Sekilas Info

William Sabandar, Putra Maluku Yang Ikut Berperan Dibalik Beroperasinya MRT Jakarta

Dirut PT MRT Jakarta William Sabandar (foto kanan) dan foto kiri saat mendampingi Presiden Jokowi saat ujicoba MRT bersama Gubernur DKI Jakarta Anis Baswedan.

satumalukuID - Proyek Mass Rapid Transportation (MRT) atau transportasi massa cepat dan disebut juga dengan istilah moda transportasi terpadu Jakarta, diresmikan tahap pertamanya oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Bundaran Hotel Indonesia (HI), Minggu (24/3).

Warga DKI khususnya dan Indonesia umumnya, pasti bangga dengan transportasi massal terbaru dan pertama di negara ini. Bahkan presiden Jokowi pun menyatakan , dengan beroperasinya MRT maka dimulai suatu peradaban baru bangsa di dalam bidang transportasi.

Sebagai anak bangsa, kita semua tentunya bangga. Hal itu terlihat di masa uji coba gratis MRT fase pertama ini. Banyak kalangan anak muda maupun umum lainnya dari berbagai daerah yang sedang berada di Jakarta, mencoba moda transportasi itu dan mengupload status dan foto-foto mereka di media sosial (medsos).

Dibalik kebanggaan bangsa ini atas beroperasinya MRT di Jakarta. Tanpa disadari, kita pun orang Indonesia Timur khususnya Ambon-Maluku juga turut berbangga dengan transportasi yang lagi trend di ibukota tersebut.

Mengapa? Pasti pertanyaan itu muncul bagi pembaca. Jawabannya, beroperasinya MRT fase pertama ini, tidak terlepas dari kerja keras dan visi misi sang Direktur Utama (Dirut) PT MRT Jakarta yang berdarah Ambon-Maluku dan Toraja yakni Dr Ir William Sabandar atau biasa dipanggil Willy.

Siapakah Willy Sabandar? Bila dilihat dari marganya, ia berasal dari Negeri Allang yang terletak di ujung Pulau Ambon, Maluku. Serta juga memiliki darah Toraja, Sulawesi Selatan.

Dari berbagai sumber, diketahui Billy masih berdarah Maluku. Namun dia lebih banyak menghabiskan waktu di negeri orang.

Dimasa mudanya saat menjadi mahasiswa di Universitas Hasanudin Makassar, Willy merupakan aktivis GMKI yang sangat aktif. Pernah menjabat sebagai Ketua Cabang GMKI Makssar Masa Bakti 1989-1991 dan kemudian menjadi Sekretaris Fungsi Organisasi PP GMKI Masa Bakti 1990-1992.

Dia juga merupakan peraih doktor geografi dari University of Canterbury, New Zealand, dan mendapatkan master dari University of New South Wales, Australia.

Ia pernah aktif di Badan Rekonstruksi dan Recovery Nias, Kepala Operasi Satuan Tugas Nasional REDD+, dan Kepala Satuan Tugas Kemanusiaan Pasca Bencana Nargis, Myanmar. Di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, ia pernah diangkat sebagai ketua satuan tugas untuk percepatan energi terbarukan.

Pada tahun 2014, Willy diangkat menjadi Ketua Tim Satuan Tugas Investasi Timur Tengah. Tim ini tugasnya menyediakan basis data terkait potensi investasi, memfasilitasi pertemuan antara investor dari negara timur tengah dengan mitranya di Indonesia.

Ayah tiga anak ini juga pernah memimpin sebuah Satgas untuk Percepatan Pengembangan Energi Baru dan Terbarukan (P2EBT) di Kementerian ESDM. Sebuah unit ad hoc yang dibentuk untuk mencari terobosan pengembangan EBT.

Ia adalah konseptor di balik gagasan-gagasan yang mendorong EBT di masa depan seperti Dana Ketahanan Energi (DKE), Program Indonesia Terang (PIT) dan Center of Excellence (CoE) untuk Energi Bersih.

Willy memiliki pengalaman internasional yang luas terutama saat menjadi Deputi Kepala Badan Pengelola Pengurangan Emisi Gas Rumah Kaca dari Sektor Kehutanan (REDD+) dan menjadi Special Envoy ASEAN untuk rehabilitasi Myanmar pasca bencana topan nargis.

Juga memiliki pengalaman di bidang konstruksi yang dalam saat memimpin rekonstruksi di Nias pasca bencana tsunami sebagai bagian dari BRR Aceh-Nias.

Pada 14 Oktober 2016, PT Mass Rapid Transit (MRT) Jakarta memilih William Sabandar sebagai Direktur Utama menggantikan Dono Boestami, Direktur Utama MRT Jakarta, sebelumnya. Tugas berat menanti pria kelahiran 4 November 1966 ini lantaran harus menuntaskan konstruksi proyek yang ditargetkan rampung tahun 2019 ini.

Pengalaman panjang laki laki berdarah Negeri Allang Ambon ini dalam bidang birokrasi dan terlibat dalam berbagai program pemerintah menjadi nilai lebih. Alhasil, ia dinilai layak menjadi bos perusahaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) DKI Jakarta.

Sarjana Teknik Sipil Universitas Hasanuddin Makassar ini menyebut bahwa pengalamannya sebagian besar pada program atau pekerjaan pemerintah yang sifatnya darurat atau berada dalam situasi krisis untuk segera diselamatkan. "Makanya, bila kondisi MRT saat ini dikatakan krisis, saya adalah orang yang tepat," katanya, waktu itu.

Willy mengawali kariernya sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Departemen Pekerjaan Umum tahun 1991 atau setelah lulus kuliah, tepatnya di Kanwil (sekarang Dinas) Pekerjaan Umum Provinsi Maluku di Ambon.

Saat itu, ia bertugas untuk melakukan perencanaan dan pengawasan jalan nasional dan provinsi di Maluku selama enam tahun.

Meskipun sejalan dengan latar belakang pendidikannya, tapi bekerja di tempat yang sama dalam waktu yang cukup lama membuatnya tidak kerasan dan ingin menjajal hal yang baru. Kebetulan, Willy juga berambisi untuk sekolah lagi ke jenjang magister melalui beasiswa.

Nasib baik pun berhasil diperolehnya karena tahun 1997, ia diterima di University of New South Wales, Australia untuk mengambil jurusan ilmu transport engineer. Dua tahun fokus pada pendidikannya, laki-laki berkacamata ini memutuskan kembali ke Indonesia.

Sayangnya, ia disambut dengan kondisi politik Indonesia yang tidak stabil di tahun 1999. Apalagi di Ambon dan Maluku umumnya saat itu juga dilanda konflik sosial. Itu pula yang membuatnya berniat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

Tahun 2001, ia mendapatkan beasiswa Doctor of Philosophy (PhD) di University of Canterbury, Selandia Baru untuk bidang Geografi.

Selesai mengenyam pendidikan di Selandia Baru tahun 2004, Willy masih belum berniat pulang kampung ke Indonesia. Ia betah berada di luar negeri untuk berpartisipasi pada konferensi yang diadakan di banyak negara.

Saat itu, dia juga mendapatkan tawaran untuk menjadi seorang pengajar di salah satu kampus di Selandia Baru.

Hanya saja tawaran ini langsung ditolaknya. Pada saat yang bersamaan terjadi bencana gempa dan tsunami dahsyat yang melanda Aceh dan Nias di akhir tahun 2004. Ia pun memutuskan untuk pulang ke Indonesia untuk menyumbangkan tenaga, ilmu, dan pemikirannya untuk menolong korban bencana.

"Setelah saya pulang ke Indonesia saya diminta Pak Kuntoro (Mangkusubroto) untuk membantunya memimpin Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (BRR) Aceh-Nias yang dibentuk tahun 2005," ujarnya.

Pria berkacamata dan kini berkepala plontos ini, dalam berbagai kesempatan kepada pers mengaku adalah pekerja keras dan suka menerima tantangan. Karena itu, ketika dipilih menjadi Dirut PT MRT Jakarta tiga tahun lalu, ia terasa tertantang untuk menyelesaikan tahap pertama bisa diselesaikan pada tahun 2019.

Obsesi dan kerja keras Willy Sabandar akhirnya tercapai dan terpenuhi target penyelesaian fase pertama pengoperasian MRT di Jakarta, saat presiden Jokowi akhirnya meresmikannya di Bundaran HI Jakarta pada Minggu 24 Maret 2019.

Teruslah berkarya dan wujudkan visi misi mu Bung Willy. Jakarta maju selangkah lagi, Indonesia pun berbangga atas prestasimu. Meskipun bung Willy tipe pemimpin yang low profile, tak suka digembar-gemborkan, namun kami di Indonesia Timur khususnya di Ambon-Maluku juga turut merasakan kebanggaan dengan beroperasinya MRT atas hasil kerja kerasmu. Sukses selalu bung !

Penulis: Novi Pinontoan (dari berbagai sumber)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!