maluku yang melakukan peninjauan pada 4 Juni 2019 tercatat bencana geologi berupa gerakan tanah atau longsor dengan jenis debris slide dan ambelsan.

Bentuk longsor berupa hiperbola atau setengah lingkaran, panjang dan lebar longsor tidak dapat diukur karena tanah masih bergerak dan terdapat garis polisi.

"Empat bangunan mengalami kerusakan cukup berat, yakni gedung audiotorium, gedung perpustakaan, gedung laboratorium matematika dan gedung genset (amblesan). Dua lainnya yang akan terkena dampak juga, yaitu gedung pusat (rektorat) dan gedung dan tarbiyah," kata Martha.

Dari hasil pemantauan, langkah lainnya yang ditempuh OPD teknis adalah kepolisian telah memasang tanda larangan berupa garis polisi di areal lokasi longsor tersebut.

Rekahan-rekahan tanah yang terbuka telah ditutup dengan terpal atau tanah liat/lempung untuk menghindari masuknya air hujan yang sebagai pemicu longsor. (alex sariwating)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!