Sekilas Info

Persidangan VII Klasis GPM Pulau Ambon Timur di Jemaat Efrata Pandan Kasturi Dimulai

Wakil Ketua MPH Sinode GPM Wem Pariama didampingi Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy dan Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Timur Daniel Wattimanela memukul tifa tanda dibukanya persidangan VII Klasis GPM Pulau Ambon Timur tahun 2019, di Jemaat Efrata Pandan Kasturi, Tantui, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon, Minggu pagi (24/3).

satumalukuID– Persidangan VII Klasis GPM Pulau Ambon Timur Tahun 2019 di Jemaat Efrata Pandan Kasturi, Tantui, Kota Ambon, Minggu pagi (24/3) dimulai.

Pembukaan sidang ditandai pemukulan tifa dilakukan Wakil Ketua Majelis Pekerja Harian (MPH) Sinode GPM, Wem Pariama didampingi  Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy dan Ketua Klasis GPM Pulau Ambon Timur, Daniel Wattimanela.

“Dari kehadiran Wali Kota Ambon, Richard Louhenapessy dan pimpinan serta anggota DPRD Provinsi Maluku di pembukaan sidang klasis di saat ini, bagi kami ini mengindikasikan bahwa adanya atensi pemerintah terhadap seluruh dinamika bergereja kita di GPM. Ini bagian dari kemitraan yang kita bangun selama ini di GPM,” ujar Wem Pariama dalam sambutannya.

Dia berharap, persidangan VII Klasis GPM Pulau Ambon Timur tahun 2019 ini bisa memberikan kontribusi secara konstitusional, terkait dengan eksistensi jemaat-jemaat GPM dalam kaitan dengan peraturan pokok tentang jemaat.

“Kita tentunya mengharapkan, supaya seluruh implementasi di jemaat tidak sampai berkontradiksi dengan peraturan pokok. Oleh karena itu, saya kira ini mesti lagi dicermati oleh teman-teman di klasis Pulau Ambon Timur, agar kita semua bisa memberikan pikiran-pikiran yang konsruktif kembali, dalam kerangka perubahan peraturan pokok nanti di tahun 2020,” kata dia.

Bagi GPM, lanjut dia, persidangan klasis merupakan momentum yang benar-benar penting dan strategis, dalam rangka mendesain kerangka kerja. Kita harus melihat persidangan klasis dalam pendekatan-pendekatan yang jauh lebih komprensif.

“Kadang-kadang kita hanya melihat persidangan klasis itu hanya dalam pendekatan-pendekatan organisatoris saja, tetapi sebenarnya persidangan klasis adalah implementasi tata gereja dan peraturan polok,” tandas Pariama. (m-10)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!