Sekilas Info

Hasil Pantauan Dinkes Ambon, Baru 6 PSK Terjangkit HIV/AIDS yang Balik ke Lokalisasi Tanjung Batumerah

Foto ilustrasi

satumalukuID - Dinas Kesehatan Kota Ambon rutin melakukan pemeriksaan Pekerja Seks Komersial (PSK) di lokalisasi Tanjung Batu Merah. Data terbaru bulan Juni 2019, ada enam di antara 106 pekerja seks komersial (PSK) yang sudah balik seusai liburan terjangkit virus HIV/AIDS.

Enam penderita HIV tersebut merupakan kasus lama, tetapi selalu dalam pantauan dan pengobatan dinkes, baik tim puskesmas Rijali atau tim dari dinas yang melakukan pemeriksaan bersama.

"Mereka rutin mendapat obat antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi penderita HIV, yang dalam pantauan dan pengobatan," ujar Kepala Dinas Kesehatan kota Ambon, Wendy Pelupessy, Rabu (19/6).

Dia menjelaskan, selama ini total jumlah PSK Tanjung Batumerah yang berada dalam pantauan Dinas Kesehatan berjumlah 189 orang. Dari jumlah tersebut, ada 8 orang yang sudah teridentifikasi terjangkit virus HIV/AIDS (termasuk enam orang tadi). Dua penderita lainnya, belum balik ke Kota Ambon.

Pemeriksaan rutin dilakukan setiap bulan bagi 189 PSK yang beraktivitas di lokalisasi tanjung Batumerah. "Bulan Juni ini pemeriksaan dilakukan bagi PSK yang pulang mudik dari kampung halaman, tahap awal telah dilakukan untuk 106 orang, sisanya akan dilakukan bulan Juli," katanya.

Diakuinya, PSK di lokalisasi Batu Merah sebagaian besar berasal dari luar kota Ambon atau 90 persen merupakan pendatang yakni dari Sulawesi maupun pulau Jawa. Yang menjadi masalah jika ada saat kembali membawa teman atau keluarga bisa saja jumlah penderita bertambah, sehingga harus rutin dilakukan pemeriksaan.

Yang menjadi masalah jika di antara mereka saat kembali membawa teman atau keluarga bisa saja jumlah penderita bertambah, sehingga harus rutin dilakukan pemeriksaan.

TIM SOSIALISASI

Sementara itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Ambon membentuk tim sosialisasi penutupan lokalisasi Tanjung Batu Merah setelah mendapat persetujuan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) kota Ambon dan TNI Polri.

Wali Kota Ambon Richard Louhenapessy mengatakan, tim sosialisasi penutupan lokalisasi telah terbentuk yang terdiri dari unsur Organisasi Perangkat Daerah (OPD), tokoh agama, masyarakat dan aparat keamanan.

"Setelah pembentukan tim langkah pertama yang akan dilakukan yakni melakukan sosialisasi dan inventarisir data serta solusi para pekerja lokalisasi," katanya, Selasa (18/6).

Diakuinya, pekerja di lokalisasi tanjung Batu Merah umumnya bukan warga kota Ambon tetapi pendatang dari berbagai kota.

Langkah yang akan ditempuh yakni proses pemulangan ke daerah asal selanjutnya dilakukan penutupan, tetapi yang menjadi masalah jika ditutup tetap harus dalam pengawasan seluruh pihak.

"Jika tidak dilakukan pengawasan  bisa saja mereka kembali ke Ambon lalu praktek di kos-kosan atau lokasi lain itu jauh lebih bahaya," tandasnya.

Ia menjelaskan, dukungan penutupan lokalisasi datang dari MUI kota Ambon, karena bukan hanya keinginan umat muslim, namun juga seluruh umat beragama di Kota Ambon.

Selain melakukan penutupan, pihaknya juga akan melakukan pendampingan pekerja seks komersial yang positif terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV).

"Kita selain melakukan pendampingan untuk pengobatan tetapi juga akan menyurati pemerintah daerah agar psk yang terinveksi HIV untuk terus melakukan pendampingan," tandasnya. (m-5/penina f mayaut)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!