satumalukuID - Museum Siwalima di Ambon membutuhkan gedung pameran baru untuk memamerkan koleksi sejarah dan budaya, karena gedung ruang pameran tetap satu mengalami kerusakan sejak 2016 dan tidak bisa diperbaiki lagi.

"Kami masih membutuhkan ruangan baru karena gedung ruang pameran tetap satu sudah rusak, atapnya bocor terus. Bangunannya sudah sangat tua, harus membangun yang baru," kata Kepala Museum Siwalima,  Jean Esther Saiya, di Ambon, Jumat (12/4).

Ia mengatakan,  ruang pameran tetap satu digunakan untuk memamerkan benda-benda koleksi budaya dan sejarah seperti, seperti patung-patung, alat musik, kain tenun ikat dan benda-benda hasil buatan tangan manusia pada masa lalu.

Gedung ruang pameran tetap satu yang dibangun pada 1959, telah mengalami beberapa kali kerusakan tetapi kemudian direnovasi, hingga pada 2016 atapnya mengalami kerusakan parah dan cukup sulit untuk diperbaiki.

Bocornya atap gedung menyebabkan plafonnya jatuh, sehingga benda-benda koleksi harus segera diungsikan ke gudang.

"Gedungnya memang sudah tua, dibangun pada 959. Kami harus membangun gedung baru karena kalau diperbaiki juga nanti akan rusak lagi, kerusakan tiba-tiba bisa berdampak pada koleksi yang dipamerkan," ujarnya.

Mengatasi rusaknya ruang pameran tetap satu, kata Jean, sebagian koleksi dipamerkan di ruang sasadu, ruang pameran sementara. Hanya saja,  ruangan tersebut tidak cukup besar untuk menampung semua koleksi yang ada.

"Tidak semuanya dipamerkan karena ruangannya tidak cukup besar, jadi sebagian koleksi kami simpan di gudang, tiap enam bulan sekali koleksi yang dipamerkan kami tukar," katanya.

Menurut Jean, untuk pembangunan gedung pameran baru dan penataan bangunan yang mengalami kerusakan, harus menunggu anggaran dari Direktorat Pelestarian Cagar Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Kemendikbud, kata dia, memberikan dana tugas pembantuan sebesar satu miliar rupiah kepada Museum Siwalima untuk perbaikan ruang pameran kelautan pada 2014. Dana tersebut kemudian dinaikan menjadi Rp1,5 miliar pada 2015 untuk penataan ruangan tersebut.

"Kami pada 2016 mendapatkan dana tugas pembantuan sebanyak Rp600 juta untuk memperbaiki perpustakaan, bersamaan dengan itu gedung pameran tetap satu mengalami kerusakan, karenanya harus menunggu anggaran berikutnya," tandas Jean. (Shariva Alaidrus)