Sekilas Info

Banyak Penderita Katarak, Kabupaten Kepulauan Tanimbar Tak Punya Dokter Spesialis Mata

satumalukuID – Jumlah penderita katarak di Kabupaten Kepulauan Tanimbar cukup tinggi. Dalam setahun, angkanya bisa mencapai 100 pasien. Masalahnya, tidak ada satupun Dokter Spesialis Mata yang bertugas di kepulauan tersebut saat ini.

“Kabupaten Kepulauan Tanimbar akan mengupayakan seorang dokter spesialis mata untuk bertugas di RSUD dr. PP Magretty Saumlaki, guna menekan jumlah penderita katarak yang tergolong cukup tinggi,” kata Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Provinsi Maluku Juliana Ratuanak saat dihubungi, Jumat(5/4).

Tiga tahun lalu Kabupaten Kepulauan Tanimbar memiliki seorang spesialis mata dr. Diana Oratmangun yang bertugas di RSUD dr. PP Magretty Saumlaki, tetapi kemudian pindah ke Manado, Sulawesi Utara pada 2016. Sejak saat itu, kata dia, daerah tersebut tidak lagi memiliki dokter spesialis mata, sehingga masyarakat khususnya dari kecamatan yang jauh kesulitan untuk memeriksakan mata mereka.

"Katarak di sini cukup tinggi, berdasarkan data hasil pemeriksaan oleh dokter spesialis mata yang dulu bertugas di sini, setahun angkanya bisa mencapai 100an pasien yang berasal dari berbagai pulau di Tanimbar," katanya.

Menurut Juliana, pihaknya telah meminta kesediaan dr. Elna Anakotta dari RSUD dr. M. Haulussy Ambon untuk juga melakukan pelayanan kesehatan mata di RSUD dr. PP Magretty Saumlaki, dengan jadwal dua kali dalam sebulan.

"Kami memang sudah menyampaikan secara langsung kepada dr. Elna untuk bisa membantu kami menangani masalah kesehatan mata, terutama katarak. Kami akan segera menyurati Dinkes Provinsi Maluku terlebih dahulu," kata Juliana.

Terkait masalah penanganan kesehatan mata, khususnya katarak di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, saat ini Palang Merah (PMI) dan Komite Internasional Palang Merah (International Commitee of the Red Cross - ICRC) sedang melaksanakan operasi katarak dan pembagian kacamata baca gratis RSUD dr. PP Magretty Saumlaki dengan melibatkan spesialis mata dr. Elna Anakotta dan dr. Miranda Therik-Johannes dari RSUD Ba'a Kabupaten Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur.

Beberapa hari sebelumnya ICRC dan PMI juga menggelar kegiatan yang sama di RSUD dr. D Anatototi Larat (1 - 2 April). Sedikitnya ada 938 orang dari berbagai desa yang menjalani "screening" mata dalam kesempatan itu.

Juliana mengatakan pihaknya sangat berterima kasih kepada ICRC dan PMI yang telah membantunya menurunkan angka penderita katarak di daerahnya. Diharapkan kegiatan seperti itu dapat berlanjut di daerahnya, tidak hanya pengobatan mata tapi juga pengobatan lainnya, karena Kepulauan Tanimbar masih kekurangan tenaga spesialis kesehatan lainnya.

"Kami sangat berterima kasih kepada ICRC dan PMI, di sisi kesehatan kami sangat terbantu untuk wilayah-wilayah kepulauan seperti ini. Kami berharap kegiatan ini boleh berlanjut demi kemanusiaan, bisa dalam bentuk lain pun kami tetap akan ikut mendorong dan membantu," kata Juliana.

Sementara itu, Menajer Program Kerja sama ICRC Indonesia Freddy Nggadas dalam kesempatan berbeda mengatakan pelaksanaan bakti sosial operasi katarak dan pembagian kacamata baca di wilayah Kepulauan Tanimbar telah diagendakan sejak setahun lalu.

Kepuluan Tanimbar menjadi perhatian  ICRC, karena daerah itu tidak memiliki dokter mata dan belum pernah ada pelaksanaan program sosial kesehatan mata di daerah itu.

"Awalnya kami memilih Kabupaten Maluku Barat Daya, tapi kemudian kami memutuskan ke Kabupaten Kepulauan Tanimbar karena mereka yang paling siap, selain itu pemerintahnya juga langsung merespon untuk program ini," kata Freddy. (m-5/shariva alaidrus)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!