Sekilas Info

LEGACY SAID ASSAGAFF (1); Maluku Sudah Siap Melaju

Gubernur Said Assagaff

satumalukuID - Said Assagaff akan segera mengakhiri tugas sebagai Gubernur Maluku pada 11 Maret 2019 mendatang. Dia dikenal sebagai sosok gubernur yang langka.

Pria kelahiran Ambon, 29 November 1953 ini merupakan sedikit dari pimpinan daerah di Indonesia yang pernah meniti karier melalui sederet jenjang jabatan di birokrasi pemerintahan.

“Birokrat-birokrat seangkatan saya rata-rata memang tak berani bermimpi menjadi gubernur,” kata Said saat ditemui di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Maklum, pada masa Orde Baru, sebagian besar gubernur dan bupati diangkat dari kalangan perwira tinggi militer. Sementara pada era reformasi, jabatan gubernur banyak diisi oleh para politisi dan pengusaha.

“Tapi, dari awal saya memang sudah punya mimpi untuk jadi gubernur,” kata Said sembari tertawa.

Alkisah, pada sebuah kegiatan pelatihan kepemimpinan untuk para pejabat daerah yang dilaksanakan pada 1990, Said sudah menyebut cita-citanya untuk menjadi gubernur. “Saat itu, instruktur meminta semua peserta menuliskan cita-citanya. Hanya saya dan Syahrul Yasin Limpo (yang pernah menjadi Gubernur Sulawesi Selatan, Red) yang menuliskan cita-citanya menjadi gubernur. Yang lain hanya menulis menjadi kepala dinas,” ujar Said lagi. Dan, ternyata, kedua orang itu benar-benar berhasil menjadi gubernur.

Berikut adalah petikan wawancara dengan Said Assagaff, sosok bertangan dingin yang sukses meletakkan fondasi pembangunan Maluku.

Anda seorang birokrat karier, apa yang membuat Anda tiba-tiba memutuskan untuk jadi gubernur?

Saya mengawali karier di pemerintahan pada 1980 dari bawah. Saat itu, saya diterima bekerja sebagai pegawai negeri sipil (PNS) di Pemprov Maluku dan ditempatkan di Bappeda Maluku. Boleh dibilang, kemampuan saya berkembang dan terasah di Bappeda. Karena di Bappeda juga, maka saya mampu menangkap berbagai persoalan yang ada di berbagai badan dan dinas tingkat provinsi.

Pengalaman di Bappeda itu membuat saya menjadi sangat paham terhadap masalah yang dihadapi Maluku dan dapat menetapkan strategi dan cara untuk mengembangkan Maluku agar lebih baik.

Jabatan tertinggi anda di birokrasi adalah sebagai Sekda. Apa manfaatnya saat jabatan Gubernur Maluku anda emban?

Posisi tertinggi saya di dunia birokrasi adalah saat saya menjabat menjadi Sekretaris Daerah (Sekda) Provinsi Maluku. Jabatan sebagai Sekda ini memberikan pelajaran lain. Ketika di Bappeda, saya banyak belajar untuk mengenali permasalahan yang dihadapi Maluku, lantas mencari jalan keluar terbaik untuk mengatasinya. Nah, saat menjadi Sekda, saya banyak belajar untuk mengeksekusi berbagai rencana dan konsep pembangunan wilayah.

Berbekal pengalaman panjang itu, saya pun kemudian memberanikan diri untuk mencalonkan diri menjadi wakil gubernur (2008-2013), dan kemudian mencalonkan diri menjadi gubernur (2014 hingga sekarang).

Adakah perbedaan antara menjadi pejabat birokrasi pemerintahan dengan menjadi wakil gubernur dan gubernur?

Begini. Saat di Bappeda, peran utama saya adalah membuat perencanaan. Ketika menjadi Sekda, saya mengeksekusi kebijakan gubernur dan wakil gubernur dengan tetap memperhatikan perencanaan yang dibuat oleh Bappeda. Nah, saat menjadi gubernur, saya memegang kendali pembangunan Maluku. Berbagai mimpi saya tentang Maluku yang maju bisa saya wujudkan melalui kebijakan-kebijakan saya.

Apa sih masalah utama Provinsi Maluku?

Maluku itu adalah sebuah wilayah yang sangat khas. Provinsi Maluki memiliki 1.053 pulau besar dan kecil. Total wilayah mencapai 705.645 km2. Tapi sebagian besar wilayah itu merupakan lautan. Luas daratan Maluku hanya 47.350 km2.

Pada saat saya mulai menjadi gubernur, konektivitas antarpulau di Maluku masih jauh dari memadai. Itu masalah pertama yang harus diselesaikan. Saat itu, ada pulau yang hanya dilayani dengan pelayaran atau penerbangan seminggu sekali atau dua kali saja. Akibatnya, distribusi barang dan jasa menjadi sangat lamban. Hal itu kemudian membuat harga-harga di Maluku selalu lebih mahal dibandingkan dengan daerah lain.

Karena itu, persoalan konektivitas ini kemudian kami perbaiki melalui integrasi layanan transportasi darat, laut dan udara. Sekarang, semua kabupaten telah memiliki bandara yang bisa melayani penerbangan pesawat ATR. Kami juga membangun jalan-jalan baru yang panjangnya mencapai ribuan kilometer. Pelabuhan-pelabuhan.

Bagaimana dengan keharmonisan sosial?

Itu masalah yang kedua yaitu bagaimana menjaga keharmonisan relasi sosial di kalangan masyarakat. Provinsi Maluku memiliki karakter sosial yang khas. Di Maluku, masyarakat muslim dan masyarakat yang sama banyaknya. Dua kelompok ini pernah termakan provokasi yang dilakukan oleh pihak luar.

Sejak saya menjadi gubernur, kerukunan antarkelompok masyarakat ini menjadi salah satu prioritas. Sebagai gubernur, saya harus bisa memberikan perlakuan yang sama-sama baiknya kepada semua elemen masyarakat. Karena itu, kami pun mendirikan Islamic Center, Catholic Center, Christian Center, Budhis Center, dan juga Hinduism Center.

Apakah menjadi tuan rumah event-event nasional juga bagian dari upaya membangun keharmonisan sosial?

Iya. Pemprov Maluku juga me-lead  pelaksanaan berbagai event keagamaan di wilayah Maluku. Kami pernah menyelenggarakan Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) tingkat Nasional, Pesta Paduan Suara Gerejawi (Pesparawi), dan berbagai kegiatan keagamaan lainnya. Dalam kegiatan-kegiatan ini, kami selalu berusaha untuk melibatkan semua unsur masyarakat. Masyarakat katolik terlibat dalam penyelenggaraan MTQ, masyarakat muslim pun terlibat dalam kegiatan Pesparawi.

Bahkan, saya juga meminta kepada dinas-dinas agar melakukan hal serupa saat membuat kegiatan. Kalau ada kegiatan dan ada acara tarian di dalamnya, penarinya harus mewakili minimal dua unsur masyarakat itu. Bahkan, Anda boleh tak percaya, dalam berbagai lomba qasidah, kelompok masyarakat katolik dan Kristen kerap pula mengirimkan utusan sebagai peserta. Penampilan mereka juga sangat baik.

Tentu, berbarengan dengan pelibatan semua unsur masyarakat itu, kami juga selalu menanamkan nilai tentang pentingnya stabilitas keamanan dan sosial Maluku. Kami tekankan bahwa tanpa stabilitas keamanan dan sosial, tak akan ada investasi yang masuk ke Maluku.

Karena itu, semangat untuk menjaga kerukunan antarumat itu terus kami gaungkan. Kami bahkan berencana untuk membuat sebuah permukiman multiiman. Kelak, kompleks permukiman itu akan dihuni warga muslim, Kristen, katolik, hindu, dan budha. Kementerian Agama bahkan juga sudah bersedia membangunkan tempat-tempat ibadah untuk masing-masing umat di permukiman itu.

Anda sudah melakukan peningkatan aksesabilitas dan konektivitas antarwilayah, Anda juga sudah berusaha keras untuk mewujudkan kerukunan antara warga masyarakat. Adakah dampak yang signifikan dari usaha itu?

Ada. Dua tahun lalu, Maluku selalu mengalami angka inflasi yang tinggi. Angka inflasi di Ambon sekitar 10 persen, sementara di Tual malah mencapai 15 persen. Tapi pada tahun ini, inflasi bisa ditekan menjadi sekitar 4 persen. Pada Oktober lalu, Maluku malahan sempat mengalami deflasi alias penurunan indeks harga. Rendahnya inflasi itu merupakan akibat dari makin lancarnya distribusi antardaerah di wilayah kami.

Pertumbuhan ekonomi di Maluku juga lebih tinggi dari rata-rata nasional. Diperkirakan tahun ini ekonomi Maluku sanggup tumbuh 6,34 persen. Kenapa? Karena investasi masuk. Masuknya investasi itu akhirnya membuat angka pengangguran juga ikut turun dari sekitar 9 persen menjadi 7 persen. Sekarang ini, income per kapita masyarakat Maluku sudah mencapai angka Rp23 juta per tahun. Naik tajam dari angka Rp14 juta sepuluh tahun silam.

Bagaimana Anda melihat masa depan Maluku?

Selama berbagai momentum positif itu terus dijaga, Maluku sudah siap berkembang dengan sangat cepat. Saya berharap, semua sektor akan terus mencatat kemajuan di masa depan. Infrastruktur di Maluku memang masih harus terus dikembangkan. Tetapi dengan yang ada pada saat ini pun, Maluku sudah siap melaju. (*)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!