Sekilas Info

Aparat Swiping Handak dan Senpi di Latu-Hualoy Seram Bagian Barat

satumalukuID - Aparat gabungan dari Polda, Maluku, Polres Ambon serta Malteng dibantu TNI-AD akan melakukan razia bahan peledak (handak), senjata tajam (sajam) dan senjata api (senpi) di Desa Latu dan Hualoy Kecamatan Amalatu, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).

Hal Ini dilakukan untuk memastikan tak terulang lagi bentrok yang menewaskan dua warga ini.

Untuk diketahui, dalam konflik itu, Jubair Riring (30) tertembak di bagian dada kanan hingga tewas. Selain itu, Taher Pellu (58) meninggal dunia setelah ditembak di depan SD 1 dan 2 Hualoy. Hamdan Patty (37) terkena letusan bom rakitan di tangan kanan serta Tahir Patty luka tembak pada perut.

Selain korban jiwa, akibat dari bentrok dua kampung bersaudara itu membuat 1 Unit Gedung SD Negeri 1 Hualoy, SD Negeri 2 Hualoy, 2 unit Perumahan Guru dan 1 unit gedung SMP Negeri 11 Kairatu hangyus terbakar akibat ledakan bom rakitan.

Selain itu, rumah milik Hambah Manuputy, Mansur Manuputy, Mansun Manuputy, juga terkena imbas amukan warga.

Aparat keamanan belum merilis resmi jenis senjata api yang dipakai dua kelompok massa dalam konflik tersebut.

Namun informasi yang dihimpun, senjata yang dipakai dalam konflik dua desa bertetangga itu menggunakan senjata api organik. Senjata itu berasal dari sisa konflik maupun dari luar Maluku.

“Kita akan lakukan razia. Baiknya juga, masyarakat bisa punya niat baik untuk menyerahkan” kata Kapolres SBB, AKBP. Agus Setiawan saat dikonfirmasi soal senjata yang beredar di tangan masyarakat dan dipakai dalam konflik Hualoy-Latu.

Menurutnya, swiping akan dilakukan untuk mencegah tindakan-tindakan kriminal yang akan terjadi di kedua desa nanti.

“Saat ini kondisi sudah kondusif. Kami juga harapkan, masyarakat dengan senang hati dapat menyerahkan senjata atau bom yang disimpannya. Kita terus tingkatkan keamanan di sana,” jelas dia.

Saat ini, aparat keamanan masih tetap berada di TKP, untuk terus memastikan keamanan di kedua desa itu tetap stabil.

“Sampai saat ini, anggota masih terus berjaga di sana. Kami jamin, tidak ada lagi persoalan. Kami harapkan juga masyarakat tidak terprovokasi,” singkatnya via telphon selulernya.

Konflik yang terjadi antara Desa Latu dan Hualoy akibat dari penanganan kasus pengeroyokan warga Hualoy di kawasan STAIN, Kecamatan Sirimau, Ambon akhir Dsember 2018 lalu lamban.

Penganiayaan diduga dilakukan oleh oknum warga Latu. Berawal dari akhir tahun 2018 dan awal 2019. Kemudian merembet ke kedua desa.

Wakapolres Ambon, Kompol Ferry Mulayana juga ikut menyuarakan perdamaian di sana.

Menurut dia, proses penanganan kasus penganiayaan terhadap warga Hualoy saat ini maish dalam proses penyeldikan dan akan dituntaskan.

“Serahkan kepada kami, saat ini sudah ada dua pelaku yang dikantongi. Namun, masih penyeldikan. Oleh karena itu, saya berharap, masyarakt tidak terprovokasi dan terus meningkatkan keamanan di sana. Jangan terpancing, percayakan kepada polisi,” tegas Ferry. (MG-01)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!