Sekilas Info

BNN Kabupaten Buru Selatan Ingatkan tentang Fenomena Ngelem yang Mengancam Remaja

Pembukaan Talk Show terkait Instruksi Presiden (Inpres) No. 6 Tahun 2018 mengenai P4GN (Pencegahan Penyalagunaan, Pemberantasan, dan Peredaran Gelap Narkoba) yang diselenggarakan oleh Badan Narkotika Kabupaten Buru Selatan, Selasa (09/4/2019). Foto Humas Pemkab Bursel

satumalukuID - Mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar di Kabupaten Buru Selatan (Bursel), Provinsi Maluku, maka Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Bursel kerap melakukan sosialisasi Penguatan Anti Narkoba bagi siswa-siswi pelajar SMP dan SMA di Bursel.

Kepala BNN Kabupaten Bursel, Siti H Umasugi mengungkapkan, Rabu (10/4), sosialiasi ini penting dilakukan mengingat kalangan pelajar sangat rentan dipengaruhi pelaku kejahatan narkoba, sehingga perlu diantisipasi dengan memberikan pemahaman kepada para pelajar.

Di usia seperti mereka (pelajar) ini memang sangat rentan atas penyalahgunaan narkoba. Untuk itu harus terus kita ingatkan, jangan sampai mereka menjadi korban narkoba, kasihan masa depan mereka kalau sudah menggunakan akan menjadi korban, ungkap Umasugi.

Ia mengatakan, fenomena anak dan remaja menghirup lem atau ngelem, saat ini menjadi salah satu ancaman serius selain narkoba. Kalau biasanya perilaku ngelem ditemukan di kalangan anjal (anak jalanan), kini perilaku menyimpang tersebut merambah ke kalangan pelajar.

Mereka bahkan berani menggelar pesta ngelem beramai-ramai. Hal ini Ini terungkap ketika polisi menciduk 25 remaja, 17 di antaranya pelajar, saat mereka sedang pesta ngelem di Koja, Jakarta Utara.

Mereka memang tidak diproses hukum, melainkan dipulangkan ke orangtua masing-masing untuk dibina. Namun siapa yang bisa menjamin mereka tidak kembali ngelem bila sudah kecanduan?

Dikatakan, di kabupaten Buru Selatan juga saat ini perilaku ngelem di kalangan remaja mulai bermunculan. Para remaja mrnghirup uap solvent yang terkandung pada lem, sama bahayanya dengan narkoba.

“Efek yang ditimbulkan sama seperti pengaruh narkoba yaitu halusinasi, yaitu fly atau sensasi terasa melayang-layang, kesenangan sesaat dan menimbulkan keberanian dan membuat ketagihan. Itu sebabnya dalam beberapa kasus kejahatan jalanan, pelakunya ternyata lebih dulu ngelem sebelum beraksi.

Tak banyak orangtua dan anak-anak tahu, menghirup uap solvent yang terkandung pada lem, tinner atau cat minyak, pernis, atau bensin secara terus menerus, berdampak mengerikan.

Dalam sejumlah penelitian disebutkan, efak uap solvent yang didapat dari kebiasaan ngelem merusak syaraf otak, menimbulkan kebutaan bahkan bisa mati mendadak (Sudden Sniffing Death), jelas Umasugi.

Menurutnya, di sejumlah daerah di Indonesia, kebiasaan ngelem banyak dilakukan anjal. Penyebabnya lebih kepada persoalan sosial, karena mereka datang dari keluarga broken home, faktor ekonomi yang membuat mereka hidup di jalanan yang memaksa mereka hidup liar tanpa pengawasan dan tidak tersentuh pendidikan.

Itu sebabnya bila gejala ngelem menular pada remaja dari keluarga utuh, terlebih lagi pelajar, ini ancaman serius karena bisa jadi cikal bakal kecanduan narkoba. Mencegah hal tersebut, tembok pertama adalah orang tua.

Di era milenial saat ini tugas dan tanggung jawab orang tua menjadi lebih berat, karena pengaruh lingkungan sangat besar terhadap tumbuh kembang anak.

Umasugi dalam sosialisasi Penguatan Anti Narkoba bagi pelajar mengharapkan para orang tua juga harus meningkatkan pengawasan terhadap pergaulan anak, menjalin komunikasi yang baik guna memberi pemahaman tentang bahaya yang sedang menghadang mereka.

Bukan hanya keluarga, semua elemen juga bertanggung jawab memberi pendidikan pada generasi muda, baik guru dan tokoh agama. (BS-01)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!