Sekilas Info

Maluku Badonci Music School Siap Asah Talenta Anak Maluku

Musisi Harry Leiwakabessy dan Minggus Tahitoe

satumalukuID - Ambon kota yang masih merintis jalan menjadi Kota Musik Dunia, kini boleh sedikit berbangga, dengan hadirnya Maluku Badonci Music School. Kehadiran sekolah musik ini, bisa menjadi salah satu indikator yang ikut mengantarkan Ambon memperoleh pengakuan sebagai Kota Musik Dunia.

Pimpinan Maluku Badonci Music School, Harry Leiwakabessy menjelaskan, sekolah yang berada di bawah naungan Yayasan Simponi Maluku Indonesia ini, hadir sebagai wadah untuk mengembangkan bakat atau talenta yang dimiliki oleh anak-anak Maluku.

Ia akui, secara tidak langsung memang kehadiran sekolah musik ini bisa menjadi pendukung perjuangan Ambon menjadi Kota Musik Dunia, tapi lebih dari itu, kehadiran Maluku Badonci Music School, lebih pada rasa tanggung jawab sebagai musisi senior yang tidak ingin melihat bakat anak-anak Maluku tenggelam karena tidak ada wadah atau sarana dan prasarana yang mendukung.

Harry pun mengisahkan cikal bakal sampai sekolah musik ini bisa diwujudkan. Semuanya berawal saat pertemuan dirinya dengan Pak Bib (Gubernur Maluku Said Assagaff-red), bersama seorang teman yakni Dino Umasangadji. Dalam pertemuan itu , beliau isyaratkan bagaimana supaya bisa ada sebuah sekolah musik di Ambon.

Sebenarnya ini adalah ide lama kami, yang tak kunjung kesampaian karena tidak tahu harus berbicara kepada siapa. Nah, dengan adanya bola seperti ini dari Gubernur, akhirnya ide lama itu dimatangkan kembali, bersama juga dengan musisi senior Maluku lainnya yakni Minggus Tahitoe. Setelah dimatangkan ide tersebut, disampaikan kepada Gubernur dan disambut baik.

"Rupanya, beliau juga sependapat dengan kami bahwa kenapa harus ada sekolah musik, karena hanya dengan talenta saja tidak akan cukup jika tidak ditunjang dengan penddikan yang memadai,’’ tutur Harry, Rabu (30/1) di Ambon.

Diakuinya, orang Ambon banyak sekali yang memiliki talenta bermusik, dan jika didukung dengan belajar musik yang benar, maka pasti akan bisa bermain musik dengan siapa saja dan dimana saja.

‘’Jadi, kami berpikir, alangkah berdosanya kami sebagai musisi yang sudah senior, lalu hanya membiarkan Maluku ini kedepan dengan asset-aset yang ada tanpa dibekali dengan pendidikan yang baik. Ini lah yang menjadi dasar pemikiran kami, bagaimana ada sebuah tanda mata atau karya dari kami untuk memajukan anak-anak Maluku dibidang musik,’’ katanya.

Akhirnya, setelah berproses selama setahun, Maluku Badonci Music School pun bisa terwujud dan telah dilaunching pada November 2018 lalu. Dipastikan, Jumat (1/2) besok, sekolah musik ini akan mulai beroperasi dengan kelas perdana sebanyak 15 siswa yang akan belajar alat musik Piano.

‘’Kenapa piano? Karena piano adalah alat musik basic. Nanti kita lihat perkembangan ke depan, kalau animo masyarakat tinggi, maka kedepan kami akan kembangkan juga dengan instrument yang lain," jelasnya.

Untuk sementara, masih membatasi sebanyak 40 siswa, dengan membuka kelas perdana bagi 15 orang. Setelah itu sekitar bulan Maret baru akan dilakukan penerimaan lagi. "Kami juga membangun sekolah ini dengan kultur, nuansa dan karakter orang Ambon,’’ jelasnya.

Dalam operasinya, Maluku Badonci Music School berkolaborasi dengan Venche Music School (VMS) Bandung. VMS ini lah yang kemudian memberikan rekomendasi kepada Maluku Badonci Music School , terkait dengan tenaga pengajar yang akan mengajar pada siswanya. Dan nantinya, para siswa Maluku Badonci Music School akan diajar tenaga-tenaga professional yang merupakan guru piano lulusan sekolah musik di Jogja. Maluku Badonci Music School berlokasi di Lantai 4 gedung Kantor Telkom Talake Ambon. Para siswa yang akan belajar, berusia rata-rata 8 tahun ke atas.

‘’Mereka akan belajar dari nol, dan kita lihat perkembangannya ke depan, kalau bagus, maka mereka bisa naik level. Nantinya juga akan ada ujian serta pekerjaan rumah agar mereka bisa makin mengasah kemampuannya,’ tandasnya.

Bahagia sekaligus bangga bisa menghadirkan sebuah sekolah musik di Ambon, menurut Harry dirinya bersama rekan-rekannya punya tujuan sederhana, yakni memberdayakan anak-anak Maluku. ‘Dari yang tidak pernah mencicipi pelajaran musik di sekolah, sekarang bisa menikmatinya.

"Kalau dulu, mungkin orang masih memandang sebelah mata tentang masa depan seorang musisi, tapi sekarang, dari musik pun orang bisa memiliki masa depan yang gemilang. Kalau istilahnya orang mencari pekerjaan, tapi dengan musik, orang menciptakan pekerjaan bagi dirinya sendiri,’’ujarnya.

INDUSTRI KREATIF

Sementara itu, musisi senior Minggus Tahitoe mengatakan, musik adalah industri kreatif yang juga membawa dampak untuk peningkatan ekonomi. ‘’Tapi untuk hal ini, kita belum bisa bicara terlalu banyak sekarang karena kita baru akan memulai. Tapi kami yakin, kehadiran Maluku Badonci Music School ini akan menjanjikan bagi perkembangan musik di Maluku khususnya Kota Ambon,’’ katanya.

Menyinggung tentang Kota Ambon yang sedang berjuang mendapatkan pengakuan sebagai Kota Musik Dunia, Suami almarhum Diana Nasution ini katakan bahwa untuk menjadi kota musik dunia, bukan berarti bahwa harus sering-sering bepergian untuk melakukan sesuatu diluar, tapi bagaimana kita melakukan sesuatu disini, bagaimana kita membuat terobosan di bidang musik, supaya dunia bisa melihat. Supaya orang melihat dan tahu, musik di Maluku ini bagaimana.

‘’Kehadiran Maluku Badonci Music School ini adalah salah satunya dan bahkan bila perlu, sekolah musik harus menjamur disini ,’’ ujarnya.

Hal lain yang juga perlu dilakukan, lanjutnya, adalah membuat even musik yang belum ada di daerah lain. Ia mencontohkan, dalam setahun bisa dilakukan dua kali kegiatan bermusik, misalnya pada Bulan Desember bisa dicanangkan sebagai bulan Natal, kemudian mulai tanggal 1 hingga 31 Desember, setiap hari harus ada even musik di setiap sudut kota.

Begitu juga saat tiba Bulan Ramadhan, bisa dibuat even musik setiap hari di berbagai sudut kota, tapi khusuanya adalah musik Qasidah yang bisa dimainkan setiap menjelang berbuka puasa.

‘’Jadi, orang sambil menunggu buka Puasa, bisa menikmati tampilan musik Qasidah dimana saja. Dan ini juga harus berlangsung selama sebulan penuh. Hal ini belum pernah dilakukan di daerah lain dan kalau bisa dibuat di Ambon, pasti akan sangat menarik dan makin menggaungkan Ambon sebagai City of Music,’’ katanya.

Khusus untuk Desember, tambahnya, memang ada even Christmas Carol, tapi dua hari saja tidak cukup. (Febby Kaihatu)

Penulis:

Baca Juga

error: Content is protected !!