Sekilas Info

PWI Maluku Desak Polsek Namrole Usut Kasus Pemukulan Wartawan di Buru Selatan

Tersangka pelaku pemukulan wartawan di Kabupaten Buru Selatan

satumalukuID - Menyikapi kasus pemukulan wartawan Koran Tahuri, Bernardo Leleuly di Namrole, Minggu (17/3), PWI Provinsi Maluku mendesak jajaran Polsek Namrole Buru Selatan untuk secara transparan mengusut tuntas sehingga aktor dibalik kasus ini dapat terungkap.

PWI Provinsi Maluku juga meminta publik menghormati kerja wartawan, serta menggunakan hak jawabnya jika merasa keberatan dengan pemberitaan media.

PWI Provinsi Maluku menginstruksikan seluruh anggota PWI Kabupaten Buru Selatan maupun PWI Kabupaten Buru untuk mengawal proses hukum kasus ini hingga tuntas.

PWI Provinsi Maluku menginstruksikan seluruh anggota PWI Kabupaten Buru Selatan untuk senantiasa tetap dan selalu menegakkan UU Pers dan Kode Etik Jurnalistik dalam menjalankan tugas profesi sebagai wartawan.

Pernyataan sikap PWI Maluku ini disampaikan Ketua PWI Maluku Izaak Tulalessy, Senin (18/3).

Sementara itu, informasi yang dihimpun Suara Maluku menyebutkan, pelaku penganiayaan terhadap Nardo adalah Syarifudin Pellu, warga Desa Masnana, Kecamatan Namrole. Kejadian itu berlangsung pada Minggu (17/3).

Akibat aksi pemukulan tersebut, korban mengalami luka di bibir atas serta memar di siku kiri dan lutut.

Menurut Nardo Leluly, penganiayaan yang dialaminya itu terjadi pukul 23.40 WIT ketika ia kembali membeli rokok dari kios yang tak jauh dari tempat kosnya. “Saya dipukul dari belakang, langsung jatuh dan ada lecet di tangan dan lutut. Bibir atas juga pecah,” katanya.

Menurut Nardo, meskipun sempat jatuh, dirinya masih berupaya mengejar pelaku sambil minta tolong.

Dimana, setelah pelaku berlari ke arah restoran milik almarhum Wakil Bupati Bursel, tiba-tiba datanglah sejumlah anggota Polsek Namrole yang sementara melakukan patroli malam dan langsung menangkap pelaku.

“Kebetulan saat itu anggota Polsek Namrole sementara patroli malam, persis di depan restoran almarhum Pak Wakil dan pelaku langsung ditahan. Sedangkan saya sendiri dibawa ke rumah sakit untuk divisum. Waktu visum selesai, arahan dari Polisi agar hari Senin pukul 09.00 WIT membuat laporan karena saat itu sudah larut malam,” ungkapnya.

Senin (18/03), Nardo ditemani istrinya mendatangi Mapolsek Namrole bersama salah satu saksi lainnya, Elvis Pelasulla untuk memberikan keterangan kepada pihak kepolisian.

“Pelakunya Syarifudin Pellu. Dugaan  sementara dia disuruh oleh seseorang. Saya sendiri dengan pelaku tidak ada hubungan apa-apa. Kenal pun tidak, tahu namanya juga tidak. Setelah pemeriksaan baru diketahui namanya Syarifudin Pellu,” ujarnya.

Nardo menduga kasus pemukulan yang dialaminya ini ada hubungannya dengan berbagai pemberitaan yang dilakukannya selama ini. Dan untuk mengetahui secara jelas motif pemukulan terhadap dirinya Nardo meminta agar pihak kepolisian dapat segera memanggil dan memeriksa oknum di balik kasus tersebut.

Anggota PWI Kabupaten Bursel ini berharap PWI Kabupaten Bursel, PWI Maluku, PWI Pusat maupun Komnas HAM RI turut membantu mengawal kasusnya ini sehingga tidak diintervensi oleh oknum-oknum tertentu.

Sementara itu, Syarifudin Pellu dalam pengakuannya di hadapan wartawan di Namrole menyatakan bahwa pemukulan yang dilakukannya terhadap Nardo, karena disuruh oleh seseorang yang bernama Du Solissa, yang sehari-harinya bekerja sebagai sopir Bupati Bursel.

Menurut Syarifudin, Ia disuruh langsung oleh Du Solissa yang datang langsung ke kediamannya di Masnana kendati tak ada imbalan apa-apa.

Kapolsek Namrole, AKP Yamin Selayar kepada wartawan di Mapolsek Namrole, Senin (18/03) menyatakan bahwa saat ini pihaknya sementara menangani kasus tersebut.

“Kasusnya sudah ditangani, semalam (Minggu,red) mau minta keterangan dari pihak korban, mungkin karena kondisi, maka diminta Senin dan sudah selesai dilakukan pemeriksaan terhadap korban dan sudah divisum,” kata Kapolsek.

Ia mengaku tersangka yang sudah ditangkap tersebut akan juga diperiksa dan pihaknya akan menangani kasus ini secara professional.

Menurut Kapolsek, selain akan dijerat dengan pasal 351 KUHP tentang Penganiayaan, pelaku juga terindikasi bakal dijerat dengan Undang-Undang Darurat, sebab setelah ditangkap dan digeledah di Mapolsek Namrole, ternyata polisi pun mendapatkan sebilah pisau yang turut dibawa oleh pelaku. (SM-07/BU-01)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!