Sekilas Info

H-4 Pemilu, Masih Ada Warga di Ambon yang Belum Paham Cara Coblos, KPU Diminta Segera Tangani

satumalukuID - Sisa empat hari lagi Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif dan Presiden-Wakil Presiden, ternyata masih ada warga di Ambon dan sekitarnya yang belum memahami cara pencoblosan yang benar dan tepat.

Temuan ini disampaikan akademisi FISIP Universitas Pattimura, Dra Hanna M.W. Parera MSi dan akademisi Fakultas Teknik Universitas Kristen Indonesia Maluku (UKIM) Ambon yang juga politisi PDIP Maluku,  Ir Thobyhend "Hendrik" Sahureka MT , Sabtu (13/4).

Menurut Hanna, dirinya mendapatkan warga di lingkungannya kawasan Urimesing Jalan Diponegoro yang keliru memahami pencoblosan. Yaitu mereka mengira saat pencoblosan 17 April 2019, setiap calon legislatif dari semua partai pada satu daerah pemilihan nanti dipilih masing-masing satu caleg di setiap partai.

"Saya kaget ketika ngobrol santai soal pilihan nanti. Mereka tahu, setiap parpol akan dicoblos satu caleg. Karena itu, saya langsung beri pemahaman bahwa yang mereka mengira itu salah. Karena seharusnya saat mencoblos, hanya memilih satu caleg pada partai tertentu saja dari sekian partai. Bukan setiap partai dicoblos satu caleg," ungkap Hanna.

Lantaran itu, ia meminta KPU Maluku dan Kota Ambon, harus segera memanfaatkan sisa waktu beberapa hari ini, untuk gencar bersama staf pemerintahan sampai RT RW untuk memberikan sosialisasi cara mencoblos yang baik dan benar.

Hanna mengatakan, kalau untuk pencoblosan di lembaran Pilpres tidak masalah karena hanya ada dua calon. Tapi masalah akan timbul di Pileg untuk DPRD kabupaten kota, DPRD Provinsi dan DPR RI . Sedangkan untuk DPD RI juga tak terlalu masalah sebab pilihannya orang tanpa partai.

"Dari hal yang saya temukan di lingkungan itu. Bisa saja terjadi di tempat dan daerah lainnya di luar kota Ambon. Masalah ini muncul karena kalau diperhatikan, KPU kurang sosialisasi cara mencoblos yang baik dan benar khususnya di PIleg. KPU lebih fokus pada ajakan mencoblos dan jangan golput. Padahal yang utama harusnya bagaimana cara memilih dan mencoblos yang benar. Sebab ini Pemilu serentak yang baru pernah terjadi," bebernya.

Tentunya saja, lanjut Hanna, masyarakat pasti akan bingung karena kurang mendapatkan sosialisasi. Percuma masyarakat datang mencoblos, namun apa yang dilakukannya dibalik bilik suara itu nantinya tidak sah lantaran dianggap rusak.

Hal senada secara terpisah disampaikan pula oleh Thobyhend Sahureka. Ia juga menyoroti persoalan kurangnya sosialisasi dari lembaga penyelenggara pemilu soal bagaimana memilih dan mencoblos yang baik dan benar.

"Saya juga temukan ada pemahaman warga yang keliru saat memilih dan mencoblos di lembaran Pileg nanti. Akhirnya beberapa warga diberikan cara untuk memlih. Ini harus jadi perhatian KPU di sisa hari jelang pemilu," ungkap Thobyhend yang juga caleg DPRD Maluku dari dapil Kota Ambon ini.

Sementara itu di kesempatan lain, beberapa warga seperti Karamoy P di kawasan Soya Kecil, Thomas B di Batugajah dan Valdi T di kawasan Tanah Tinggi Ambon, juga mengakui tidak ada sosialisasi cara memilih dan mencoblos untuk Pileg yang baik dan benar.

"Iya. Kami nilai kurang sosialisasi. Kalau pun ada, cuma soal tanggal pemilu dan jangan golput. Sosialisasi dari para caleg melalui baliho dan spanduk, juga hanya berisikan ajakan mencoblos diri mereka. Bukan bagaimana menoblos dan memilih yang baik dan benar pada lembaran kertas suara yang banyak caleg dan banyak partai," ungkap ketiganya, senada. (novi pinontoan)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!