Sekilas Info

Ada Perbedaan Asesmen Hukum, Kepala BNN Provinsi Maluku Diajukan Jadi Saksi Kasus Narkoba

Kepala BNNP Maluku Brigjen Pol Aris Purnomo

satumalukuID - Kepala BNNP Maluku, Brigjen Pol Aris Purnomo menjadi saksi atas terdakwa kasus tindak pidana narkoba, Lauwrens Syaranamual akibat adanya perbedaan asesmen hukum oleh polisi dan medis dari BNNP.

"Yang namanya asesmen medis dari BNN diberikan bila ada permintaan dari penyidik Polri," kata Aris Purnomo di Ambon, Kamis.

Penjelasan Ariss Purnomo disampaikan dalam persidangan dipimpin ketua majeis hakim PN Ambon, Esau Yarisetou didampingi Syamsudin La Hasan dan Ronny Felix Wuisan selaku hakim anggota.

Majelis hakim menyatakan, pengalaman persidangan selama ini banyak terdakwa yang sesuai fakta persidangan terbukti sebagai pengguna narkoba namun tidak mendapatkan asesmen dari BNN sehingga situasi ini sangat membingunkan.

BNNP Maluku juga diminta lebih meningkatkan pengawasan terhadap setiap paket barang yang masuk ke Maluku baik melalui kantor Pos dan Giro atau perusahaan jasa pengiriman barang.

Kepala BNNP Maluku menjelaskan, sebetulnya waktu permasalahan terdakwa Lauwrens Syaranamual sudah dibahas bersama antara BNNP dengan penyidik Polres dan dilihat dari sudut pandang masing-masing, baik dari segi medis maupun segi hukumnya bagaimana.

"Namun fakta persidangan berbeda sehingga kami dari BNNP maupun satu anggota Ditresnakorba Polda Maluku hadir sebagai saksi, dan ini hanya merupakan sebuah rekomendasi dari BNN berupa asesmen dari tim," ujarnya.

Kalau dari segi hukum dilihat terdakwa sering pulang dan bawa narkoba dari Jakarta, dan mereka rata-rata sebagai pengedar atau pemain yang diduga berstatus bandar umumnya pernah tinggal dan bolak-balik Jakarta.

"Akhirnya kita menarik kesimpulan bahwa dia merupakan bagian dari sindikat pengedar narkoba namun ternyata di persidangan berbeda, jadi itu terserah majelis hakim yang menilai," kata Aris Purnomo.

Terdakwa merupakan pengedar sesuai asesmen dari BNNP karena punya niat memberi atau mengajak orang lain, tetapi ternyata di fakta persidangan berbeda dimana majelis hakim menilai bahwa dia mungkin hanya sebatas pemakai.

"Ya sudah, kita serahkan kepada majelis hakim dan bisa saja sekarang tersangka saat diperiksa polisi sudah cukup bukti namun di persidangan bisa bebas, kan bisa saja seperti itu," tandasnya.

Barang bukti kebanyakan dibawa dari Jakarta dan contohnya GT atau NRB pernah tinggal di sana.

Terkait saran majelis hakim agar diperketat pengawasan, Aris Purnomo mengatakan pihaknya sekarang akan mengupayakan dan rencana tahun ini akan mendapatkan bantuan anjing pelacak yang dimanfaatkan untuk melakukan deteksi.

"Memang ini salah satu kesulitan kita dan peralatan masih terbatas tetapi kita tetap bekerja maksimal untuk mengungkap kejahatan narkoba," katanya.

Terdakwa Lauwrens ditangkap Satresnarkoba Polres Pulau Ambon dan PP Lease pada akhir 2018 lalu saat memasuki sebuah hotel dan berniat menikmati sabu dengan seorang wanita bernama grace.

Barang bukti yang disita dari tangan terdakwa adalah narkotika golongan satu bukan tanaman jenis sabu seberat 0,337 gram yang dibeli dari seseorang di Jakarta bernama Shelvy sopacua seharga Rp1,3 juta.

Terdakwa dijerat melanggar pasal 112 dan pasal 127 Undang-Undang RI nomor 35 tahun 2009 tentang narkotika. (Daniel Leonard/ant)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!