Sekilas Info

Putri, Istri dan Kakak Para Jenderal Itu Telah Pergi

satumalukuID - KABAR duka itu datang dari Singapura, Sabtu 1. Juni 2019, sangat mengagetkan. Informasi atas kepergiannya cepat merebak di layar televisi, media online dan media sosial. Duka cita pun cepat dirasakan komponen bangsa ini.

Ya. Duka itu adalah kita kehilangan ‎Kristiani Herawati Susilo Bambang Yudhoyono atau lebih dikenal dengan nama Hj. Ani Bambang Yudhoyono atau ibu Ani.

Beliau adalah mantan Ibu Negara Indonesia sejak suaminya Jenderal TNI (Pur) Dr. Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dilantik sebagai Presiden Republik Indonesia pada tanggal 20 Oktober 2004 sampai masa jabatan periode kedua hingga 2014.

Ibu Ani meninggal karena sakit kanker darah sejak bulan Februari 2019 lalu, sehingga akhirnya dirawat di Singapura. Beliau lahir di Jogjakartal 6 Juli 1952 sebagai anak ketiga dari tujuh bersaudara dari pasangan almarhum Sarwo Edhie Wibowo dan Ny. Sunarti Sri Hadiyah.

Ibu Ani menikah dengan Dr. Susilo Bambang Yudhoyono pada 30 Juli 1976. Secara pribadi beta tidak mengenalnya. Begitu pula dengan suaminya SBY. Namun beta pernah saling menyapa dan ngobrol singkat dengan SBY ketika momen Pertemuan Perdamaian Maluku tahun 2001 di Mailno, Sulawesi Selatan, untuk mengakhiri konflik sosial komunal yang memakan banyak korban.‎

Namun sebagai jurnalis. Beta tahu sosok Ibu Ani dari berbagai pemberitaan, referensi dan literatur. Mungkin banyak kalangan milenial sekarang dan masyarakat umum tidak atau belum mengetahui siapa beliau selain mantan ibu negara republik tercinta ini.

Karena itu. Beta jadinya menulis catatan ini, untuk mengenang kembali Ibu Ani yang tampilannya bersahaja, familiar dan suka berorganisasi. Aktivitasnya seabrek baik sebagai ibu negara maupun saat SBY sudah tidak menjabat kepala negara lagi.

Dengan tampilannya yang keibuan dan kelembutan kasih sayang. Kesannya, berbanding terbalik dengan sosok anak-anak yang hidup dan besar di lingkungan tentara atau militer secara umum.

Pasalnya, Ibu Ani  hidup dalam 3 generasi kemiliteran yaitu: ayahnya, almarhum Letnan Jenderal (Letjen) TNI Sarwo Edhie Wibowo, suami tercintanya Jenderal Pur  Dr. H. Susilo Bambang Yodhoyono dan putra tertuanya , Mayor Inf. Agus Harimurti Yudhoyono, yang kita tahu belakangan mundur dari dunia kemiliteran dan memasuki dunia politik mengikuti jejak ayah dan ibunya.

Ibu Ani memiliki  dua orang putra. Putra tertuanya, Agus Harimurti Yudhoyono dan p‎utra keduanya Edhie Baskoro Yudhoyono.  Mereka kini adalah politisi Partai Demokrat yang didirikan sang ayah SBY.‎

Yang menarik bagi beta. Sosok Ibu Ani dalam kehidupan suasana militer, bukan saja dialaminya dari sang ayah, suami atau anaknya. Namun juga datang dari sang adik kandungnya, Pramono Edhi Wibowo, mantan Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) yang berbintang empat alias jenderal.

Suatu kekaguman tersendiri buat beta dengan sosok Ibu Ani dan keluarga besarnya. Lingkungan kehidupannya yang penuh dengan figur-figur pemimpin, pejuang, membuatnya lebih bersahaja dan wibawa, namun humanis dan peduli.

Itu terbukti dengan berbagai aktifitas dan ide nya pada berbagai program. Contohnya saja. Saat menjadi ibu negara, ia memiliki berbagai ide yang cemerlang dan diingat sampai kini.

Yaitu untuk membantu program pemerintah, Ibu Ani bersama-sama dengan para istri Menteri Kabinet Indonesia Bersatu membentuk suatu perkumpulan dengan nama Solidaritas Istri Kabinet Indonesia Bersatu (SIKIB) untuk membantu masyarakat, khususnya anak-anak dan kaum perempuan yang kurang beruntung dalam rangka memberdayakan mereka melalui program “Indonesia Sejahtera” sesuai tujuan Millenium Development Goals.

Nah, untuk mencapai Indonesia Sejahtera, SIKIB menjalankan program: I‎ndonesia Pintar, Indonesia Sehat, Indonesia Hijau, Indonesia Kreatif dan Indonesia Peduli.‎

Kini. Ibu Ani telah tiada. Terbujur kaku. Dipanggil pulang oleh sang penciptaNya. Kita kehilangan beliau. Namun, dalam pikiran beta, ,kematiannya terjadi di tanggal 1 Juni 2019, di saat bangsa ini sedang merayakan Hari Lahirnya Pancasila, ideologi negara kita. Apa punya hubungan emosional kebatinan dengan kiprah sejarah sang ayahnya, almarhum Letjen TNI Sarwo Edhi Wibowo?

Mengapa? Karena dalam sejarah bangsa ini. Tidak bisa melupakan tragedi pemberontakan atau upaya makar oleh Gerakan 30 September (G30S/PKI) pada tahun‎ 1965. Pasalnya, ayah Ibu Ani yang saat itu menjabat Komandan Resimen Pasukan Khusus Angkatan Darat (RPKAD), bersama pasukan elit yang dipimpinnya itu dan kini telah berubah nama menjadi Kopassus, adalah yang menumpas pemberontakan tersebut di Lubang Buaya, kawasan Halim Perdana Kusuma ketika itu.‎ Sehingga kini dikenang sebagai Hari Kesaktian Pancasila pada setiap tanggal 1 Oktober.

Walahulam. Yang pasti. Saat ini Ibu Ani telah pergi selamanya. Bangsa ini berduka cita. Namun jasa dan kiprahnya akan dikenang sepanjang hayat. Selamat jalan Ibu Ani. Beristirahatlah dengan tenang di sisiNya. ‎ (novi pinontoan)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!