Sekilas Info

Sulitnya Mengungkap Aktor Pemasok Narkoba di Maluku

satumalukuID - Bisnis narkoba, baik dalam bentuk golongan satu jenis tanaman seperti ganja maupun sabu-sabu yang bukan tanaman hingga eksaci, memang sangat menggiurkan, sebab cepat mendatangkan uang dan peredarannya dilakukan secara tersembunyi.

Meski diancam dengan hukuman penjara baik terhadap pengguna hingga penyuplai atau pengedar, namun orang masih tetap nekad menggunakan narkoba sebagai jalan keluar mencari keuntungan dan kesenangan.

Direktur Resnarkoba Polda Maluku, Kombes Pol Thein Tabero mengatakan, pihaknya menangani 140 kasus narkoba selama tahun 2018 dengan jumlah barang bukti yang disita berupa sabu-sabu sebanyak 133,7396 gram, ganja 774,0322 gram, sintetis 10,8019 gram, ditambah 150 butir obat PCC.

Pada 29 Januari 2019, dua oknum pegawai honorer pada salah satu kantor BUMN berinisial AWT (28) dan rekannya AA (33) kembali diringkus Ditresnarkoba karena kedapatan menyimpan atau memiliki narkotika golongan satu bukan tanaman jenis sabu-sabu.

Pekan sebelumnya, polisi juga meringkus sembilan pelaku pemilik dan pengguna narkoba lainnya dari beberapa tempat di Kota Ambon, dan salah satunya adalah caleg asal Kabupaten Maluku Tenggara Barat berinisial WYA.

Selain itu, polisi juga menciduk seorang wanita berinisial ACL (32) yang berstatus sebagai ASN di lingkup Pemprov Maluku bersama pacarnya ZF (32), ditambah seorang mahasiswi berinisial CLS bersama lima tersangka lainnya.

Kepala BNN Provinsi Maluku, M.A. Purnomo juga mengatakan, pihaknya berhasil mengungkap kasus narkoba selama tahun 2018 sebanyak 14 kasus dan ada 17 tersangka didalamnya yang diduga merupakan jaringan nasional dengan barang bukti berupa 5,82 gram ganja dan 21,23 gram sabu-sabu.

Sedangkan mantan Kepala BNNP Maluku, Brigjen Pol Rusno Prihardito pada acara hari anti narkoba internasional 12 Juli 2018 mengatakan, hasil survei tahun 2017 menempatkan Maluku pada urutan ke-24 dari 34 provinsi di Indonesia untuk kasus perederan gelap dan penggunaan narkoba.

Jumlah pengguna narkoba mencapai 1,59 persen atau 18.953 orang sehingga BNNP bersama Polda Maluku dan seluruh jajaran polres telah melaksankan tugas pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan peredaran gelap narkoba (P4GN).

Sedikitnya ada 70 kasus dengan 79 tersangka yang diungkap BNNP bersama polda Maluku, dan para pelaku ini memiliki latar belakang berbeda-beda seperti dosen, ASN, mahasiswa, ibu rumah tangga, PSK, tukang ojek, hingga pelajar SMA dan SMP.

Salah satu pelaku yang diringkus setelah beberapa tahun menjadi target BNNP adalah Geritz Tomatala, salah satu pengedar narkotika yang masuk jaringan Kampung Ambon di Jakarta.

Geritz ditangkap pada 23 Oktober 2017 lalu pada salah hotel di kawasan Desa Suli, Kecamatan Sirimau (Kota Ambon), Kabupaten Maluku Tengah setelah dua tahun dicari polisi karena statusnya sebagai bandar besar.

Dua hari setelah Geritz diringkus, polisi melakukan pengembangan pemeriksaan dan membongkar jaringan pengedar narkoba di bawah komando Gerits, masing-masing Dian Nikijuluw, Cornelis Kainama dan Dino Kainama.

Tiga pelaku ini masih menjalani proses persidangan di PN Ambon dalam berkas terpisah.

Barang bukti yang didapatkan dari tangan ketiga pelaku adalah 45 paket sabu-sabu yang rencananya akan diantarkan kepada para pemesan, sebuah brankas kecil, alat timbangan, kartu ATM, HP, buku tabungan, satu unit mobil dan tiga unit sepeda motor yang digunakan untuk beroperasi.

Meski pun termasuk licin karena sulit ditangkap bersama jaringannya di Kota Ambon, namun Gerits hanya dituntut tujuh tahun penjara oleh JPU Kejati Maluku Awaludin dan akhirnya divonis lima tahun penjara oleh majelis hakim PN Ambon.

Hukuman Gerits malahan lebih ringan dari Meggy Tamaela (31), terdakwa pembawa sepuluh paket ganja dari Sorong, Papua Barat dan tertangkap di Kota Ambon pada tanggal 11 Juni 2018.

Rehabilitasi Kapolres Pulau Ambon dan Pulau-Pulau Lease, AKBP Sutrisno Hadi Santoso mengajak masyarakat untuk tidak ragu melaporkan anggota keluarganya sebagai pengguna narkoba kepada Polri agar bisa disertakan dalam program rehabilitasi guna menghilangkan ketergantungan akan narkoba.

Ketika seseorang sudah tertangkap polisi maka otomatis diberlakukan tindak pidana, tetapi apabila keluarganya melapor ke Polri atau BNN agar pemakai narkoba direhabilitas sebelum ada penangkapan, maka proses rehabilitasi akan dilakukan.

Di sisi lain, tidak semua pengguna narkotika yang ditahan selalu berujung di pengadilan.

Bagi mereka yang sudah menjadi pengguna narkoba bila tertangkap Badan Narkotika Nasional tidak selamanya diproses hukum sampai di pengadilan, tetapi masih ada peluang mengikuti rehabilitasi.

Harapan Polri memang seperti itu juga, karena pemakai narkoba ini umumnya korban dari sebuah kejahatan besar yang menghancurkan hidup generasi muda.

"Makanya kami mengimbau masyarakat bila anggota keluarganya ada yang memakai narkoba lebih bagus dilaporkan, kami akan rehab dan bukan tindak pidana atau dijebloskan ke penjara. Jangan takut untuk melapor," tegas Kapolres.

Ironisnya, ada oknum pelaku pengedar yang meski sudah mendekam di dalam lembaga pemasyarakatan mulai dari kota-kota besar hingga kota kecil seperti Ambon misalnya, masih saja ditemukan kegiatan transaksi narkoba melalui telepon genggam.

Padahal Kemenkum HAM telah membuat aturan super ketat agar para napi tidak membawa masuk telepon genggam ke dalam LP dan pengunjung juga diperiksa secara ketat, namun fakta persidangan terhadap pelaku pengguna narkoba berkata lain.

Lihat saja terdakwa narkoba atas nama Michael Makatitta alias Mickey (34), seorang mantan terpidana kasus narkoba kembali menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Ambon karena tertangkap menjual narkotika golongan satu bukan tanaman kepada informan polisi.

Dalam persidangan yang dipimpin ketua majelis hakim PN Ambon, Pasti Tarigan didampingi Esau Yarisetou dan Ronny Felix Wuisan selaku hakim anggota pada 9 Januari 2019, terungkap dalam BAP kalau Mickey membeli tiga paket sabu seharga Rp1,5 juta dari Deny Laisina yang sementara berada di LP Nania Ambon.

Transaksinya melalui telepon genggam lalu uangnya ditransfer ke salah satu rekening bank kemudian barangnya diambil dari orang lain yang merupakan kaki tangan Deny.

Dalam proses persidangan, terungkap narkotika golongan satu bukan tanaman jenis sabu-sabu lebih dominan didatangkan dari Jakarta, Surabaya, atau Makassar menggunakan jasa perusahaan penitipan barang, atau pelakunya membawa langsung melalui kapal laut maupun pesawat terbang.

Sedangkan untuk narkotika golongan satu jenis ganja yang masuk dan beredar di Maluku lebih banyak berasal dari Papua.

Namun siapa aktor pengirim barangnya selalu tidak terungkap secara jelas dan terang-benderang di persidangan.

Tentu semua pihak lebih menginginkan penuntasan narkoba dengan pengungkapan siapa aktor utama pelaku pengirim barang terlarang tersebut.

Meski sulit menemukan aktor utama pemasok narkoba namun masyarakat tentu masih berharap bahwa penanganan yang komprehensif dari aparat keamanan akan mampu mengungkapnya. (Daniel Leonard/ant)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!