Sekilas Info

Buka Puasa Bersama Warga Hitu, Murad Ismail Harap Ramadhan Jadi Momen Damai Rakyat di Jazirah Leihitu

Foto ilustrasi Gubernur Maluku, Irjen.Pol Murad Ismail, saat buka puasa bersama Pemerintah Provinsi Maluku dan Jajaran Kementerian Agama, di Asrama Haji Waiheru Kota Amaon, Kamis (16/05)

satumalukuID - Gubernur Maluku, Irjen Pol (Pur) Murad Ismail melakukan acara buka puasa bersama (bukber) dengan masyarakat negeri Hitu, di Jazirah Leihitu Kabupaten Maluku Tengah, Sabtu (25/5).

Pada kesempatan tersebut, gubernur mengajak untuk menjadikan momentum bulan suci Ramadhan sebagai bulan membangun solidaritas dan kebersamaan sehingga dapat tercipta perdamaian.

Baik interen umat beragama, antar agama maupun antar agama dengan pemerintah. Terlebih khususnya antar negeri-negeri bertetangga di Jazirah Leihitu.

Sementara itu, terkait dengan aksi 21-22 Mei di Jakarta, mantan Komandan Korps Brimob Polri ini menghimbau seluruh masyarakat di Maluku, khususnya di Jazirah untuk tetap menjaga persatuan dan kesatuan sebagai orang basudara.

“Saya menghimbau generasi muda, masyarakat negeri Hitu, dan seluruh masyarakat Maluku, jangan terpancing dengan isu-isu yang menyesatkan, seperti berita hoaks di media sosial yang cenderung memprovokasi hubungan antar agama dan politik. Tetaplah menjaga persatuan dan kesatuan,” harapnya.

Selain itu, Gubernur juga mengingatkan tentang tiga fase dalam bulan ramadhan, yaitu fase Rahmat (kasih sayang atau kedermawaan), Maghfirah (ampunan) dan fase Itqun minan nar (pembebasan dari api neraka).

Artinya, jika ramadhan genap 30 hari, maka masing-masing fase terdiri atas 10 hari.

Dimana pada 10 hari pertama, umat Islam dianjurkan untuk memberikan sedekah, membantu tetangga, saudara-saudara, fakir miskin maupun kaum duafa.

“Kalau bisa. Kita bantu dengan apa yang kita punya. Tidak ada paksaan. Kemudian 10 hari kedua di bulan ramadhan adalah Maghfirah. Alhamdulillah, hari ini kita sudah menjalani ibadah puasa ke 20. Pada 10 hari kedua ini kita perbanyak dzikir, kita berdoa dan meminta kepada Allah SWT. Tidak dengan yang lain,” ujarnya.

Dan 10 hari terakhir di bulan ramadhan adalah penghindaran diri dari siksa api neraka, dimana umat Islam dituntut dan diperintahkan untuk memperbanyak doa.

“Besok hari kita sudah masuk ke fase ketiga. Di fase ini, kita memperbanyak doa,” ungkapnya.

Sehubungan dengan itu, dirinya berharap, ibadah puasa di bulan suci Ramadhan ini, dapat dilaksanakan dengan penuh kekhusyuan, serta mampu menempa setiap insan manusia menjadi pribadi yang berkualitas dan menjadi sumber keberkahan untuk sesama manusia. (MG-01)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!