Sekilas Info

Faktor Transpotasi dan Minimnya Tenaga SDM Hambat Pengembangan Program Kampung KB di Buru Selatan

Salah satu Kampung KB di Kabupaten Buru Selatan yang diresmikan pada Desember 2018 lalu.

satumalukuID - Keinginan pemerintah pusat agar pengembangan program Kampung KB dapat berjalan secara merata di tingkat kabupaten/kota, belum bisa bisa berjalan sesuai harapan seperti yang terjadi di Kabupaten Buru Selatan, Provinsi Maluku. Hal ini diakibatkan keterbatasan sarana transpotasi dan minimnya tenaga Sumber Daya Manusia (SDM) khususnya tenaga penyuluh.

Kepada awak media di Hotel Marina Ambon, Kamis (14/3), Kepala Bidang KB Dinas Kesehatan Kabupaten Buru Selatan, Estepanus Leatomu mengatakan, bahwa lambatnya program Kampung KB, bukan hanya faktor transpotasi tetapi sulitnya akses jalan menuju lokasi perkampungan KB yang belum beraspal dan tenaga penyuluh, sehingga pemàhaman dan antusias warga dalam memahami tentang pemahaman kampung KB.

Meskipun sebagai kabupaten baru, Bursel memilki 13 Kampung KB,yang telah diakomodir bahkan direncanakan dalam waktu dekat di tahun berjalan, akan menambah dua atau tiga lagi kampung KB, sehingga akan mempermudah akses untuk menjangkau ke-13 kampung KB tersebut.

“Tahun kemarin program kampung KB di Bursel tidak berkembang diakibatkan infrastruktur seperti jalan yang tidak mendukung, bahkan yang tenaga penyuluh yang menangani kampung KB ini dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) yang tidak masuk jalur kesehatan, akhirnya sulit sebab orang dari PMD ini kan bukan orang kesehatan,” jelas Leatomu.

Sementara dari ke-13 kampung KB yang telah bentuk dan yang paling dinilai terbaik hanya pada Desa Wali Kecamatan Namrole, dimana masyarakatnya sangat antusias terhadap program tersebut.

Bukan hanya itu tetapi sambutan warga setempat menerima petugas dari BKKBN, diharapkan ke depan Desa Wali bisa dijadikan objek wisata serta tumbuhnya pabrik minyak kelapa.

“Saya pun berharap kalau bisa ke depan Pemda Bursel dapat menfasilitasi tenaga-tenaga pendamping agar proses koordinasi tetap lancar, sebab jika program ini ramai maka dengan sendirinya masyarakat akan mengikutinya dengan mandiri, tetapi ini harus ditunjang dengan penambahan anggaran sebab jika anggaran sedikit maka tidak sesuai dengan kondisi geografis kita,” harap Leatomu. (SM-10)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!