Sekilas Info

Prihatin! Hasil Penelitian di Unpatti; Warga Lokal di Maluku Mulai Meninggalkan Kebiasaan Makan Sagu

satumalukuID - Peneliti sagu dari Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon, Wardis Girsang, mengatakan bahwa masyarakat lokal Maluku mulai meninggalkan sagu dan beralih ke beras.

"Provinsi Maluku merupakan daerah penghasil dan pengonsumsi sagu sebagai makanan pokok, tetapi yang terjadi saat ini masyarakat lokal mulai meninggalkan sagu dan beralih mengonsumsi beras," katanya di Ambon, Sabtu (22/6).

"Masyarakat yang mengolah sagu saat ini sangat sedikit jumlahnya dan berdampak pada kenaikan harga sagu, karena produksi sagu sedikit dan harganya menjadi lebih mahal dari beras," katanya.

Wardis menjelaskan bahwa sagu menghasilkan pati kering sumber karbohidrat, dan bisa diolah menjadi bioenergi. Potensi sagu Maluku belum dimanfaatkan secara optimal, dan masyarakat setempat perlahan meninggalkannya, beralih ke sumber karbohidrat lain.

"Perubahan ini dikarenakan program pemerintah untuk mengatasi krisis pangan melalui program raskin yang saat ini lebih dikenal dengan rastra atau beras sejahtera, hal ini yang menyebabkan masyarakat lebih memilih konsumsi beras dibandingkan pangan lokal," ujarnya.

Padahal, ia menjelaskan, sagu memiliki kadar kalori yang hampir sama dengan jagung dan beras, dan lebih mudah dibudidayakan.

"Sagu menyimpan air, patinya banyak dan tahan dengan perubahan iklim, berbeda dengan padi yang rentan terhadap hama dan penyakit dan banyak menghasilkan gas metan ke udara sehingga mempengaruhi pemanasan global," katanya.

Sebagai bahan pangan pokok sebagaimana beras dan jagung, mestinya sagu bisa terus memperkaya ragam pilihan makanan pokok warga.

"Potensi sagu sangat besar, jika dikembangkan oleh pemda akan menjadi penyangga pangan nasional, yang dimulai dengan merawat hutan sagu dengan tidak mengalihkan fungsinya, serta memproduksi sagu menjadi produk yang beragam dan diminati masyarakat," kata Wardis.

Ia mengatakan bahwa Pemerintah Provinsi Maluku telah menetapkan Peraturan Daerah Nomor 10 Tahun 2011 tentang Pengelolaan dan Pelestarian Sagu namun penerapannya belum diperhatikan secara serius.

"Sagu harus ditanam dan dirawat dengan baik dengan pengelolaan dari hilir sampai hulu sehingga masyarakat kembali mengkonsumsi sagu sebagai makanan pokok, dan makanan olahan sagu semakin beragam," katanya.

Mengurangi Resiko Kanker

Sebelumnya tahun 2014 lalu, peneliti sagu dari Fakultas Pertanian Universitas Pattimura (Unpatti) Ambon, Febby J. Polnaya, menyatakan konsumsi sagu dapat mencegah risiko terkena kanker kolon (kanker yang menyerang usus besar).

"Pati sagu mempunyai sifat resisten terhadap enzim dan mikrobia. Potensi pati sagu sebagai pati resisten (Resistant Starch - RS) dapat mencegah risiko terkena kanker kolon, karena tidak tercerna dalam usus halus, melainkan difermentasi oleh bakteri di kolon," katanya di Ambon, Kamis.

Febby yang juga dosen Teknologi Hasil Pertanian Fakultas Pertanian Unpatti itu menjelaskan "Resistant Starch" (RS) atau pati resisten itu terbagi atas empat tipe, pati sagu yang telah diolah menjadi makanan dikategorikan sebagai RS tipe 3 yang tidak terserap oleh usus halus.

Ketika tidak terserap oleh usus halus, pati sagu yang dikonsumsi manusia akan difermentasi oleh bakteri di dalam usus besar dan menghasilkan asam lemak rantai pendek (Short Chain Fatty Acid - SCFA) yang dapat menurunkan asam pH (potential of hydrogen) pada usus besar, sehingga bakteri patogen penyebab kanker kolon sulit berkembang biak di dalamnya.

"RS sagu juga memiliki fungsi sebagai prebiotik karena digunakan sebagai substrat bagi bakteri saat difermentasi di dalam usus besar," ucapnya.

Ia mengatakan dengan pH rendah, bakteri yang dapat hidup di dalam usus besar hanyalah bakteri yang berguna bagi tubuh manusia, seperti bakteri asam laktat, bifidobacterium dan lactobacillus.

"Bakteri patogen yang menghasilkan toksin bagi tubuh sulit berkembang biak dalam pH rendah, jika pertumbuhannya lebih sedikit maka racun yang dihasilkan juga lebih kecil sehingga mudah diatasi oleh tubuh," ujarnya.

Febby menambahkan selain bermanfaat untuk mencegah risiko terkena kanker kolon, RS sagu juga meningkatkan absorbsi mineral, salah satunya adalah kalsium yang baik bagi tulang.

"Ada hasil penelitian yang menyatakan ketika pati sagu difermentasi, sistem metabolisme tubuh lebih mudah untuk menyerap mineral," katanya. (Shariva Alaidrus)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!